RSS

USHUL FIQH

10 Apr

1. TAMHIED

(oleh Abdul-Qadir Hassan)

(4) USHUL FIQIH

Ushul Fiqih itu, adalah satu ‘ilmu yang dengannya dapat ditentukan sesuatu hukum bagi sesuatu masalah, dan kita dapat mengeluarkan masalah-masalah yang tidak tegas bersama hukumnya, dan dengannya pula dapat didudukkan sesuatu masalah pada tempatnya, dan lain-lain sebagainya.

Disini akan saya bawakan beberapa fashal yang berhubung dengan ‘ilmu USHUL FIQIH itu :

1. PENDAPAT BUKAN POKOK.

Dalam menghukum sesuatu masalah, sering terdapat orang mendasarkan hukumnya itu atas pendapatnya semata-mata.

Hendaklah diketahui bahwa „pendapat” semata-mata itu bukan Agama, sedang yang dikatakan Agama adalah Quran dan Hadiets.

Maka tidaklah dapat „semata-mata pendapat” itu dijadikan alasan atau pokok untuk menentukan sesuatu hukum Agama.

„Pendapat” boleh dipakai, sebagai „penguat” bagi yang sudah ada.

2. FIKIRAN DAN PERASAAN.

Sebagaimana „semata­mata pendapat”, maka demikian pula „semata-mata fikiran” dan „semata-mata perasaan”, tidak dapat dijadikan pokok alasan, karena kedua-duanya ini bukan Agama.

3. MASALAH KHILAFIYAH.

Masalah khilafiyah maksudnya : masalah yang diperselisihkan.

Sering kita mendengar orang mengatakan „ini masalah khilafiyah”, „itu masalah khilafiyah”. Dengan kata-kata „khilafiyah” ini mereka maksudkan bahwa satu masalah, umpama ,,tahlilan” yang biasa mereka lakukan sesudah ada kematian, kalau ada yang mengatakan bahwa perbuatan itu „bid’ah”, dan ada yang berpendirian bahwa perbuatan itu satu ‘amal yang baik, maka menurut mereka kedua-dua pendapat itu boleh dipakai. Berarti “boleh ” tahlilan, dan „ tidak boleh ” tahlilan. Berarti pula bahwa tahlilan itu mempunyai dua hukum

(1) hukum halal dan

(2) hukum haram.

Berarti lagi Agama kita „membolehkan” dan „melarang” tahlilan.

Dua-dua pendapat itu nyata-nyata bertentangan. Tidak mungkin Agama yang suci itu membenarkan kedua-duanya. Mesti salah satunya benar, dan yang satunya salah.

Mudah-mudahan Agama kita yang suci bersih itu tidak segila itu memberi hukum.

Kalau ada satu masalah yang kita perselisihkan hukum­nya, bukanlah masalah itu yang berselisih, tetapi kita manusia yang menimbulkannya. Kalau demikian mestinya diusahakan mencari mana yang kuat dari antara dua pendapat itu. Yang kuat itulah yang harus diterima dan dipakai.

4. IJ-TIHAAD.

Lazim terpakai dalam ish-thilah ahli ushul dengan ma’na : Mengorbankan kemampuan yang ada pada seseorang untuk mengetahui sesuatu hukum Syara’ dengan jalan is-tin-bath.

Kalau kita perhatikan hukum-hukum Agama yang sudah ada dan Qa’idah-qa’idah untuk menentukan hukum-hukum Agama yang didasarkan kepada Quran dan Hadiets Shahieh, kiranya cukuplah sudah untuk menentukan sesuatu huhum bagi sesuatu masalah dalam Agama kita, dengan tidak perlu bersusah payah sebagaimana yang dikehendaki oleh ta’rief tersebut di atas.

Agama kita menentukan bahwa s e m u a macam ‘amalan (‘ibadat) yang tidak ada kebenarannya dari Allah atau Rasul, tertolak, tidak boleh dipakai.

Agama menentukan bahwa pada ashalnya s e m u a benda dan hal keduniaan. boleh dipakai, diterima dan dikerjakan.

Maka apabila ada sesuatu persoalan, tinggal kita meaentu­kan apakah soal itu masuk bagian’ibadat atau keduniaan. Kalau soal itu masuk bagian ‘ibadat, kita periksa : adakah diperintah oleh Allah dan Rasul-Nya atau tidak. Kalau tidak ada perintahnya, tertolaklah dia, tidak boleh dipakai, tidak boleh diamalkan. Kalau ada perintahnya. boleh kita `amalkan dia, lalu diperiksa: apakah ‘amal itu mempunyai hukum „wajib” atau „sunnat”.

Sebaliknya pula, kalau hal itu berkenaan dengan keduniaan, kita periksa : apakah hal itu diperintah atau dilarang. Sesudah mendapat ketentuan “diperintah” atau “dilarang”. lalu kita periksa pula hukumnya : wajib atau jaiz, haram atau makruh.

Demikianlah selanjutnya.

Mungkin diantara persoalan-persoalan yang kita hadapi itu. ada yang samar-samar atau tampaknya ada persamaan dengan hal-hal yang sudah ada dalam Agama ; maka disitulah baru ada ij-tihad seperti yang tersebut dalam ta’rief dialas. Persoalan yang sama-samar ini kiranya tidak begitu banyak, asal pandai kita mendudukkannya.

Diantara hamba-hamba Allah. ada yang apabila sudah terdesak dalam satu-satu masalah dan sudah tidak mempunyai alasan yang kuat lalu berkata : “Ini ij-tihad saya, benar atau salah tetap saya mendapat ganjaran” Begitu juga orang yang lebih banyak menggunakan perasaan dan fikirannya, apabila ada sesuatiu hukum Agama yang ia masih berat menerimanya. lalu menggunakan “ij-tihadnya”. sehingga sesuai dengan kemauannya, perasaan dan fikirannya ; kalau sudah terdesak dan ditanyakan alasannya atas pendapatnya itu, sering mengucapkan kata-kata seperti tersebut. Dan dengan demikian. mereka merasa bahwa mereka dalam kebenaran.

Kepada saudara-saudara yang berpendirian seperti tersebut, saya harap suka menimbang lebih jauh sehingga tidak mempermudah soal ij-tihad itu.

5. QIAAS.

Maksudnya satu perkara atau benda atau perbuatan yang tidak dinyatakan oleh Agama hukumnya, tetapi ada persamaan sifat dan sebabnya dengan yang sudah diterangkan oleh Agama, maka ia diberi hukum sama dengan yang sudah diterangkan oleh Agama itu.

‘Ulama-ulama yang menganggap Qias itu aebagai dasar Agama, ada membuat beberapa ketentuan dan syarath untuk menjalankan Qias itu. Kuena banyak mengqias, maka Banyaklah timbul hukum-hukum bagi beberapa banyak benda, perkara, perbuatan dan sebagainya yang tadinya sama sekali tidak ada dalam Agama kita

Orang yang sungguh-sungguh memperhatikan hukum-hukum Agama dan Qa’idah-qa’idah yang ada di dalamnya, kiranya tidak membutuhkan kepada aturan dan cara-cara Qias yang membingungkan, yang diada-adakan oleh ‘ulama-‘ulama itu.

6. IJ-MAA’.

Maksudnya : Persetujuan ‘ulama dalam sesuatu hal.

ljma’ ada dua :

(1) Ijma’ dari shahabat Nabi s.a.w. dan

(2) Ijma’ dari ‘ulama Islam.

Ijma’ dari shahabat-shahabat Nabi s.a.w., baik dalam soal ke-Agamaan atau keduniaan, kita terima dengan kepercayaan bahwa persetujuan mereka itu ada sandarannya dari Nabi s.a.w., sekalipun sandaran itu tidak sampai kepada kita.

Ijma’ dari ‘ulama pula dapat dibagi dua :

(1) ada ijma’ mereka yang berdasar Quran atau Hadiets Shahieh, dan

(2) ada yang berdasarkan atas pertimbangan, pendapat atau faham mereka.

Ijma’ ulama yang didasarkan atas Quran dan Hadiets itu, sebenarnya tidak perlu diperbincangkan, karena kalau memang benar dari Quran dan Hadiets, sudah menjadi kewajiban kita untuk menerimanya.

Tetapi kalau ljma’ itu didasarkan kepada pertimbangan, pendapat atau faham semata-mata, maka itu semua b e l u m tentu benar. Kalau demikian, maka kita tidak berkewajiban menerimanya, terutama pula kalau persoalan yang mereka Ijma’ kan itu, masalah-masalah ‘ibadat.

Karena itu, ijma’ dari ‘ulama tidaklah menjadi dasar bagi Agama kita.

Kalau ada yang berkata, bahwa kita wajib menurut ijma’ ‘ulama demi untuk menjaga atau mendapatkan persatuan ummat, maka orang lain berhak bertanya : “Apakah kita wajib juga menurut ijma’ ‘ulama walaupun ijma’ itu salah ?”

Apakah kita harus berbuat salah, karena akan memelihara persatuan ? Apakah luta harus membiarkan kesalahan itu terus berjalan untuk menjaga persatuan ? ? ?

Mudah-mudahan Allah jauhkan kita dari pendirian dan fikiran yang berbahaya ini.

7. JAMA’, TARJIEH. TAWAQQUF.

Jama’ maksudnya : mengumpulkan dua atau beberapa keterangan Agama yang tampaknya bertengangan, lalu didudukkan masing-masing pada tempatnya, sehingga keterangan-keterangan itu semua dapat dipakai.

Tarjieh maksudnya : memilih dari antara dua atau bebe­rapa keterangan Agama yang sudah tidak mampu kita menjama’­nya mana dari antara keterangan-keterangan itu yang t e r k u a t. Yang terkuat itulah yang kila pakai sebagai alasan.

Tawaqquf maksudnya : tidak dipakai dua atau beberapa keterangan Agama yang tidak dapat dijama’ dan ditarjiehkan. Diantara keterangan-keterangan Agama kalau ada yang kita ang­gap berlawanan. pertama sekali kita lakukan cara menjama’. Kalau tarjieh inipun tidak dapat, maka hendaklah kita Tawaqquf, yaitu kita biarkan keterangan itu, yakni semuanya itu tidak di­pakat.

Orang yang teliti memeriksa keterangan-keterangaa Agama, akan mengetahui bahwa Tarjieh dan Tawaqquf itu, hanya terdapat pada beberapa Hadiets saja, tidak banyak.

Jalan Jama’ itu, terdapat pada ayat-ayat Quran dan juga Hadiets-hadiets. Jalan Tarjteh itu hanya ada pada Hadiets saja ; ayat-ayat Quran sama sekali tidak ada yang perlu ditarjieh, karena ayat-ayat Quran semua sama kuatnya. Tawaqqut itu hanya ada pada Hadiets ; tidak mungkin ada pada ayat-ayat Quran.

Menjama’ keterangan-keterangan Agama itu, hendaklah kita lakukan dengan dasar-dasar keterangan lain. Janganlah „fikiran” atau „perasaan” kita jadikan dasar.

Keterangan harus kita kembalikan kepada keterangan pula. Dalam hal ini, kita tidak dapat terlepas dari fikiran, tetapi fikiran ini hanya merupakan pembantu.

8. CARA MENGAMBIL HUKUM.

Untuk menentukan hukum bagi sesuatu masalah : apakah wajib, sunnat, haram, makruh atau mubah, sedikit-banyak perlu dipelajari ‘ILMU USHUL FIQH. Sebagai contoh :

a. kita dapat satu Hadiets yang berbunyi :

Artinya : Nahi s.a w.. bersabda : Berwudlu’lah sesudah (makan) sesuatu yang disentuh oleh api (= daging).

b. Kalau Hadiets itu akan kita jadikan pembicaraan, hendaklah lebih dahulu kita periksa siapa yang meriwayatkanya. Kita dapati bahwa Hadiets itu diriwayatkan oleh Muslim (1 : 134). Juga ada diriwayatkan oleh ahli Hadiets yang lain, seperti Imam Ahmad dan Nasa-y.

c. Sesudah itu, kita periksa pula : shahkah Hadiets itu atau tidak ? Terdapat bahwa Hadiets itu shah, terutama pula dia diriwayatkan oleh Imam Muslim.

d. Lalu baru kita perbincangkan tentang „hukum” yang ada dalam Hadiets itu. Dalam Hadiets itu ada „perintah” berwudlu’. Tiap-tiap perintah Agama pada asalnya „wajib”. Menurut ketentuan ini, maka w a j i b berwudlu’ sesudah makan daging.

e. Sesudah itu kita mencari keterangan lain. Terdapat ada riwayat begini :

Artinya : Dan Ibnu ‘Abbas, bahwa Nabi s.a.w. pernah makan yang ada pada tulang atau daging, kemudian Nabi s.a.w. shalat dengan t i d a k berwudlu’, atau tidak menyentuh air.

(Shahieh riwayat Muslira 1 : 134)

Di atas tadi diperintah „berwudlu’, tetapi dalam hadiets ini, dikatakan bahwa „Nabi s.a.w. tidak berwudlu’. Ini menunjukkan Dahwa berwudlu’ sesudah makan daging itu TIDAK WAJIB. Ka­lau „tidak wajib” berarti „sunnat” berwudlu’. Maka hadiets ini sebagai satu keterangan yang merobah hukum „wajib” tersebut dipermulaan, menjadi hukum „sunnat”.

f. Kita lanjutkan pemeriksaan. Melihat Hadiets riwayat Ibnu ‘Abbas yang menyatakan bahwa „Nabi s.a.w. tidak Berwudlu’ sesudah makan daging” itu, dapatlah kita mengambil ketentuan bahwa „makan daging” itu, t i d a k membathalkan wudlu’. Berdasar kepada ini, maka dalam soal makan daging itu, tidak perlu ada pembicaraan „wudlu’ ” seperti yang kita ketahui.

Maka perintah „berwudlu’lah” dalam Hadiets pertama itu, bukanlah dengan arti wudlu’ yang sudah ma’lum, yaitu cuci muka, cuci tangan, cuci kaki dan usap kepala, tetapi dengan arti „cucilah” atau „basuhlah”, yakni „basuhlah” kedua tangan dan mulut kamu sesudah makan daging”.

Kita memakai arti “basuhlah” menurut bahasa itu, lebih kena daripada memakai arli “wudlu” menurut yang terpakai dalam Syara’.

9. QA’IDAH-QA’IDAH FIQIH.

Untuk menentukan kedudu­kan dan hukum bagi sesuatu masalah secara ‘umum, selain dari ‘ilmu Ushul Fiqih, perlu juga kita mengetahui beberapa Qa’idah yang disebut QA’IDAH-QA’IDAH FIQHIYAH.

‘Ulama mengadakan Qa’idah-qa’idah Fiqhiyah ini, sebagian besarnya didasarkan kepada keterangan-keterangan Agama dari ayat-ayat Quran dan Hadtets-hadiets Nabi s.a.w.

Diantara Qa’idah qa’idah itu, umpamanya yang berbunyi :

a. Hukum ashal pada tiap-tiap benda, adalah halal.

b. Hukum ashal pada tiap-tiap ‘ibadat, adalah haram dila­kukan.

c. Hal yang boleh jadi begini, boleh jadi begitu, tidak dapat dipakai sebagai alasan.

d. Orang yang menetapkan sesuatu yang pada ashalnya tidak ada, dituntut dalilnya.

e. Sesuatu yang sudah yaqin, tidak boleh dikalahkan de­ngan ragu-ragu.

10. SHIFAT DLARURAT.

Dalam Agama kita, ada dikatakan, bahwa barang siapa „dlarurat” berbuat sesuatu yang ashalnya haram, maka tidaklah berdosa kalau ia mengerjakannya.

Orang sering mempermudah pengertian “dlarurat” itu. Kalau ditanya “Mengapa saudara mengerjakan itu”, sering kita mendapat jawaban “Saya terpaksa” (= dlarurat) berbuat demikian”, padahal setelah diketahui ternyata bahwa soalnya itu, hanya soal “malu” saja. Kalau ada orang Islam mengerjakan sesuatu pelanggaran Agama, lalu kita bertanya : “Mengapa saudara berbuat demikian ?” jawabnya : “Saya terpaksa berbuat demikian”, padahal dasarnya karena ketakutan yang terbayang dalam fikirannya. Dan lain-lain lagi.

Seolah-olah hal “dlarurat” atau “terpaksa” itu menurut ukuran dan kehendak masing-masing.

Hendaklah diketahui bahwa kata-kata “terpaksa” itu salinan dari kata-kata “udl-thur-ra” yang ada dalam Quran.

“Udl-thurra” itu, ashal dari kata-kata “dla-rar”.

Di antara arti-artinya, adalah : berlindung, berpegang kepada sesuatu, menyandarkan diri kepada sesuatu. Dalam bahasa Indoneaia kata-kata „dlarra” itu mempunyai arti : „membahayakan”, „menyusahkan” dan sebagainya.

Maka soal “malu”, “segan”, “takut” (bayangan), “khawatir ejekan”, “khawathir diboikot”, “khawathir diasingkan”. “khawathir dipenjara” dan sebagainya itu, b u k a n l a h dlarrar yang ditujukan oleh Agama, karena hal-hal tersebut, bukan hal-hal yang sebenarnya membahayakan kita.

Karena itu, janganlah hendaknya kita permudah soal “dlaru­rat” itu.

11. DALIL SESUDAH BER’AMAL.

Banyak terdapat ‘ula­ma atau orang yang mengerjakan sesuatu “amal” atau “‘ibadat” yang mereka dasarkan kepada pendapatnya yang dianggapnya benar. Setelah ada yang bertanya atau menegornya, baru mereka mencarikan keterangannpa. Kalau tidak dapat, dicari-carinya dari beberapa keterangan Agama yang lain, lalu dicocok-cocokkan dengan paksa, sehingga seolah-olah ada alasannya dari Agama.

Umpamanya : Dengan dasar Hadiets Iemah, orang melakukan “talqien”, yaitu mengajar orang yang sudah mati menjawab pertanyaan malaikat dalam qubur. Perbuatan itu berlaku dari masa kemasa sampai sekarang. Terkadang mereka tidak hiraukan tegoran atau orang yang menunjukkan kepada mereka bahwa perbuatan itu “tidak benar”, “salah” atau “bid’ah”.

Kemudian setelah betul-betul terdesak, maka karena hendak mempertahankan perbuatan itu, dan boleh jadi juga karena hendak menjaga pengaruhnya kepada ummat, maka dengan tenaga dan kepandaian yang ada pada mereka, mereka cari-carilah alasannya, sedapat-dapatnya, sekalipun bukan pada tempatnya.

Diantara alasan-alasan yang mereka kemukakan, adalah :

Bahwa orang yang sudah mati itu, mendengar dalam qubur, maksud mereka, karena maiyit mendengar, maka ia dapat menerima pelajaran. Padahal maksud ayat Quran yang mereka bawakan itu, bahwa orang yang sudah mati itu, t i d a k dapat menerima pelajaran.

Ada beberapa hadiets yang berhubung dengan membacakan surah Yasien atas orang mati, mereka masukkan dalam bagian fa-dla-i-lul-a’-maal, lalu mereka membolehkan “talqien” itu. Padahal Hadiets-hadiets itu semua lemah dan mereka pun mengakui kelemahannva itu.

Mereka beralasan dengan pendapat ‘ulama yang berkata : “Aku lebih suka kepada Hadiets lemah daripada fikiran manusia”. Karena itu, mereka pakai Hadiets-hadiets yang lemah.

Mereka melakukan “talqien” dengan alasan untung-untungan kalau-kalau diterima oleh Allah s.w.t.

Dan lain-lain lagi.

Alasan-alasan yang mereka bawakan itu, tidak ada satupun yang kena. Dari cara-cara demikian itu, timbulah kerusakan dalam Agama, timbul bid’ah-bid’ah, sehingga Agama yang bersih-murni diselubungi dengan kotor-kotor. Mudah-mudahan Allah memelihara Agama-Nya dari kotor-kotor yang diada-adakan oleh manusia.

Seharusnya, orang yang inshaf dan sadar, s e b e I u m mengerjakan sesuatu ‘amal, lebih dahulu mencari dalilnya. Kalau belum dapat, janganlah ia kerjakannya.

12. “MAH-SHUR” DAN YANG BUKAN MAH-SHUR”.

Diantara ayat-ayat Quran dan Hadiets-hadiets Nabi s.a.w., ada yang memakai lafazh “in-na-maa” atau “an-na-maa”. Susunan yang me­makai lafazh tersebut, dikatakan “mah-shur”, artinya : “terbatas”, yakni : isi atau ketentuan yang ada dalam susunan itu, terbatas menurut apa yang ada disitu, tidak boleh ditambah atau dikurangi. Begitu juga susunan yang diawalnya ada kata-kata : maa, laa, lam, laisa, lalu ditengah-tengahnya ada kata-kata “il-laa”. Susunan yang ada “maa” dan “illaa” itu, disebut “mus-tats-naa”, tetapi termasuk dalam bagian “mah-shur”.

Sebagai contoh. Nabi sa.w. bersabda :

Artinya : H a n y a aku diperintah berwudlu’, apabila aku hendak mengerjakan shalat.
(H.S.R. Nasa-ie)

Jadl „wudlu”‘ itu hanya untuk shalat, tidak untuk yang lainnya.

Maka „yang bukan mah-shur” itu, ialah yang tidak memakai kata-kata tersebut diatas atau yang seumpamanya.

Susunan yang tidak mah-shur itu, boleh menerima tambahan atau pengecualian.

Umpamanya : Firman Allah s.w.t.

Artinya : Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka hendaklah kamu dera tiap-tiap seorang dari mereka, seratus deraan.

(An-Nur 2)

Ayat ini tidak mah-shur. Karena itu, ia boleh menerima tambahan. Dalam Hadiets ada tambahan „rejam” bagi orang yang berzina yang sudah kawin.

13. LAFAZ-LAFAZ ISH-THl-LAH.

Dalam Agama kita, ter­dapat beberapa perkataan yang ada kalanya terpakai menurut arti bahasa, dan sering terpakai menurut arti ish-thi-lah Agama. Umpamanya : lafazh-lafazh : najis, bidah, taqlid, haram, wudlu’. shalat dan lain-lain lagi yang terkadang menimbulkan kekeliruan pengertian. sehingga terjadi perlainan pendapat.

Tetapi kalau kita pandai menempatkan kata-kata tersebut : dimana harus dipakai dengan arti bahasa dan dimana harus dengan arti ish-thi-lah, insya’ .AIIah akan terjadi persesuaian faham antara kita.

Umpamanya :

A. Nabi s.a.w. bersabda : “TIAP-TIAP BID’AH ITU SESAT” (Riwayat Muslim). — Kata-kata “bidah” dalam Hadiets ini, kalau kita pakai dengan arti bahasa, yaitu denqan arti “sesuatu yang baru yang tidak pernah ada dizaman Nabi s.a.w.”, maka memakai sepeda, memakai motor, kereta api, radio ……… itu semua s e s a t (= berdosa), karena barang-barang itu tidak ada dizaman Rasulullah s.a.w. Tak usahlah kita sampai begitu gila mengartikan sabda Nabi s.a.w. tersebut. Nabi tahu bahwa dunia ini akan berobah. Nabi mengerti akan kebutuhan-kebutuhan manusia. Karena itu, tidak mungkin kata-kata “bid’ah” itu ditujukan kepada benda-benda tersebut. Mesti ditujukan kepada tugas pokok yanq diperintah Nabi s.a.w. menyampaikan kepada ummat­nya. yaitu : soal-soal Agama.

Jadi “bid’ah” itu, ialah yang berhubung dengan perbuatan yang menyerupai Agama yang tidak ada pada masa Nabi s.a.w. dan tidak pernah dibenarkan oleh Nabi s.a.w., serta tidak dapat dimasukkan dalam salah satu hal atau perbuatan yang dibenarkan oleh Nabi s.a.w.

Maka disini kita gunakan arti Ish-thi-lah, bukan arti menurut bahasa.

Demikianlah dengan perkataan-perkataan yang lain.

— 0 —

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 10 April 2010 in KARYA SANTRI

 

One response to “USHUL FIQH

  1. PEMBELA UMAT

    30 Juni 2011 at 01:44

    BID’AH = MENG ADA -ADA
    TAPI KALAU TUJUANYA BERMANFAAT BAGI UMAT MANUSIA DUNIA &AKHIRAT , MALAH DAPT PAHALA , CONTOH DULU AL-QUR ‘AN BELUM DI BUKUKAN SEKARANG DENGAN ADANYA JILID AL-QUR’AN MANUSIA JADI MUDAH MEMBACANYA MEMPELAJARINYA

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Another Sa'ad's Blog

Tempatku Melepas Penat ...

SDN KRUCIL 1

Desa Krucil - Kec. Krucil - Kab. Probolinggo Kode Pos: 67288

Blog of Isa Ismet Khumaedi

Menjadi pribadi yang bermanfaat.

Dakwah Islam Channel

Media Belajar Ummat

latape2003

Just another WordPress.com site

Faisal Amri

Coretan Santri Grabag

Teguh Prawiro Laonda

Seorang Pencari Ilmu, Pencatat Ilmu, Peng"Copas" Ilmu, Penjaga Ilmu dan Seorang Pembagi Ilmu

Fachmubill

Si Pendiam dan Penasaran.

%d blogger menyukai ini: