RSS

MAKALAH : HUKUM TAHLILAN

10 Okt

HUKUM TAHLILAN

OLEH M. ADLOCHI

NIS : 3169

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai petunjuk dan rahmat bagi seluruh manusia,

Shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW sekaligus Rasul-Nya Sungguh penulis sangat bersyukur kepada Allah SWT sebab hanya dengan ridlo dan karunia-Nyalah penulis sanggup menyelesaikan karya tulis ini yang berjudul “ HUKUM TAHLILAN ” guna memenuhi salah satu syarat mengikuti ujian akhir.

Dengan selesainya karya tulis ini pastinya tidak terlepas dari peran serta akan semua pihak. Oleh karena itu dengan rasa hormat dan terima kasih penulis ucapkan kepada :

1. Kedua Orang Tua beserta keluarga yang telah mendidik dan membimbing penulis, lebih-lebih Ibu yang selalu tanpa lelah memberikan dukungan dan do’a kepada penulis.

2. Ustadz Luthfie Abdullah Ismail, selaku Mudir Pesantren sekaligus guru mata pelajaran Fiqh

3. Ustadz Bambang Priyono, selaku Kepala Madrasah Aliyah Persis 1 (Putera)

4. Ustadz Bagus Santoso, Selaku Wali Kelas VI

5. Para Asatidz yang telah membimbing dan mengajarkan ilmunya kepada penulis dengan tulus dan ikhlas

6. Teman – Teman dari kelas VI semuanya yang selalu memberikan inspirasi tanpa lali mensuport dan senantiasa menemani penulis dalm mengerjakan karya tulis ini dari awal hingga terselesainya karya tulis ini.

Maka segala puji bagi Allah SWT yang telah menunjukkan kita Agama Islam. Seandainya bukan karena petunjuk Allah SWT, niscaya kita tidak akan mendapat petunjuk yang benar ini.

Dan sebagai pelajar yang masih membutuhkan bimbingan dan arahan, maka penulis mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca karena penulis yakin bahwa karya tulis ini masih banyak kekurangan, dan memerlukan penyempurnaan lebih lanjut. Semoga Allah SWT selalu menjadikan kita sebagai orang yang Istiqamah di jalan-Nya.

Bangil, Februari 2009

Penulis

Daftar Isi

Halaman Judul

Kata Pengantar

Daftar Isi

Bab I Pendahuluan

1.1. Latar Belakang

1.2. Alasan Pemilihan Judul

1.3 Tujuan Penulisan Makalah

1.4. Metode Penulisan

Bab II PEMBAHASAN

2.1. Definisi Tahlilan

2.2. Asal Usul dan Waktu Pelaksanaan

2.3. Menyediakan Makanan Tahlilan

BAB III PENUTUP

3.1. Kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Segala puji bagi Allah SWT yang telah banyak memberikan kita nikmat sehingga Penulis dapat menyelesaikan Makalah ini. Dan tidak lupa shalawat serta salam tetap tercurahkan dan terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah menunjukkan kita dari jalan yang berliku-liku menuju jalan yang lurus yakni Agama Islam.

Di zaman sekarang ini sebagaian Masyarakat Islam masih mengikuti atau menganut tradisi-tradisi nenek moyang terdahulu. Adapun kebiasaan yang mereka lakukan telah bertentangan dengan ajaran Islam (Al-Qur’an dan As-Sunnah). Dan perbuatan itu adalah mungkar, oleh karena itu tradisi yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah tersebut Wajib kita rubah agar sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. 1.2.

1.2 ALASAN PEMILIHAN JUDUL

Alasan penulis memilih “ HUKUM TAHLILAN “ karena kebanyakan masyarakat sekarang telah meyakini dan melakukan acara seperti ini, yang merupakan tradisi di kalangan pedesaan, lebih khususnya di sekitar masyarakat saya saya yang telah melembaga dan dianggap sebagai ajaran Islam. Sedangkan acara seperti itu merupakan perbuatan yang bertentangan dengan syar’i.

Oleh karena itu penulis memilih judul ini ingin memperdalam agar bisa merubah, membenarkan dan meluruskan sesuai dengan ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

1.3. TUJUAN PENULISAN MAKALAH

Adapun tujuan penulis dalam menyusun kerja ilmiah ini adalah :

1. Untuk memenuhi salah satu persyaratan mengikuti Ujian Akhir Kelas VI Pesantren PERSIS Bangil

2. menjujung tinggi Agama Islam

3. Menjelaskan kepada masyarakat bahwa tahlilan itu tidak dalam ajaran Islam

1.4. METODE PENULISAN

Karya tulis ini disusun berdasarkan metode study pustaka, yaitu dengan merujuk kepada Al-Qur’an, Al-Hadits, Buku – Buku dan berbagai makalah.

BAB II PEMBAHASAN

2.1. DEFINISI TAHLILAN

Tahlilan adalah acara yang berkaitan dengan peristiwa kematian seseorang lalu keluarga mayat dan kerabat serta masyarakat sekitarnya mengadakan bacaan ayat al-Qur’an dan Dzikir-Dzikir tertentu berikut do’a-do’a yang ditunjukkan untuk si mayit di alam kubur. Ritual ini dilakukan secara berjama’ah dan dengan suara keras.

Biasanya acara ini berlangsung tiga sampai tujuh hari berturut-turut setelah hari kematian. Tradisi ini telah melembaga di kalangan masyarakat atau telah menjadi milik sebagian masyarakat Islam di tanah air ini. Menurut kepercayaan tersebut, bahwa seseorang yang telah meninggal apabila kita mengupahkan atau menghadiakan bacaan tahlil dan al-Qur’an kepadanya, maka sampailah bacaan-bacaan pahala itu kepada si mayit. Perlu diketahui, bahwa menurut ayat-ayat Al-Qur’an dan As-Sunnah, pahala bacaan tersebut serta amalan – amalan lain tidak bisa sampai kepada si mayit.

Allah berfirman : Artinya : Bahwasanya seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan sesungguhnya manusia tidak akan memperoleh (pahala), melainkan pahala dari usahanya sendiri (an-Najm : 38-39)

Nabi SAW bersabda : Artinya : Apabila seseorang manusia meninggal maka putuslah amalnya, kecuali tiga hal : Shadaqah jariyah (waqaf), atau Ilmu yang bermanfaat dengannya, atau Anak yang sholeh yang mendo’akannya (HR. Muslim)

Menurut Nash-Nash di atas bahwa menghadiahkan bacaan tahlil, Al-Qur’an, dan semacamnya tidak akan pernah sampai kepada si mayit kecuali apa yang diusahakan sendiri.

ASAL USUL TAHLILAN DAN PELAKSANAANNYA

A. ASAL USUL

Sebelum Islam masuk ke Indonesia, telah ada berbagai kepercayaan yang di anut oleh sebagian besar penduduk tanah air ini, di antara keyakinan – keyakinan yang mendominasi saat itu adalah animisme dan dinamisme. Di antara mereka meyakini bahwa arwah yang telah dicabut dari jasadnya akan gentayangan di sekitar rumah selam tujuh hari, kemudian setelahnya akan meninggalkan tempat tersebut dan akan kembali pada hari ke empat puluh, hari keseratus dan hari keseribunya atau mereka mereka meyakini bahwa arwah akan datang setiap tanggal dan bulan dimana dia meninggal ia akan kembali ke tempat tersebut, dan keyakinan seperti ini masih melekat kuat di hati kalangan awan di tanah air ini sampai hari ini.

Sehingga masyarakat pada saat itu ketakutan akan gangguan arwah tersebut dan membacakan mantra-mantra sesuai keyakinan mereka. Setelah Islam mulai masuk di bawa oleh para Ulama’ yang berdagang ke tanah air ini, mereka memandang bahwa ini adalah suatu kebiasaan yang menyelisihi syari’at Islam, lalu mereka berusaha menghapusnya dengan perlahan, dengan cara memasukkan bacaan – bacaan berupa kalimat – kalimat thoyyibah sebagai pengganti mantra-mantra yang tidak dibenarkan menurut ajaran Islam dengan harapan supaya mereka bisa berubah sedikit dan mininggalkan acara tersebaut menuju ajaran Islam yang murni. Akan tetapi sebelum tujuan akhir ini terwujud, dan acara pembacaan kalimat-kalimat thoyibah ini sudah menggantikan bacaan mantra-mantra yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, para Ulama’ yang bertujuan baik ini meninggal dunia, sehingga datanglah generasi selanjutnya yang mereka ini tidak mengetahui tujuan generasi awal yang telah mengadakan acara tersebut dengan maksud untuk meninggalkan secara perlahan. Perkembangan selanjutnya datanglah generasi setelah mereka dan demikian selanjutnya, kemudian pembacaan kalimat-kalimat thoyibah ini mengalami banyak perubahan baik penambahan atau pengurangan dari generasi ke generasi, sehingga kita jumpai acara tahlilan di suatu daerah berbeda dengan prosesi tahlilan di tempat lain sampai hari ini.

B. PELAKSANAANNYA

Tahlilan atau upacara selamatan untuk orang yang telah meninggal, biasanya dilakukan pada hari pertama kematian sampai dengan hari ketujuh, selanjutnya dilakukan pada hari keempat puluh, keseratus, kesatu tahun pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya. Dan ada juga yang melakukan pada hari keseribu. Dalam upacara di hari-hari tersebut, keluarga si mayit mengundang orang untuk membaca beberapa bacaan ayat-ayat dan surat al-Qur’an, Tahlil, Tasbih, Tahmid, Shalawat, dan Do’a pahala bacaan tersebut dihadiahkan kepada si mayit.

Menurut penyelidikan para ahli, upacara tersebut di adopsi oleh para da’i terdahulu dari upacara kepercayaan animisme agama budha dan hindu, jika di dalam rumah si mayit tidak ada orang ramai yang berkumpul – kumpul dan mengadakan upacara-upacara sesaji, maka untuk itu semalam para tetangga dan masyarakat berkumpul di rumah si mayit, hal semacam itu dilakukan pada malam pertama kematian, selanjutnya malam ketiga, ketujuh, keseratus, kesatu tahun, dua tahun, dan malam ke seribu.

c. MENYEDIAKAN MAKANAN TAHLILAN

Dalam acara tahlilan keluarga si mayit biasanya menyediakan makanan untuk orang-orang yang datang pada upacara tahlilan tersebut sebagai sedekah. Padahal Nabi Muhammad SAW menganjurkan supaya para tetangga memberi atau menyediakan makanan kepada keluarga si mayit. Para tengga dan Sanak famili supaya datang ikut bela sungkawa dengan membawa sesuatu untuk menyegerakan si mayit.

Sebagaimana Sabda Nabi SAW : Artinya : Dari Abdullah bin Ja’far berkata : …Tatkala datang berita terbunuhnya Ja’far, Nabi SAW bersabda : Buatlah makanan untuk keluarga Ja’far. Sesungguhnya mereka tengah ditimpa musibah yang menyibukkan mereka (HR. Abu Dawud, Tirmnidzi, Ibnu Majah)

Jadi yang menyediakan makanan adalah tetangga untuk keluarga si mayit, bukan yang terkena musibah menyediakan makanan buat orang yang datang. Dan hadits lain menjelaskan bahwa menyediakan atau menghidangkan makanan dalam upacara kematian adalah termasuk meratap yang dilarang oleh Agama, sebagaimana sabda Rasulullah SAW Artinya : Dari Jarir al-Balaji berkata : Adalah kami (shahabat-shahabat nabi SAW) menganggap berkumpul-berkumpul ke rumah ahli mayat dan membikin makanan sesudah ditanamnya itu (termasuk) meratap. (HR. Ibnu Majah)

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan :

- HUKUM TAHLILAN ADALAH HARAM DAN TERMASUK BID’AH

- DAFTAR PUSTAKA

1• AL-QUR’ANUL KARIM DAN AS-SUNNAH •

2. KATA BERJAWAB JUZ M1 – 6 •

3. YASINAN, TAHLIL DANS SELAMATAN, ABU IBRAHIM MUHAMMAD ALI, PUSTAKA AL-UMMAH

4. TAHLILAN, YASINAN DAN MAULIDAN, ABU IHSAN AL-ATSARI AL-MADANI • BULUGHUL MARAM, IBNU KATSIR, PENERBIT DIPONEGORO BANDUNG

About these ads
 
108 Komentar

Ditulis oleh pada 10 Oktober 2009 in MAKALAH 2008

 

108 responses to “MAKALAH : HUKUM TAHLILAN

  1. herdi

    11 November 2009 at 14:33

    Ya besok kalo ibu ato bapak sampean ninggal gak usah didoakan ya…..(Menurut Nash-Nash di atas bahwa menghadiahkan bacaan tahlil, Al-Qur’an, dan semacamnya tidak akan pernah sampai kepada si mayit kecuali apa yang diusahakan sendiri)

    urusan nyampe ato gak urusan allah kita hanya berusaha dan mendoakan, dengan ayat-ayat alqur’an lagi, kan baek

     
  2. mighamir

    18 November 2009 at 11:09

    Kalau sampeyan yang membuat agama ya begitu cara berfikirnya. Atau sampeyan seorang Nabi maka berhak merubah ketentuan agama. Sekarang permasalahanya sampeyan bukan yang punya agama. sampeyan juga bukan Nabi. jadi tidak berhak merubah, mengatur dan membuat cara ibadah sendiri. Yang berhak merubah dan mengatur dan membuat ketentuan adalah Allah, Nabi Muhammad sendiri saja sebenarnya tidak boleh akan tetapi karena Nabi Muhammad diberi wahyu untuk merubah, mengatur dan membuat ketentuan Agama.
    Untuk mendoakan orang tua baik yang masih hidup atau yang sudah meninggal itu kan sudah ada aturan dan caranya. tidak mesti tahlilan. Mungkin buat sampeyan masih berat, karena sudah terlanjur terdidik dalam lingkungan yang suka dengan tahlilan. Akan tetapi jika sampeyan lebih mencintai Allah dan Rasulullah pasti sampeyan lebih bisa menerima.
    Yang mengatakan bahwa bahwa kiriman itu tidak sampai adalah Allah dalam Al-Qur’an,kalau sampeyan nggak percaya, berarti sampeyan perlu ditanyakan keimanannya kepada Allah, diragukan keimanannya kepada Rasulullah, dan sampeyan telah dianggap melanggar ketentuan Al-Qur’an.
    Untuk orang yang masih primitif yang sedang mencari Tuhannya nggak papa melakukan apa saja yang dilakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Jadi nggak perduli nyampai apa nggak. Tapi kalau sudah tahu dari al-Qur’an bahwa kiriman itu tidak nyampai masih dilakukan, orang model apa yang seperti ini.
    Kayak seseorang diberitahu jangan lewat situ karena ada ranjau, masih saja lewat situ, apa jadinya. jawabannya MATI KENA RANJAU.
    terima kasih

     
  3. mighamir

    16 Desember 2009 at 03:11

    Sayang Orang kalau berbeda pendapat menganggap orang yang beda dengannya sebagai musuh. Akhirnya terkesan dari komentarnya, mereka marah.

    Padahal kalau berfikir dewasa : Saya dengar dulu kalau emang benar apa salahnya saya ikut.

     
  4. mr enu

    17 Desember 2009 at 12:08

    inilah yang membuat umat islam tidak bisa rukun satu sama lain,karena masalah kilafiah.

     
  5. mighamir

    19 Desember 2009 at 01:28

    Umat Islam tidak rukun bukan karena masalah khilafiyah ! Umat Islam tidak rukun karena oknumnya yang nggak mau rukun. Umat Islam ada yang percaya dukun, kalau ini dianggap khilafiyah maka Islam akan Rusak. Yang benar bagaimana menyadarkan orang yang percaya dukun. Yang kedua orang yang percaya dukun tersebut kalau diingatkan saudaranya bahwa perbuatannya salah harus mau menerima dengan lapang dada bahwa ada saudaranya yang mau mengingatkan perbuatannya salah apalagi dikuatkan dengan dalil al-Qur’an dan Hadits yang shahih.

    Sebagaimana masalah khilafiyah yang lain, kepada siapa saja yang lebih tahu tentang al-Qur’an dan Hadits shahih harus mau mengingatkan saudaranya bahwa salah satu dari pihak yang berselisih pasti ada yang salah dari pemahaman khilafiyahnya. Tentu dengan dalil – dalil yang kuat. dan bagi yang diingatkan harus bisa menerima dan merubah perbuatan yang salah sehingga bisa kembali ke jalan yang benar sesuai dengan al-Qur’an dan Hadits-Hadits yang shahih.

    Bagi mereka yang mengamalkan tahlilan, harus menyadari bahwa perbuatan tersebut berdasar al-Qur’an dan Sunnah yang shahih itu adalah perbuatan yang salah. Kalau memang masih menganggap tahlilan itu benar keluarkan dalilnya yang mendukung, sehingga terjadilah diskusi yang baik, kemudian ditemukan mana yang benar, maka yang benar tersebut itu mari diikuti. disini Umat Islam menjadi pandai dan nggak gampang dibodohi oleh kyai-kyai mereka.

    Perlu anda ketahui bahwa jika mereka (para kyai) itu ditanya dari hati ke hati mereka akan mengatakan bahwa tahlilan itu adalah perbuatan yang salah, namun mereka masih melakukan karena mereka takut ditinggal oleh umatnya. takut dianggap kyai yang murtad dari kelompoknya. Umat akan pindah ke kyai lainnya yang mengadakan tahlilan. Penulis sudah menanyakan kepada banyak kyai.

    Maaf bila balasan kami menyinggung perasaan anda.

    Marilah kita biasakan bertanya kepada diri kita sendiri, benarkah perbuatan saya. (ini namanya muhasabah). tidak seorangpun yang luput dari kesalahan. Akan tetapi jika terjadi khilafiyah maka kembalilah kepada Al-Qur’an dan Sunnah yang shahih maka Umat Islam bisa bersatu dan rukun.

    Selama hati mereka masih mempunyai sifat-sifat syetan. (di antaranya SOMBONG = nggak mau menerima kebenaran meskipun itu datangnya dari ALLAH) Islam tidak akan bisa bersatu.

     
  6. ihsan

    13 Januari 2010 at 16:07

    saya kurang sependapat yang menyatakan yang menyediakan makanan itu tetengganya, yang terkena musibah itu memberi makanan untuk shodaqoh si mayyit, jangan bermain-main dengan hukum karena itu sangat berbahaya

     
  7. muhis

    16 Januari 2010 at 20:51

    Saya setuju kalau kita kembali kepada Al Qur’an dan As sunnah

     
  8. mighamir

    17 Januari 2010 at 23:42

    Menurut saya yang benar : yang terkena musibah itu menguatkan hatinya untuk menerima kenyataan dan taqdir yang telah ditetapkan oleh Allah SWT, menjaga keimanan kepada Allah SWT jangan sampai terjadi perbuatan NIYAHAH (meratap). Meratap secara hukum jelas HARAM. Para Shahabat menyatakan dengan tegas sesuai dengan sunnah bahwa mengadakan makan-makan dan minum-minum di rumah si mati atau karena kematian itu termasuk dalam kelompok NIYAHAH. ini berdasar dalil. SILAHKAN BACA BUKU HUKUM TAHLILAN KARYA IMRON AM

    kalau berdasar akal yang jernih dan perasaan yang masih murni : ORANG YANG TERKENA MUSIBAH WAJIB DIBANTU. dan YANG TIDAK KENA MUSIBAH WAJIB MEMBANTU SAUDARANYA YANG KENA MUSIBAH.

    coba pikir ! pernah dengar nggak KORBAN BANJIR MEMBUAT MASAKAN UNTUK PARA PENGUJUNG DAN PENONTON. KORBAN GEMPA SUMATRA BARAT MENGUMPULKAN MAKANAN DAN MINUMAN YANG ENAK – ENAK UNTUK PRESIDEN SBY DAN PARA MENTERI DI ISTANA.

    hilangkan fanatisme golongan. berfikir tenang. cari dasar yang kuat. lalu putuskan mana yang benar.

     
  9. Memen_tbi

    11 Februari 2010 at 19:25

    Jangan gampang bicara hukum jika belum jelas dan terinci. Yang haram itu Tahlilannya, apa Kenduriannya, atau Keyakinan penyelenggara nya ?? Perjelas donk jika membuat komentar tentang hukum. Anda terkesan mencari pembenaran, bukan menuju kepada kebenaran.

     
  10. mighamir

    11 Februari 2010 at 20:27

    Saya sebenarnya juga orang bodoh seperti kamu, yang berusaha mencari kebenaran. Saya bukanlah seorang Nabi yang mempunyai sifat maksum (terjaga dari kesalahan). Tapi saya juga berusaha menjadi orang yang komitmen dalam hati, ucapan dan tindakan. Saya belajar dari pondok di di kampung mulai kecil (umur balita) sampai lulus SMA, ya belajar mengaji juga belajar membaca kita, sampai – sampai saya dipercaya oleh kyai saya menjadi Imam Masjid jika pak kyai berhalangan, juga memimpin tahlilan jika pak kyai berhalangan untuk memimpin tahlilan, termasuk mengajar ngaji adik-adik kelas saya dan juga mengajarkan baca kitab, seperti kitab Jurumiyah, kitab Tashrif, kitab hidaytus syibyan, kitab safinatun najah, kitab tankihul qoul, kitab shahih bukhari, dan masih banyak lagi, arbain nawawi, kitab tajwid al-bajuri, kitab akhlaq tanalul ilma, dan juga saya sering diserahi untuk memimpin berjanjen dan manaqib, dan juga khatamul qur’an.

    setelah selesai di pondok saya merasa belum cukup untuk menuntut ilmu Agama ini, saya kuliah di Ma’hadul ‘Aly al-Ittihad al_Islamy Bangil – PASURUAN – JAWA TIMUR selama 4 tahun. Saya mulai belajar memahami Agama Islam dari sumbernya Al-Qur’an dengan ilmu-ilmunyanya, Belajar Hadits dengan ilmu-ilmunya, dan belajar Bahasa Arab (Bahasa Al-Qur’an) dengan ilmu-ilmunya.

    Dalam perjalanan saya mendalami Islam saya mendapatkan kesimpulan bahwa Tahlilan itu Haram dari sisi perbuatannya, Makanan kendurinya juga haram dan kumpul-kumpul untuk melaksanakan tahlilan juga haram.

    Haramnya dikarenakan :

    Ibadah itu pada asalnya haram (Kaidah Ushul Fiqh), jadi kita tidak boleh membuat ibadah sendiri, dengan ramuan sendiri, dalam perjalanan saya mempelajari Islam tidak saya temukan dalil sama sekali Nabi Muhammad SAW melakukan tahlilan, para shahabat juga tidak ada yang melakukan, tabi’i pun tidak ada yang melakukan.

    ini berarti ada yang membuat ibadah ini (tahlilan), dari sisi bahasa ini yang membuat adalah orang jawa. Ada yang mengatakan yang buat tahlilan adalah walisongo, ada juga yang mengatakan ini adalah buatan SUNAN KALIJAGA.

    yang lain nanti kita lanjutkan…….

     
  11. memen_tbi

    12 Februari 2010 at 16:21

    he, he, rupanya anda lagi seneng-senengnya jadi kiai atau ustadz, atau mufti menurut anda sendiri. Perjelas downk,, Tahlilannya apa kenduriannya apa makan-makannya.?? saya tidak perduli dg apapun pendidikan anda. Yg saya liat anda terlalu membabi buta dalam bicara hukum. Kurang rinci, dan tdk tahu permasalahan. Untungnya anda bukan siapa-siapa, jadi terserah anda mau bicara apa…

     
  12. Gatara

    12 Februari 2010 at 16:58

    Tahlil / Tahlilan : membaca ; Laa ilaha illallohu wahdahu laa syariika lahu lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘alaa kulli syai_in qodiir…..Al-Hadits.. (HR. Muslim)
    jika anda mengatakan tahlil itu haram. carikan dalil yg menunjukkan keharamannya. Definisi yg anda buat itu bukan definisi Tahlil, tetapi definisi upacara/selamatan kematian. Jadi dudukkan hukum pada tempatnya. Jangan anda plesetkan untuk kepentingan kelompok anda. Hadits yg diriwayatkan Al-Khomsah kecuali An-Nasaiy dari ‘Abdulloh bin Ja’far, adalah anjuran agar membantu dg membuatkan makanan terhadap yg tertimpa musibah kematian. Kemudian Hadits yg diriwayatkan Ahmad dari Jarir bin ‘Abdulloh Al-Balaji, adalah menjelaskan bhw berkumpul ketempat keluarga orang mati dan pembuatan makanan setelah penguburannya itu, termasuk ratapan. Dalam dua hadits tsb, memberi petunjuk bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap org yg tertimpa musibah kematian. Jadi bukan membahas TAHLIL. Jadi Rincilah dg terperinci, mana yg boleh, mana yg tidak, dan bagaimana seharusnya Tahlil itu. Begitu bung. Jangan asal bicara.

     
  13. kiayi belum jadi

    5 Maret 2010 at 00:14

    yang bilang tahlil haram siapa ya? perasaan tulisan di atas mengharamkan tahlilah kematian ,.,. man amila amalan laisa amrunaa fahuwa roddun,.,Hadits Riwayat : Muslim.
    contoh dari Rosulullah SAW bahwa orang mati harus ditahlili itu nggak ada ,., bawain contoh dulu baru minta dalil,., klo perbuatan haram itu dicampurkan dengan sesuatu yang halal maka haram yang akan di menangkan,.,. kaidah ushul fiqh gtukan,., iza ijtama haram wal halal fagulibal haram,., contoh,. nasi yang jelas halalnya itu dicuri maka jadilah dia barang curian yang yang haram,.,. uang yang jelas halal tapi dipake berjudi maka jelas ia menjadi uang judi,., kata bank romha uang judi najis tiada berkah.,. cari di alqur”an ada dalilnya kok,., begitu juga makanan tahlilan yang asalnya halal menjadi haram karena di campur dengan acara tahlilan yang tiada contoh dari agama yang jelas haramnya,., dalam hal tauhid seperti mengirimkan pahala seharusnya tidak ada khilaf karena dalilnya qot’iy,., coba baca surah fathir ayat 14 sampe ayat 30,., an najm ayat 37.38.39

     
  14. kang phaizh

    31 Maret 2010 at 13:27

    Nabi SAW bersabda : Artinya : Apabila seseorang manusia meninggal maka putuslah amalnya, kecuali tiga hal : Shadaqah jariyah (waqaf), atau Ilmu yang bermanfaat dengannya, atau Anak yang sholeh yang mendo’akannya (HR. Muslim)

    emh….
    tahlil juga merupakan doa…
    “atau Anak yang sholeh yang mendo’akannya”
    bukankah begitu ?
    tergantung niat….
    udahlah kita ga usah bukak2an kitab…
    wong hadits awal di arba’in aja kan bahas tentang niat tho !?
    tahlil juga termasuk do’a…
    so….
    tahlil boleh…
    asal niatnya ga terkontaminasi aja…
    tahlilan halal dan malah dianjurkan, kang …..

     
  15. abi zeber

    31 Maret 2010 at 16:11

    kalau do’a memang tidak akan sampai pada mayit, tetapi kita mendoakan kepada mayit agar amal ibadahnya diterima ALLAH SWT, dan dosanya diampuni. dan mengenai tahlil tidak ada unsur haram, karena didalamnya ada dzikir, apakah anda akan mengharamkan perbuatan sekelompok orang yg berdzikir kepada Allah SWT, Tahlil itu hanya adat istiadat yg baik, yg didalamnya ada majlis dzikir. apakah ada batasan bagi orang yg berzikir diharamkan dirumah orang yg baru meninggal dunia? bagi anda yg mengharamkan tahlil coba datang ke acaranya, apakah ada yg menyimpang dari ajaran islam.

     
  16. kang phaizh

    31 Maret 2010 at 21:41

    Lha yo maksute mekaten kang abi…..

     
  17. mighamir

    1 April 2010 at 00:33

    Memang sulit merubah keyakinan yang sudah mendarah daging apalagi sudah memasyarakat. Nggak masalah orang berbeda pendapat, asal siap mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah SWT di akhirat nanti, di sini saya hanya mengingatkan bahwa TAHLILAN itu sebuah ibadah yang tidak ada contohnya dari Nabi SAW, dan Ibadah yang tidak ada contoh atau dasarnya itu yang disebut dalam agama ISLAM dengan sebutan BID’AH, dan setiap bid’ah itu sesat….. semoga bisa dipikirkan baik-baik. Usahakan jangan memihak (misalnya : kalau saya NU ya saya harus bela Tahlilan, atau karena saya MUHAMMADIYAH saya harus mengharamkan, dll) dan jangan taklid (meniru perbuatan orang). Tapi berusahalah berfikir dengan bersih dan bertanya dalam hati “SUDAH BENARKAH IBADAHKU…… SUDAH BENARKAH KEYAKINANKU…..??

     
  18. kang phaizh

    6 April 2010 at 22:13

    Definisi taqlid dan ittiba’ gimana to ?
    bid’ah ada berapa tho ?
    ” setiap bid’ah itu sesat….. ”
    ( mobil ki bid’ah ga ya ? Hp bid’ah ga ya ? motor bid’ah ga ya? laptop bid’ah ga ya? ehhmmmm….kalau buat BLOG seperti ini BID”AH ga ya ? )
    wah berarti neg bid’ah kita sesat ya ?
    waduh, sama2 bid’ah donk…
    kalau begitu besok di neraka bisa facebookan bareng dunk…
    saya memang masih duduk di bangku sekolah. Tapi penelitian saya mengenai tahlil sudah saya lakkukan dengan seksama. saya di sini objektif kok. Terlepas saya NU atau bukan.
    ( wah, nek asline kepetuk tenan seru iki, aku yo iso nambah wawasan wong liyo )

     
  19. kang phaizh

    9 April 2010 at 14:59

    Definisi taqlid dan ittiba’ gimana to ?
    bid’ah ada berapa tho ?
    ” setiap bid’ah itu sesat….. ”
    ( mobil ki bid’ah ga ya ? Hp bid’ah ga ya ? motor bid’ah ga ya? laptop bid’ah ga ya? ehhmmmm….kalau buat BLOG seperti ini BID”AH ga ya ? )
    wah berarti neg bid’ah kita sesat ya ?
    waduh, sama2 bid’ah donk…
    kalau begitu besok di neraka bisa facebookan bareng dunk…
    saya memang masih duduk di bangku sekolah. Tapi penelitian saya mengenai tahlil sudah saya lakkukan dengan seksama. saya di sini objektif kok. Terlepas saya NU atau bukan.
    ( wah, nek asline kepetuk tenan seru iki, aku yo iso nambah wawasan wong liyo )

     
  20. isfhan

    23 April 2010 at 19:27

    isinya bagus buat lingkungan PERSIS, tapi kalo buat kalangan umum masih kurang sip, sebagai contoh yaitu tidak dicantumkannya dalil / hujah ataupu alasan2 dari ulama ulama yang membolehkan tahlil.sipenulis tidak berusaha mencari tahu apa sih dalil yang dipakai ulama ulama yang membolehkan tahlil.dan berusaha membantah dalil dalil tersebut.

    Maksih.

     
  21. subkan

    27 April 2010 at 22:33

    wong podo bodo kok seneng ngoceh

     
  22. ahsan

    5 Mei 2010 at 21:38

    afwan akh antum baca bku dari mana tentang asl-usl tahlil, n coba pahami kata tahlil 2 dri kata apa truz isi bacaanya 2 apa?
    Diriwayatkan di dalam shahih Bukhori dan Muslim dari Anas Radhiyallahu ’anhu ia berkata
    ” Orang-orang berjalan melewati jenazah kemudian mereka memujinya dengan kebaikan maka Rasulullah SAW berkata ’ wajib’ kemudia mereka melewati jenazah yang lain kemudian mereka memuji kejelekan untuknya maka Rasulullah juga berkata ’ wajib’ maka bertanyalah Umar bin Khotthob radhiyallahu’anhu apa (maksud ) wajib itu, Rasulullah menjawab ’ hal itu karena kamu sekalian memujinya dengan kebaikan maka wajiblah ia masuk jannah. Dan karena kamu sekalian memuji yang lain dengan keburukan, maka wajib baginyalah neraka. Kamu sekalian adalah saksi-saksi Allah di dunia..

     
  23. Muhamad Nasih

    11 Mei 2010 at 10:53

    sejak zaman khulafaurrasyidin, khilafiyah itu ada….itu bukanlah hal yang patut untuk diperdebatkan dengan membela keyakinan masing-masing, menyalahkan keyakinan orang lain. itu adalah rahmat dari Allah SWT. Pada dasarnya setiap orang dikaruniai Allah SWT. nurani yang bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, bagi anda yang mengharamkan acara tahlilan, tak perlu melakukannya….namun tak perlu menyalahkan orang yang melakukan tahlilan, karena mereka berkumpul bukan dalam acara ghibah & namimah, mereka hanya melakukan bacaan2 dzikir dan al-qur’an..apakah kita pantas menyalahkan perbuatan mereka???? apalagi kalau memang acara tahlilan itu memberikan dampak yang lebih baik bagi yang melaksanakannya…bukankah kita sepantasnya lebih berbahagia…sebaliknya bagi anda yang suka melaksanakan tahlilan, lakukanlah tahlilan dengan hati yang ikhlas semata-mata mencari keridhaan Allah SWT. tak perlu menyalahkan orang yang tidak melakukan tahlilan, karena tidak melakukan tahlilan bukan berarti tak suka berdzikir dan tak suka membaca al-Quran atau tak mendoakan orang yang meninggal…kalau mau mengetahui siapa yang benar dan siapa yang salah…yang benar adalah orang yang mendukung orang lain melakukan kebaikan, yang salah adalah mereka yang menghalang2i orang lain dalam melakukan kebaikan…Wassalam

     
  24. mighamir

    12 Mei 2010 at 00:29

    Mas bicara tentang kebaikan menurut siapa ?
    Apa yang sesuai dengan perintah Allah dan Rasulullah SAW itu yang disebut kebaikan. Apa yang tidak sesuai dengan perintah Allah dan Rosulullah SAW itu tidak baik.
    Dalam komentar-komentar di atas tampak bahwa anda tidak bisa membedakan antara TAHLIL dan TAHLILAN.
    Tahlil itu ucapan LAA ILAAHA ILLALLAH
    Tambahan akhiran “an” ini adalah bahasa Indonesia, yang dimaksud adalah sebuah acara yang (kumpulan) dzikir-dzkir (diantaranya bacaan tahlil), bacaan al-qur’an, dan pengiriman-pengiriman do’a dan pahala yang semuanya itu berhubungan dengan orang yang sudah mati.

    DEFINISI DI BAWAH INI DIAMBIL DARI : http://munzaro.blogspot.com/2010/01/tradisi-tahlil.html
    Kata tahlil merupakan masdar yang berasal dari bahasa arab yaitu : Halala-tahlilan-tahlil, artinya membaca/mengucap kalimat “Laa ila ha illallah” makna inilah yang dimaksud dengan pengertian tahlilan. Dikatakan sebagai tahlil, karena memang dalam pelaksanaanya lebih banyak membaca kalimat-kalimat tahlil yang mengesakan Allah seperti ‘tahlil’ (membaca laa ila ha illallah), tahmid. Dan lain sebagainya sesuai dengan tradisi masyarakat setempat atau pemahaman dari guru (syekh) suatu daerah tertentu. Pada pelaksanaan tahlilan selain bacaan tahlil ada juga beberapa ayat Al-Qur’an, tasbih, hamdalah, sahalawat dan lain sebagainya yang bagi umat muslim dianggap memiliki fadhilah dan syafaat. Mereka sering mengamalkanya dalam segala macam acara ritual, bahkan dalam resepsi (sebelum atau sesudah akad nikah pun mereka tidak meninggalkan amalan tahlilan ini. Dengan kata lain : digunakan bacaan-bacaan tetentu yang mengandung banyak keutamaan (fadhilah). Fenomena yang terlihat di masyrakat ada beberapa jenis makna penyebutan kata pelaksanaan tahlilan umumnya dipakai untuk persembahan yang dikelompokan menurut jenis, maksud,dan suasana; ketika dipakai untuk peristiwa gembira disebut syukuran, untuk peristiwa sedih (kematian) atau untuk meminta perlindungan (pindah rumah, menempati kantor/rumah baru, awal membuka usaha dll.) disebut selamatan (mohon perlindungan), dan untuk meminta sesuatu disebut hajatan (menghasratkan sesuatau). Disamping itu juga tahlil dilaksanakan pada acara-acara tetentu seperti pada saat seseorang akan pergi jauh dan dalam waktu yang cukup lama (pergi haji, merantau belajar, atau bekerja diluar negeri), acara pertemuan keluarga seperti arisan keluarga maupun halal- bihalal, khitanan. Tradisi tahlil dalam masyrakat jawa juga sering disebut dengan kata sedekah (sedekahan, karena dalam setiap kegiatannya diangggap selalu memberikan sedekah (pemberian) baik bagi mereka yang datang berkunjung atau bagi pemilik hajat. Jadi masing-masing saling bersedekah (memberi) dalam bentuk barang atau pun berupa dukungan moral yang sangat mereka harapkan. Dukungan moral diantara mereka secara psikologis dapat saling memberi motivasi. Dalam kenyataan istilah syukuran, hajatan dan sedekah sulit dibedakan, mereka lebih sering menggunakan kata tahlilan.

    Sekarang kita sepakati dulu :

    Contoh dari nabi SAW ada nggak ?

     
  25. ariswan

    15 Mei 2010 at 07:48

    kesimpulanya kalo dah mati amalannya putus, kalo masih hidup amalanya nyambung. jadi kalo orang masih hidup bisa memohon ato berdoa apa saja pada Allah baik sendiri2 ato berjamaah, soal do’a / permohonan diqobul itu hak prerogatif Allah SWT, krn Allah Maha memberi, mengabulkan juga Maha Kuasa. sekarang berdamailah itu lbh baik

     
  26. ariswan

    16 Mei 2010 at 06:36

    kesimpulannya dah mati amalanya putus, masih hidup nyambung. jadi kalo org tahlilan itu msh hidup, mengamalkan bacaan tahlil, kemudian memohonkan do’a untuk simati agr diringankan dosanya, perkara do’a diqobul /tdk urusan Allah yang Maha pengampun, Maha pemberi, Maha mengabulkan. jadi gak perlu saling membeci atau mengolok (QS49::11 /QS108:3 ).

     
  27. mighamir

    17 Mei 2010 at 17:26

    Terima kasih mas ariswan.
    Kami bukan sedang berkelahi, kita sedang berdiskusi, kalau memang para pembela tahlilan itu dalilnya kuat maka saya harus menyadari saya yang salah. Tapi sampai detik ini belum ada dasar yang kuat untuk mensyariatkan Tahlilan.
    Apalagi kita anak muda, yang punya kekuatan dan kemampuan untuk mencari kebenaran.
    Janganlah jadi orang yang hanya mengikuti tradisi tanpa periksa apakah yang ditradisikan benar apa nggak.
    Hanya mengikuti perbuatan nenek moyang kita saja. padahal resikonya amat mahal untuk dibayar, yaitu SURGA atau NERAKA

     
  28. Stovick

    19 Juni 2010 at 06:11

    Wah bagus diskusi ini yg penting tdk boleh menghujat, melaknat, merendahkan karena kita adalah saudara sesama islam. Kita sadari banyak skali faham faham dlm islam maklum kita udah 14 abad jauh dari nabi. Tp tentunya kita udah diberi warisan berupa Al Quran dan hadist. Kalo terjadi perbedaan jangan lari kemana mana ttp kembalilah pd Allah dan rasulnya yaitu Al Qur’an dan hadist. So hati boleh panas tp kepala harus dingin. Ingat ketika Allah marah dan mengusir iblis dari surga? Karena perintah Allah tdk digubris oleh iblis malah iblis berargumentasi dg perintah Allah. Allah tdk butuh argumentasi makhluknya. Maka dari itu patuhilah apa yg diperintah tinggalkan yg dilarang. Semoga kita semua menjadi hamba yg bertaqwa. AMIIIN

     
  29. Kangsukma

    9 Juli 2010 at 11:16

    Ehem… kayaknya ada salah persepsi nih. Menurutku penilaian tahlil menurut Saudara Mighamir betul kalau dipandang dari segi syari’at karena diakui atau tidak, tidak ada nash baik dari Al Qur’an atau pun hadits, tapi dengan catatan tahlil yang dimaksud olehnya tahlil kematian/selamatan/kenduren. Tapi kalau tahlil dari segi bacaan jelas sangat dianjurkan sekali karena itu bisa mengurangi dosa kita.

    Nah, kalau pandangan pribadi saya sendiri tentang tahlil kematian sepanjang tidak ada nash yang menguatkan bukannya hukumnya haram, tapi kalau niatnya untuk si mayit muspro.

    Mengapa Walisongo membuat ibadah tahlil kematian? Sebenarnya maksud Walisongo sendiri tidak untuk ditujukan kepada si mayit melainkan kepada orang yang mendoakan si mayit, diharapkan dengan banyak membaca kalimah thoyyibah hati orang yang mendoakan akan tenang dan bersih sehingga apa pun yang diminta oleh orang tersebut, doanya pasti akan nyampe ke atas. Tapi kalau hati orang yang mendoakan cupet, hitam kelam mau berdoa sampai mumpluk sekali pun insya Allah akan sulit sampai ke atas. So, makanya kalau baca kalimah thoyyibah yang ikhlas dan tenang.

    Mengapa kok ada acara 7 hari, 100 hari dan seterusnya dengan mengadakan kenduren/selamatan?
    Ada berbagai cara buat kita untuk mengurangi dosa kita. Dan perlu diketahui bahwa tingkatan dosa beda-beda. Pertama, ada dosa yang hilang cukup dengan mengucap istighfar; Kedua, ada dosa yang hilang dengan cara berpuasa dan; Ketiga, ada dosa yang hilang dengan cara beramal. Walisongo memandang pada masa itu masyarakat paling getol kalau disuruh beramal dengan cara menyuguhkan makanan (seperti sesaji), nah akhirnya agar mereka merasa ringan dalam mencari ampunan dibuatlah model yang ketiga. Dan ini pun tidak bisa kita persalahkan karena memang kondisi pada waktu itu memang seperti itu, bagaimana dengan sekarang silahkan dipikirkan sendiri. Wallahu a’lam bishowab.

     
  30. putra satria

    13 Juli 2010 at 10:33

    Gini aja dehhh… kita doain aja orang yang mengatakan tahlil bid’ah orang tuanya masuk neraka jahanam…. kalo dia (orang yang mengatakan tahlil bidah) merasa atau marah berarti dia yakin do’anya sampe…..

     
  31. putra satria

    13 Juli 2010 at 10:45

    Imam Syafi’i sebagaimana diriwayatkan dari Abu Nu’aim berkata : “Bid’ah itu ada dua macam, bid’ah terpuji dan bid’ah tercela. Bid’ah yang sesuai dengan sunnah, maka itulah bid’ah yang terpuji sedangkan yang menyalahi sunnah, maka dialah bid’ah yang tercela”.

    Al Hadidi dalam kitab Syarah Nahjul Balaghah berkata : “Lafadz bid’ah dipakai untuk dua pengertian : 1. Sesuatu yang bertentangan dengan Al Qur’an dan Sunnah seperti puasa pada hari raya Idul Adha dan pada hari-hari tasyriq. Perbuatan tersebut walaupun berbentuk puasa akan tetapi dia terlarang dilakukan. 2. Sesuatu yang tidak ada keteranga nash padanya melainkan didiamkan oleh syara’ lalu dilakukan oleh kaum muslimin sesudah wafatnya Rasulullah SAW. Dan apa yang diriwayatkan dari Nabi SAW bahwa “Tiap-tiap bid’ah itu sesat dan setiap yang sesat ada dalam neraka” adalah dimaksudkan untuk bid’ah sesuai dengan pengertiannya yang pertama. Sedangkan perkataan Umar dalam hal shalat tarawih : ”Sesungguhnya shalat tarawih dengan berjama’ah adalah bid’ah dan sebaik-baik bid’ah adalah dia” dimaksudkan untuk bid’ah berdasarkan pengertiannya yang kedua”.

    Ada juga pendapat dari Ibnu Hajar dalam kitabnya Fathul Baari IV/318. Beliau mengatakan : “Pada asalnya, bid’ah itu berarti sesuatu yang diadakan dengan tanpa ada contoh yang mendahului. Menurut syara’ bid’ah itu dipergunakan untuk sesuatu yang bertentangan dengan sunnah, maka jadilah dia tercela. Yang tepat bahwa bid’ah itu apabila dia termasuk diantara sesuatu yang dianggap baik menurut syara’, maka dia menjadi baik dan jika dia termasuk diantara sesuatu yang dianggap jelek oleh syara’, maka dia menjadi jelek …”

    Maka dari beberapa contoh penjelasan ulama di atas dapatlah diambil kesimpulan bahwa tidak semua perkara baru yang diadakan itu akan otomatis menjadi bid’ah yang sesat. Hal ini dikarenakan oleh banyaknya perkara-perkara baru yang diprakarsai para shahabat dibenarkan dan disetujui oleh Nabi SAW padahal beliau sendiri tidak pernah melakukan apalagi memerintahkannya. Bid’ah atau sesuatu yang baru hanyalah bisa dihukumkan sebagai bid’ah yang seat manakala dia itu termasuk diantara prakarsa-prakarsa yang jelek (sayyi’ah) yaitu apabila dia bertentangan dengan dalil-dalil dari Al Qur’an maupun Hadis. Kalau bid’ah itu merupakan bagian dari prakarsa-prakarsa yang baik, maka sangatlah jauh kemungkinan bahwa Allah dan Rasul-Nya akan mengklasifikasikannya sebagai bid’ah yang sesat.

    Maka sekarang mari kita fikirkan bersama, apakah ritual tahlilan, yang didalamnya, sebagaimana yang telah diterangkan diatas, berisikan bacaan-bacaan Al Qur’an, pembacaan istghfar, panjatan doa, shalawat kepada Nabi SAW, dan lain sebagainya itu, dapat dikategorikan sebagai perbuatan bid’ah dhalalah atau bid’ah yang sesat? Apakah amalan-amalan yang dilakukan di dalam tahlilan itu ada yang bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadis ?

    Berikut ini akan kami sampaikan beberapa dalil yang berkaitan dengan amalan-amalan yang dilakukan oleh orang yang masih hidup terhadap mereka yang sudah meninggal.

    Dalil-Dalil Adanya Keterkaitan Orang Yang Masih Hidup Dengan Yang Sudah Meninggal
    1. Hadis tentang wasiat Ibnu Umar yang tersebut dalam kitab Syarah Aqidah Thahawiyah (hal. 458) :
    نقل عن ابن عمر رضي الله عنه انه أوصى ان يُقرأ على قبره وقت الدفن بفواتح سورة البقرة وخواتمها.

    “Dari Ibnu Umar r.a, “Bahwasanya beliau berwasiat agar diatas kuburnya nanti sesudah pemakaman dibacakan awal-awal surat Al Baqarah dan akhirnya”
    Berdasarkan hadis ini Imam Ahmad bin Hambal berkata, “Sampai kepada mayyit (pahala) tiap-tiap kebaikan karena ada nash-nash yang datang padanya dan juga karena kaum muslimin pada berkumpul di setiap negeri, mereka membaca Al Qur’an dan menghadiahkan (pahalanya) kepada mereka yang sudah meninggal. Hal ini terjadi tanpa ada yang mengingkari, maka jadilah dia ijma’.

    2. Hadis dalam sunan Baihaqi dengan isnad hasan :
    أن بن عمر إستحب أن يقرأ على القبر بعد الدفن أول سورة البقرة وخاتمتها

    “Bahwasanya Ibnu Umar menyukai agar dibaca diatas pekuburan sesuadah pemakaman awal surat Al Baqarah dan akhirnya”
    Hadis ini agak semakna dengan yang pertama, hanya yang pertama itu adalah wasiat sedangkan ini adalah pernyataan bahwa beliau menyukai hal tersebut.

    3. Hadis riwayat Ad-Daruquthni :
    من دخل القبور فقرأ {قل هو الله أحد} احدى عشرة مرة، ثم وهب ثوابها للأموات أعطي من الأجر بعدد الأموات

    “Barangsiapa masuk ke pekuburan lalu membaca {Qul Huwallaahu Ahad} 11 kali kemudian dia menghadiahkan pahalanya kepada orang-orang yang telah mati (di kuburan itu), maka ia akan diberi pahala sebanyak orang yang mati di situ”

    4. Hadis marfu’ riwayat Hafidz As-Salafi :
    من مر بالمقابر فقرأ {قل هو الله أحد} احدى عشرة مرة، ثم وهب أجره للأموات أعطي من الأجر بعدد الأموات

    “Barangsiapa melewati pekuburang lalu membaca {Qul Huwallaahu Ahad} 11 kali kemudian menghadiahkan pahalanya kepada orang-orang yang sudah mati (di kuburan itu) niscaya dia akan diberi pahala sebanyak orang yang mati disitu”

    5. Hadis riwayat Thabrani dan Baihaqi :
    عن ابن عمر رضي الله عنهما، ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : اذا مات أحدكم فلا تحبسوه وأسرعوا به الى قبره وليُقرأ عند رأسه فاتحة الكتاب

    “Dari Ibnu Umar r.a. bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Jika mati salah seorang dari kamu, maka janganlah kamu menahannya dan segeralah membawanya ke kubur dan bacakanlah surat Al Fatihah di samping kepalanya”.

    6. Hadis riwayat Abu Daud, Nasa’i, Ahmad dan Ibnu Hibban :
    عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : اقرأوا يس على موتاكم

    Dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Bacakanlah surat Yaasin untuk orang-orang yang mati diantara kamu”.

    Hadis yang terdapat dalam kitab I’anatuth Thalibiin :
    إن أرواح المؤمنين تأتي في كل ليلة إلى سماء الدنيا وتقف بحذاء بيوتها، وينادي كل واحد منها بصوت حزين ألف مرة. يا أهلي، وأقاربي، وولدي. يا من سكنوا بيوتنا، ولبسوا ثيابنا، واقتسموا أموالنا. هل منكم من أحد يذكرنا ويتفكرنا في غربتنا ونحن في سجن طويل وحصن شديد ؟ فارحمونا يرحمكم الله، ولا تبخلوا علينا قبل أن تصيروا مثلنا. يا عباد الله: إن الفضل الذي في أيديكم كان في أيدينا، وكنا لا ننفق منه في سبيل الله، وحسابه ووباله علينا، والمنفعة لغيرنا. فإن لم تنصرف – أي الارواح – بشئ، فتنصرف بالحسرة والحرمان. وورد أيضا عن النبي (ص) أنه قال: ما الميت في قبره إلا كالغريق المغوث. ينتظر دعوة تلحقه من ابنه أو أخيه أو صديق له، فإذا لحقته كانت أحب إليه من الدنيا وما فيها.

    “Sesungguhnya ruh-ruh para orang mukmin selalu mendatangi langit dunia pada tiap harinya. Mereka berada di sejurusan rumahnya sambil masing-masing dari mereka memanggil-manggil dengan suara yang sangat memelas sebanyak seribu kali; “Wahai keluargaku, kerabatku, wahai orang yang menempati rumah-rumahku, yang mengenakan pakaianku, dan yang membagikan harta (warisan) ku. Adakkah dari kalian yang mengingat dan memikirkan kami di pengasingan ini, (disaat) kami berada di dalam penjara yang panjang dengan penjagaan yang sangat ketat ?. Maka kasihanilah kami, mudah-mudahan Allah (juga) akan mengasihani kalian. Dan janganlah kalian semua kikir terhadap kami sebelum kalian akan menjadi seperti kami (mati). Wahai hamba-hamba Allah : Sesungguhnya keutamaan yang saat ini berada di genggaman kalian dahulu adalah milik kami. Dan kami (saat ini) tidak dapat menafkahkannya di jalan Allah, sedangkan hisab dan bahayanya tetap pada kami, padahal yang memanfaatkannya adalah bukan kami”. Maka jika mereka kembali (ke alamnya) dengan tidak memperoleh apa-apa (dari orang-orang yang mereka panggil), maka kembalinya mereka itu dalam keadaan merugi. Dan telah datang juga di dalam hadis, dari Nabi SAW bahwasanya beliau bersabda, “Tidaklah mayyit di dalam kuburnya kecuali seperti orang yang sedang tenggelam yang memerlukan pertolongan. Dia menunggu doa yang disampaikan dari anaknya atau saudaranya atau kawannya. Apabila ia mendapati doa, maka hal itu lebih ia sukai dari pada dunia dan seisinya”.

    Fatwa-Fatwa Ulama Tentang Hadiah Pahala Bacaan
    1. Berkata Muhammad bin Ahmad Al Marwazi, “Saya mendengar Ahmad bin Hambal berkata, “Jika kamu masuk ke pekuburan, maka bacalah surat Al Fatihah, Al Ikhlash, Al Falaq, dan An-Nas. Dan jadikanlah pahalanya untuk para penghuni kubur, maka sesungguhnya pahala itu sampai kepada mereka. Tapi yang lebih baik adalah agar si pembaca itu berdoa sesudah selesai dengan : “Ya Allah, sampaikanlah pahala ayat yang telah aku baca ini kepada si fulan ….” (Lihat kitab : Hujjatu Ahlis Sunnah Wal Jama’ah, 15)

    2. Berkata Syaikh Ali bin Muhammad bin Abil Iz, “Adapun membaca Al Qur’an dan menghadiahkan (pahala) nya kepada orang mati secara sukarela dengan tanpa upah, maka pahalanya akan sampai kepadanya sebagaimana sampainya pahala puasa dan haji”.

    3. Berkata Ibnu Taimiyah, “Sesungguhnya mayyit itu dapat beroleh manfaat dengan bacaan Al Qur’an sebagaimana dia beroleh manfaat dengan ibadah-ibadah kebendaan seperti sedeqah dan yang seumpamanya”.

    Ibnu Taimiyah pernah juga ditanya tentang bacaan Al Qur’an untuk mayyit dan juga tentang tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir jika dihadiahkan kepada mayyit, sampaikah pahalanya atau tidak?. Maka beliau menjawab sebagaimana tersebut dalam kitab beliau Majmu’ Fataawa jilid 24 hal. 324, “Sampai kepada mayyit pahala bacaan Al Qur’an dari keluarganya. Dan tasbih, takbir serta seluruh zikir mereka kepada Allah Ta’ala apabila mereka menghadiahkan pahalanya kepada mayyit akan sampai pula kepadanya”.

    4. Berkata Ibnu Qayyim Al Jauziyah, “Sesuatu yang paling utama dihadiahkan kepada mayyit adalah sedeqah, istighfar, berdoa untuknya dan berhaji atas nama dia. Adapun membaca Al Qur’an dan menghadiahkan pahalanya kepada si mayyit dengan suka rela tanpa imbalan, maka akan sampai kepadanya sebagaimana pahala puasa dan haji juga sampai kepadanya”.

    Ulama-ulama selain dari mazhab Syafi’iyah yang menyetujui hadiah pahala bacaan kepada mayyit antara lain adalah : Imam Ahmad bin Hambal, Syaikh Ali bin Muhammad bin Abil Iz, DR. Ahmad Syarbasi, Ibnu Taimiyah, Ibnu Qoyyim, tokoh-tokoh mazhab Hanafi dan Maliki, dan lainnya.

     
  32. mighamir

    13 Juli 2010 at 11:27

    Silahkan aja berdo’a sesuka hati sampiyan. Terkabul dan tidaknya do’a sampiyan kan Allah yang menentukan. Kalau ucapan kita dan perbuatan kita serta hati kita sesuai dengan yang telah diajarkan oleh Allah kepada kita lewat Nabi kita Muhammad SAW tidak mungkin akan dimasukkan Neraka gara-gara do’a seseorang.

    Bid’ah secara bahasa adalah sesuatu yang baru, atau membuat sesuatu dari yang nggak ada menjadi ada. seperti mobil, HP, komputer, dzikir model baru, shalat model baru, dll

    Setelah Islam datang bid’ah menjadi sebuah Istilah khusus yaitu membuat sesuatu dalam Agama (Aqidah, Ibadah dan Akhlaq).

    Apakah mobil adalah masalah agama ? apakah termasuk bid’ah ?
    Jawab :
    Kita sepakat menjawab mobil itu bukan urusan agama, tapi mobil itu urusan duniawi. secara bahasa (etimologi) mobil masuk bid’ah, tapi secara istilah tidak termasuk bid’ah karena bukan urusan agama.

    Bagaimana hukum mobil ?
    Jawab :
    Karena mobil adalah masalah duniawi, maka kaidah Ushul Fiqh yang dipakai adalah Al-Ashlu fil Asy-ya’ al-Ibahah (artinya Hukum asal dalam hal duniawi adalah boleh atau mubah)
    Jadi Hukum mobil itu boleh alias mubah

    Apa hukum shalat Shubuh 4 Raka’at ?
    Jawab :
    Jelas kita sepakat bahwa shalat adalah urusan agama.
    kalau berdasarkan akal kita, 4 raka’at tentu lebih baik dari 2 raka’at.
    Tapi dalam agama kan sudah ditentukan bahwa shalat subuh itu 2 Raka’at nggak boleh ditambah atau dikurangi, kecuali ada dalil yang menjelaskan perubahan tersebut.

    Maka dalam hal ini tambahan 2 raka’at kita sebut bid’ah secara istilah yang diancam dengan ancaman neraka karena membuat ibadah baru.

    Dalam kaidah Ushul fiqh yang berlaku adalah : Al-Ashlu fil ibadah lit Tahrim artinya Hukum asal dalam ibadah adalah terlarang, Jadi kesimpulannya Shalat shubuh 4 raka’at haram dilakukan karena bid’ah secara istilah.

    Demikian penjelasan singkat tentang bid’ah secara bahasa dan secara Istilah.
    Kalau ada definisi secara bahasa dan secara istilah, maka pemakaiannya didahulukan yang secara istilah.

    Seperti Istilah “Shalat”
    Secara bahasa shalat artinya do’a.
    Secara Istilah artinya Ibadah yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam.

    kalau ada orang mengatakan saya sudah shalat, maka yang kita pakai adalah yang istilah bukan arti secara bahasa. Kalau secara istilah tidak tepat baru kita pakai secara bahasanya.

     
  33. putra satria

    19 Juli 2010 at 09:54

    pa Itu Bid’ah ?
    Bid’ah berarti mengada-adakan sesuatu urusan agama yang tidak pernah dilakukan sebelumnya oleh Nabi SAW. Singkatnya, apa saja yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi SAW kemudian dilakukan oleh umat setelah beliau, maka hal itu dinamakan bid’ah.
    Hadis-hadis berkenaan dengan bid’ah diantaranya adalah :
    من أحدث في أمرنا ما ليس منه فهو رد

    “Barangsiapa yang di dalam urusan kami ini (yakni dalam urusan agama) mengadakan soal-soal yang bukan dari agama, ia tertolak” (Riwayat Bukhari-Muslim)
    إن خير الحديث كتاب الله، وخير الهدى هدى محمد، وشر الأمور محدثاتها، وكل بدعة ضلالة، وكل ضلالة في النار

    “Bahwasanya sebaik-baik pembicaraan adalah Kitabullah (Al Qur’an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Soal yang paling buruk dalam urusan agama ialah hal yang diadakan, dan semua bid’ah adalah sesat, dan setiap yang sesat di dalam neraka” (Riwayat An Nasa’i).

    Namun demikian hadis tersebut dikalangan ulama telah menimbulkan perbedaan penafsiran. Bagi mereka yang beraliran tekstual (harfiyah) mereka langsung saja menyimpulkan bahwa setiap perkara baru yang tidak ada perintahnya secara langsung baik dari Al Qur’an maupun Hadis dan juga tidak pernah dikerjakan oleh Nabi kita Muhammad SAW adalah termasuk perkara bid’ah yang sesat walaupun dipandang baik oleh kaum muslimin. Sedangkan bagi mereka yang beraliran kontekstual yakni mereka yang tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan dari suatu dalil melainkan mengaitkannya terlebih dahulu dengan beberapa dalil lainnya, baik secara tersurat maupun tersirat tidaklah menyimpulkan bahwa setiap yang baru itu adalah bid’ah yang sesat. Akan tetapi bid’ah yang sesat itu adalah perkara-perkara baru yang bertentangan dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah. Dan itulah- yang oleh sebagian ulama- dikatakan sebagai bid’ah sayyi’ah atau bid’ah yang jelek. Adapun perkara-perkara baru yang tidak bertentangan dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah bahkan kalau ditelusuri justru bersesuaian dengan ruh an-nash yakni jiwa dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah itu, maka tidaklah dia dikatakan sebagai bid’ah yang sesat-sebagaimana disebutkan dalam hadis itu- melainkan bid’ah hasanah atau bid’ah yang baik.

    Imam Syafi’i sebagaimana diriwayatkan dari Abu Nu’aim berkata : “Bid’ah itu ada dua macam, bid’ah terpuji dan bid’ah tercela. Bid’ah yang sesuai dengan sunnah, maka itulah bid’ah yang terpuji sedangkan yang menyalahi sunnah, maka dialah bid’ah yang tercela”.

    Al Hadidi dalam kitab Syarah Nahjul Balaghah berkata : “Lafadz bid’ah dipakai untuk dua pengertian : 1. Sesuatu yang bertentangan dengan Al Qur’an dan Sunnah seperti puasa pada hari raya Idul Adha dan pada hari-hari tasyriq. Perbuatan tersebut walaupun berbentuk puasa akan tetapi dia terlarang dilakukan. 2. Sesuatu yang tidak ada keteranga nash padanya melainkan didiamkan oleh syara’ lalu dilakukan oleh kaum muslimin sesudah wafatnya Rasulullah SAW. Dan apa yang diriwayatkan dari Nabi SAW bahwa “Tiap-tiap bid’ah itu sesat dan setiap yang sesat ada dalam neraka” adalah dimaksudkan untuk bid’ah sesuai dengan pengertiannya yang pertama. Sedangkan perkataan Umar dalam hal shalat tarawih : ”Sesungguhnya shalat tarawih dengan berjama’ah adalah bid’ah dan sebaik-baik bid’ah adalah dia” dimaksudkan untuk bid’ah berdasarkan pengertiannya yang kedua”.

    Ada juga pendapat dari Ibnu Hajar dalam kitabnya Fathul Baari IV/318. Beliau mengatakan : “Pada asalnya, bid’ah itu berarti sesuatu yang diadakan dengan tanpa ada contoh yang mendahului. Menurut syara’ bid’ah itu dipergunakan untuk sesuatu yang bertentangan dengan sunnah, maka jadilah dia tercela. Yang tepat bahwa bid’ah itu apabila dia termasuk diantara sesuatu yang dianggap baik menurut syara’, maka dia menjadi baik dan jika dia termasuk diantara sesuatu yang dianggap jelek oleh syara’, maka dia menjadi jelek …”

    Maka dari beberapa contoh penjelasan ulama di atas dapatlah diambil kesimpulan bahwa tidak semua perkara baru yang diadakan itu akan otomatis menjadi bid’ah yang sesat. Hal ini dikarenakan oleh banyaknya perkara-perkara baru yang diprakarsai para shahabat dibenarkan dan disetujui oleh Nabi SAW padahal beliau sendiri tidak pernah melakukan apalagi memerintahkannya. Bid’ah atau sesuatu yang baru hanyalah bisa dihukumkan sebagai bid’ah yang seat manakala dia itu termasuk diantara prakarsa-prakarsa yang jelek (sayyi’ah) yaitu apabila dia bertentangan dengan dalil-dalil dari Al Qur’an maupun Hadis. Kalau bid’ah itu merupakan bagian dari prakarsa-prakarsa yang baik, maka sangatlah jauh kemungkinan bahwa Allah dan Rasul-Nya akan mengklasifikasikannya sebagai bid’ah yang sesat.

    BACALAH !!!!

     
  34. Kangsukma

    26 Juli 2010 at 07:38

    Kok pertentangan pro dan kontra semakin ramai ya. Sebenarnya tentang tahlil kematian jawabannya mudah saja, LAKUKAN bila memang kamu anggap benar dan JANGAN LAKUKAN bila kamu anggap salah.
    Sesuatu yang kita TAHU dasar hukumnya dan substansi di dalamnya akan lebih bermanfaat dan sampai ke Tuhan, sedangkan sesuatu yang kita TIDAK TAHU dasar hukumnya atau TIDAK TAHU alasan/substansi di dalamnya (sekedar mengekor buta) niscaya akan muspro.
    Orang yang ingin mengikuti tradisi kita, WAJIB bagi kita untuk menjelaskan maksud, tujuan, dan menunjukkan dasar hukumnya, tapi bagi orang yang tidak ingin ikut kita ngapain susah-susah kita bujuk-rayu.
    Tegasnya, orang mukmin dituntut untuk selalu BERILMU.

     
  35. mighamir

    9 Agustus 2010 at 23:07

    Kata Shahabat Umar bin Khaththab RA:
    ”Sesungguhnya shalat tarawih dengan berjama’ah adalah bid’ah dan sebaik-baik bid’ah adalah dia” dimaksudkan untuk bid’ah berdasarkan pengertiannya yang kedua”

    Ma’af !
    Dalam masalah ini saya katakan Umar bin Khaththab ra telah salah memakai kata bid’ah (bukan berarti saya menghina umar), shahabat nabi bisa salah termasuk Umar bin Khaththab ra karena memang Umar bukan Nabi, dan beliau tidak makshum (terjaga dari kesalahan).

    Selain kejadian itu Umar bin Khathtab juga pernah salah ketika umat Islam menghadapi orang-orang yang enggan membayar zakat, umar sempat menghalangi Abu Bakar ash Shiddiq untuk memerangi orang-orang yang membayar zakat, tapi setelah Abu Bakar RA bacakan satu ayat, Umar bin khaththab akhirnya mendukung Shahabat Abu Bakar Shiddiq, Umar bin Khaththab sempat berkata :”Saya sepertinya nggak pernah dengar ayat itu ”

    Kejadian lain : ketika Nabi Muhammad SAW meninggal dunia, Umar bin khaththab mendengar berita itu dan tahu betul bahwa Nabi SAW telah meninggal, Umar bin Khaththab RA berkata dengan nada marah :”Siapa saja yang mengatakan Muhammad telah meninggal akan saya penggal lehernya” tak satupun umat islam saat itu yang berani menghadapi Umar bin Khaththab yang sedang marah. Kemudian Abu Bakar Ash-shiddiq membacakan ayat, baru kemudian Umar bin Khaththab sadar akan kesalahannya. Bahwa Nabi bisa meninggal dunia.

    Jadi perkataan atau perbuatan shahabat semata-mata tidak bisa dijadikan dasar kecuali sesuai dengan Al-Qur’an dan As-sunnah yang shahih.

    Kenapa saya katakan salah ?
    Saya katakan salah karena sebelum Umar bin Khathtab menjadikan pelaksanaan shalat tarawih berjama’ah, Nabi sudah melakukannya meskipun hanya 3 hari yaitu pada malam 1, 2, 3 bulan ramadhan Nabi sudah melakukan Shalat tarawih dengan cara berjama’ah, maka tidak bisa disebut bid’ah atau sebaik-baik bid’ah karena Nabi sudah melakukannya haditsnya sebagai berikut :

    أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى بِصَلاَتِهِ نَاسٌ، ثُمَّ صَلَّى مِنَ الْقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ، ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِِ أَوِ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ: قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ، وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنَ الْخُرُوْجِ إِلَيْكُمْ إِلاَّ أَنِّي خَشِيْتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ. وَذَلِكَ فِيْ رَمَضَانَ

    “Sesungguhnya Rasulullah saw pada suatu malam shalat di masjid lalu para shahabat mengikuti shalat beliau, kemudian pada malam berikutnya (malam kedua) beliau shalat maka manusia semakin banyak (yang mengikuti shalat Nabi saw), kemudian mereka berkumpul pada malam ketiga atau malam keempat. Maka Rasulullah saw tidak keluar pada mereka, lalu ketika pagi harinya beliau saw bersabda: ‘Sungguh aku telah melihat apa yang telah kalian lakukan, dan tidaklah ada yang mencegahku keluar kepada kalian kecuali sesungguhnya aku khawatir akan diwajibkan pada kalian,’ dan (peristiwa) itu terjadi di bulan Ramadhan.” (Muttafaqun ‘alaih)

     
  36. mighamir

    9 Agustus 2010 at 23:13

    Yang Jelas Nabi SAW tidak pernah melakukan ibadah TAHLILAN seperti yang dilakukan oleh orang-orang di zaman sekarang ini. Tolong bawakan hadits atau ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa Nabi pernah melakukan ibadah tahlilan ….!

     
  37. Nuraulia

    15 Agustus 2010 at 05:25

    bner tuh., nabi gak pernah ngadain tahlilan. Tahlilan hanyalah budaya hindu-budha yang masih di gunakan hingga kini.

     
  38. Rahman BACIP

    24 Agustus 2010 at 12:39

    pmbahsn yg bgus yg banyk m’ngundang komentar , dengan bnyak’a komentar yg masuk , itu m’nandakn masih banyak para pemuda yg m’nyukai kajian2 seperti ini , mudah2an dngan sling mmberi komentar bisa saling mmberi masukan satu sama lain , jd yg mmberi komentr jngan mmbabi buta m’nyalhkan p’nulis , coba berikn alasan2 yg kuat , sesuai quran dan sunnah .

     
  39. mighamir

    2 September 2010 at 21:43

    Nah kan bingung kalau ditanya nabi pernah tahlilan kagak ?

     
  40. kholis

    29 September 2010 at 09:51

    kalau anda memang tidak setuju dengan tahlilan atau bacaan2 al-Qur’an yang dihadiahkan kepada orang mati silahkan!!! tapi jangan mengajak orang untuk berhenti bertahlil atau melarangnya karena tahlil merupakan hal yg baik yg dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat…
    saya sarankan agar anda belajar lebih banyak lagi tentang Islam biar tidak gampang mengatakan bid’ah & haram. karena pendapat anda menyesatkan orang lain dan sangat kaku…

     
  41. kholis

    29 September 2010 at 09:58

    Mengadakan pertemuan atau perkumpulan untuk membaca Al-Qur’an, shalawat, istigfar, tahlil dan dzikir lainnya, yang pahalanya dihadiahkan kepada orang yang telah meninggal dunia, hukumnya adalah boleh (jaiz).
    Sebagaimana disampaikan oleh Al-Imam Muhammad bin Ali Muhammad Al-Syaukani : Kebiasaan di sebagian negara mengenai perkumpulan atau pertemuan di Masjid, rumah, di atas kubur, untuk membaca Al-Qur’an yang pahalanya dihadiahkan kepada orang yang telah meninggal dunia, tidak diragukan lagi hukumnya boleh (jaiz) jika di dalamnya tidak terdapat kemaksiatan dan kemungkaran, meskipun tidak ada penjelasan (secara dzahir) dari syari’at. Kegiatan melaksanakan perkumpulan itu pada dasarnya bukanlah sesuatu yang haram (muharram fi nafsih), apalagi jika di dalamnya diisi dengan kegiatan yang dapat menghasilkan ibadah seperti membaca Al-Qur’an atau lainnya. Dan tidaklan tercela menghadiahkan pahala membaca Al-Qur’an atau lainnya kepada orang yang telah meninggal dunia. Bahkan ada beberapa jenis bacaan yang didasarkan pada hadist shahih seperti ; Bacalah surat Yasin kepada orang mati di antara kamu. Tidak ada bedanya apakah pembacan surat Yasin tersebut dilakukan bersama-sama di dekat mayit atau di atas kuburnya, dan membaca Al-Qur’an secara keseluruhan atau sebagian, baik dilakukan di masjid atau di rumah. (Al-Rasa’il Al-Salafiyah, hal. 46)
    Selanjutnya Al-Syaukani menyampaikan :
    Para sahabat juga mengadakan perkumpulan di rumah-rumah mereka atau di dalam masjid, melagukan syair-syair, mendiskusikan hadist dan kemudian mereka makan dan minum, padahal di tengah-tengah mereka ada Nabi saw. Orang yang berpendapat bahwa melaksanakan perkumpulan yang di dalamnya tidak terdapat perbuatan-perbuatan haram adalah bid’ah, maka ia salah, karena sesungguhnya bid’ah adalah sesuatu yang dibuat-buat dalam masalah agama, sedangkan perkumpulan ini (semacam tahlil), tidak termasuk bid’ah (membuat ibadah baru). (Al-Rasa’il Al-Salafiyah, hal. 46)

     
  42. zam

    1 Oktober 2010 at 13:19

    subhanalloh…diskusi yang sangat mantap dan penuh semangat.. jadi yang mau tahlilan silahkan asal berdasarkan ilmu, dan tidak menyalahkan orang yang tidak tahlilan.(tapi soal makanan klo bisa bilangin sama yang mo pada ikut tahlilan supaya bawa makanan dari rumah masing2. akan lebih baik lagi jika ada orang yang menkoordinir soal makanan supaya tidak memberat kan orang yang sedang berduka), dan bagi yang tidak tahlilan berdasarkan ilmunya pun silahkan tapi jangan menyalahkan orang yang tahlilan. nabi berpesan kepada kita “ikhtilaful ummati rahmatun” perbedaan pendapat diantara ummatku adalah rohmat..ambil hikmahnya aja bahwa ilmu itu luas..cara belajar kita yang hidup di zaman sekarang
    ( bukan zaman nabi ) kita belajar tidak langsung dari nabi. melainkan dari para ulama yang mewarisi para nabi, maka dari itu wajar apabila terdapat perbedaan pendapat,. so,,jalani aja yang kita tahu menurut ilmu dan keyakinan kita..dan saya rasa diskusi ini lebih baik cukup ga harus di lanjutkan lg..krna ga akan ada ujungnya alias debat kusir..ingat ” PERBEDAAN PENDAPAT ITU RAHMAT” bukan saya yang ngomong lho..itu nabi kita semua.

     
  43. azam

    2 Oktober 2010 at 09:01

    kalau UMAR bin khotob aja pernah salah apalagi MIGHAMIR.

     
  44. mighamir

    3 Oktober 2010 at 13:54

    Saudara Azam benar, kalau orang selevel Umar bin Khatab pernah berbuat salah apalagi saya. Saya bukan nabi yang terjaga dari kesalahan (ma’shum).

    Saudara benar.
    Nabi aja pernah salah ketika melarang petani mengawinkan korma karena sifat kemanusiaannya. Akhirnya ketika kurma yang tidak dikawinkan tersebut tidak banyak menghasilkan, petani merugi dan protes kepada Nabi SAW, Nabi SAW bersabda : Untuk masalah agamamu kamu wajib menanyakan kepadaku, untuk masalah keduniaan kamu, kamu lebih tahu tentang masalah duniamu (Muttafaqun alaihi).

     
  45. mighamir

    3 Oktober 2010 at 13:57

    Hadits tentang : ikhtilaful ummati rahmatun
    sekedar koreksi, hadits ini tidak dapat dipakai karena sanadnya lemah (Dhaif), kalau haditsnya lemah berarti bukan dari Nabi SAW.

     
  46. mighamir

    3 Oktober 2010 at 14:03

    Untuk saudara zam : soal makanan klo bisa bilangin sama yang mo pada ikut tahlilan supaya bawa makanan dari rumah masing2. akan lebih baik lagi jika ada orang yang menkoordinir soal makanan supaya tidak memberat kan orang yang sedang berduka.

    Sangat setuju saya kalau makanannya bawa sendiri, sehingga keluarga yang ditinggal mati tidak tambah kesedihannya. Sudah ditinggal mati masih harus ngutang untuk biaya TAHLILAN, kasihan……

     
  47. Yudi

    26 Oktober 2010 at 16:43

    Klo sampean bilang bid’ah ada yg baik harus d tanyakan keislamannya..& harus baca istigfar..&syahadat

     
  48. edywitanto

    27 Oktober 2010 at 15:51

    Nama saya edy witanto blog saya ISLAM DAN ALQURAN
    saya sangat setuju sekali dengan alquran bahwa doa yang di kirim kepada orang yang sudah meninggal tidak pernah sampai .sebenarnya doa itu untuk dirinya sendiri
    kalau tradisi tahlil haram saya kurang sependapat sebab islam selalu berproses dari baik menjadi lebih baik ,dulu di zaman nabi kendaraan adalah unta dan gajah akan tetapi kalau kita textual harus sesuai dengan apa yang di contohkan nabi maka kita akan ketinggalan zaman karena sekarang bukan zaman unta dan gajah.menurut saya ada perbedaan antara diskusi dan perdebatan kalau fersi islam
    seorang yang beruntung adalah seorang yang mengikuti perkataan atau pola pikir yang paling baik
    menurut penelitian saya dan saya pernah mengalami sendiri tahlil sangat bermanfaat bagi keluarga yang ditinggalkan ,seorang yang ditinggal oleh seseorang yang dicintai adalah persoalan yang dasyat dan kita sebagai umat islam wajib menemani,supaya orang itu dallam memikul beban tidak marasa sendiri maka dihibur lah dengan keluarga dekat dengan handay taulan dalam masa genting selama tujuh hari, kita berkumpul bersama sama selama sambil membaca kalimat toyibah ,setelah mulai kuat kita berkumpul lagi selama 40 hati dan dirasa semakin kuat makin jauh waktunya selama 100 hari kalau sudah mulai memahami betul tentang diri dan persoalannya kita kunjungi lagi dalam 1000 hari, menurut saya ini islami betul
    sebab menurut ilmu psikologi seseorang yang di timpah mala petaka dan merasa sendiri tanpa di kelilingi sahabat dan handai taulan sangat berbahaya ,seperti kejadian dengan keluarga saya ,saat istrinya meninggal dunia dan setelah tiba didlam rumah dia tidak sadarkan diri ,andai saat itu tidak ada sanak keluarga dan sahabat apa yang terjadi . menurut buku karangan siapapun saya tidak akan mempercayai sebab alquran mengatakan jangan engkau bicara sebelum engkau melakukan sungguh kebencian Allah amat besar terhadap orang yang beriman……as shaf ayat 2 dan 3 dan kalau kita bediskusi masih memakai pola pikir orang lain berarti kita belum mendapatkan ilmu al hikmah,saya memahami betul pola pikir anda dan kebetulan anda membaca literatur yang mendukung argument anda ,titik persoalannya hanya masalah sedekah akan tetapi anda melebih lebihkan persoalan ,ada pepatah kalau membunuh tikus jangan membakar rumah ,kalau persolan terletak pada sedekah kita benahi kesalahan dalam sedekahnya bukan mengharamkan tahlilnya assalamualaikum kalau benar datangnya dari allah kalau salah datangnya dari saya sendiri
    ,kritik membangun kalau berdiskusi harus mampu membedahkan emosi dan logika

     
  49. ihsansab

    25 Desember 2010 at 10:25

    PENDAHULUAN

    1. Latar Belakang

    Salah satu budaya masyarakat Indonesia apabila ada orang yang meninggal dunia baik itu keluarga, tetangga ataupun relasi adalah berkumpul di rumah duka, mushalla maupun Masjid terdekat untuk membaca ayat – ayat Quran, berdoa bersama – sama, dzikir, shalawat dan lain – lain

    Tradisi seperti ini sering pula disebut dengan tahlil. Adat seperti ini sedah berlangsung lama dan tak mustahil bersamaan dengan datangnya Islam ke negeri ini. Namun tidak banyak sebagian orang yang memberikan penilaian bahwa tahlil adalah peninggalan religi hindu – budha yang sudah diwarnai corak keislaman pada ahwalussalaf tersebut, hal ini bisa dimaklumi mungkin karena mereka yang menganggap negative masih belum mengetahui nilai – nilai tahlil. Maka berangkat dari pembelaan terhadap tudingan tersebut saya berinisiatif memaparkan makna sesengguhnya tahlil sekaligus tujuan serta menyajikan beberapa pendapat uluma yang memiliki pro dan kontra pada tahlil

    2. Rumusan Masalah

    Berdasarkan latar belakang di atas maka dalam makalah ini akan dirumuskan masalah sebagai berikut:

    1. Apakah definisi tahlil ?
    2. Bagaimana hukum tahlil dan para ulama menyikapi tahlil ?
    3. Apa manfaat tahlil ?
    2. Tujuan

    Sesuai dengan rumusan masalah tersebut maka tujuan pemakalah adalah memberikan pemahaman tentang:

    1. Definisi tahlil

    2. Hukum tahlil dan para ulama menyikapi tahlil

    3. Manfaat tahlil

    D. Teori

    Karya ilmiyah ini menggunakan unsur religi dan sosial melalui penelitian pada kitab – kitab klasik yang sudah di anggap berbau amis dan dijauhi para penerus generasi ummat

    PEMBAHASAN

    1. Definisi Tahlil

    Pengertian tahlil adalah bersama – sama melakukan doa bersama untuk orang yang sudah meninggal dunia dengan tujuan mengharap amalnya dimaqbul, diampuni dosa – dosanya oleh Allah SWT. Dan senantiasa dimasukkan kedalam jannah al na`im[1], akan tetapi sebelumnya mengicapkan kalimah thayyibah[2]dengan wujud hamdalah[3], shalawat[4], dan tidak ketinggalan hailalah[5]

    Dalam tradisi tahlil ini juga tidak luput dari sedekah baik berupa makanan atupun hidangan yang bisa dibawa pulang oleh orang yang hadir untuk berdoa sebagai ungkapan terima kasih atas bantuan dari segi doa

    Jadi karena prilaku positif tersebut memiliki unsur khusus untuk dikatagorikan tahlil maka perlulah kiranya saya jabarkan makna menyeluruh dari tahlil melalui arti komponen – komponennya seperti :

    * Hamdalah

    Secara harfiyah hamd berarti ucapan syukur yang dipanjatkan seorang abdi pada Allah sebab pemberian nikmat dan kesempurnaan dzatnya serta hanya kepadaNyalah kita memuji dan berpasrah diri bukan kepada selainNya, maka dalam tahlil pengucapan hamdalah sangat diprioritaskan untuk tawassul lil Khair[6] ini sesuai dengan Firman yang artinya :

    “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, Maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, Maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan”

    * Shalawat

    Sebuah riwayat mengatakan bahwa shalawat yang dialunkan orang mukmin berguna untuk mendoakan. bahkan betapa pentingnya shalawat sehingga Allah menganjurkannya dalam Al – Quran yang maknanya :

    “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”

    * Hailalah

    Secara tekstual hailalah berasal dari kata La ilaha Illallah yang berarti sebuah kesksian bahwa tiada tuhan selain Allah namun kata ini memiliki proses Dzikrul juz`I wa iradatu al – kull dengan cakupan makna menyebutkan sebagian kesaksian akan tetapi harus maksimal dalam beramal

    2.Hukum Tahlil dan Para Ulama Menyikapi Tahlil

    Tentunya dengan pengertian tahlil dan warna – warninya pembaca sudah bisa memahami bagaimana hukum tradisi tahlil (yang bisa di download diblog pribadi penyusun[7]) karena adanya bacaan – bacaan dan amalan – amalan yang memang merupakan sunnaturrasul[8]. Tapi walau begitu sengaja pada bagian ini penyusun kemas dalam lingkaran hukum tahlil dengan menuturkan perbedaan ulama baik itu yang menyunnahkan ataupun yang membid`ah[9]kan. Berikut perbedaan tersebut :

    * Ulama yang menganjurkan tahlil

    Selain dalil secara akal yang berupa silaturrahim bagi peziarah ataupun bersedekah bagi tuan rumah juga ada beberapa teks Al – Quran yang menyinggungnya seperti :

    “Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya”

    Dengan ayat ini Allah memerintahkan kita berdzikir sebanyak – banyaknya dan oleh sebagian kelompok ulama yang pro pada tahlil difahami sebagai perintah untuk dzikir dalam kegiatan tahlilan. Dan menurut kelompok ini pula Tidak hanya Al – Quran, hadispun juga berbicara tentang tahlil melalui hadis dari Maqbal bin Yasar yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dalam kitabnya pada juz III halaman 91

    اقراويس على موتاكم

    Artinya: “ Bacakanlah surat yasin untuk orang yang mati”

    * Ulama Yang Melarang Tahlil

    Menurut K.H. A. Muchit Muzadi dalam pengantar buku tahlil dalam perspektif Al – Quran dan As – Sunnah, Sedikitnya para muslim moderat dan yang bernuansa mu`tazilah memiliki tiga alasan secara akal – akalan menyikapi tahlil, yaitu:

    1. Dianggap sebagai ajang transfer pahala padahal dari segi agama kelakuan seperti ini sangat nihil dan berlawanan dengan syariat
    2. Dianggap sebab – sebab orang melakukan dosa karena berpikiran setelah mati akan ditahlili
    3. Dianggap pemborosan karena yang diberi sedekah bukan hanya fakir miskin

    Selain itu, orang – orang yang mengaku ulama modern dan kontemporer memiliki alasan yang berasal dari Al – Quran dalam hal penolakan tahlil yang memang seakan – akan ajang transfer pahala dengan ayat yang artinya :

    “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya”

    Lantas bagaimana sebenarnya?

    Jawaban gamblang dari pertanyaan ini adalah seperti yang disampaikan Syekh Sulaiman bin Umar Al – `Ajili dalam kitabnya Futuhat Al – Ilahiyyah juz IV halaman 236 yang artinya : “ Ibnu Abbas berkata bahwa hukum ayat tersebut telah dihapus karena itu adalah syari`at pada Nabi Ibrahim dan Nabi Musa, sedangkan kita hidup pada zaman Nabi Muhammad. Ayat yang menghapus adalah : والحقنا بهم ذريتهم yang intinya seorang anak dapat masuk surga karena amal baik ayahnya

    3. Manfaat Tahlil

    Minimal ada enam manfaat yang tidak luput dari tradisi tahlil, yaitu :

    1. Sebagai usaha bertaubat kepada Allah untuk diri sendiri dan orang yang sudah meninggal dunia
    2. Merekatkan ukhuwah islamiyah[10] antar sesama baik bagi yang masih hidup dan berkumpul ditempat tahlil maupun bagi yang sudah meninggal dunia dengan pahala bacaan sebab sejatinya, persaudaraan itu tidak terputus dengan kematian
    3. Untuk mengingat bahwa akhir dari sebuah kehidupan tentu adalah kematian dan siapapun tidak bisa melewatinya
    4. Agar lebih bisa ingat pada Allah ditengah hiruk pikuk kesibukan yang selalu digeluti manusia
    5. Tahlil bisa digunakan menjadi media dakwah, contoh pada setiap acara keluarga tentu ada tahlil sebut saja seperti acara muslimat, pengajian kampung dan lain – lain
    6. Sebagai manifestasi dari rasa cinta sesama sekaligus penenang hati bagi keluarga yang sedang dirundung duka

    PENUTUP

    Kesimpulannya, Tahlil yang merupakan tradisi masyarakat Indonesia ternyata penuh dengan tantangan untuk mencapai sepakat dan deal untuk menuju kegiatan yang dinilai positif dan memiliki manfaat serta tujuan jelas bila dipandang dari segi aqli[11] dan naqli[12]

    DAFTAR PUSTAKA

    Amauli, Jawad. Rahasia Tafsir Al-Fatihah, Bogor Cahaya 2003

    Al – Idrusy, Imran. Keutamaan Shalawat, Surabaya Putra Pelajar 2001

    Zuhdi, Achmad. Fiqh Moderat, Sidoarjo Muhammadiyah Univversity Press 2007

    Abdusshamad , Muhyidiin. Tahlil Dalam Perspektif Al – Quran dan As – Sunnah, Jember Nuris 2006

    [1] Surga yang penuh dengan kenikmatan

    [2] Ucapan – ucapan yang bagus dan agung

    [3] Pujian yang digemakan karena kenikmatan yang diberikan oleh Allah dan didasari keyakinan

    [4] Sanjungan pada Nabi Muhammad

    [5] Kata dasar tahlil yang kemudian menjadi dominan bagi penyebutan kegiatan ini

    [6] Menuju dan meminta jalan yang baik

    [7] http://www.de2nberhayal.blogspot.com

    [8] Sunnah Nabi Muhammad SAW

    [9] Prilaku yang tidak pernah dilakukan nabi

    [10] Persaudaraan sesama muslim

    [11] Secala nalar akal

     
  50. zamendra

    18 Januari 2011 at 16:57

    Tahlilan itu asal usulnya dari agama animisme yang maksudnya adalah slametan pake 7 hari 100 hari pendake 1000 hari dan seterunya jadi klo mo ikut tradisi agama tersebut silahkan kalo nggak itu lebih bagus karena ngikut perintah Alloh dan Rosulnya

     
  51. sheila

    7 Maret 2011 at 10:34

    khilafiyah adalh kepastian krena masa kita yg dah terlampau jauh dri kurun Belilu Nabi Muhammad SAW………. khilafiyah umat islam hrus kta jdikan rohmat( sbgmna sabda nabi ) yg terpenting adlh komitmen berpegang teguh dgn ajaran islam……… dgn sekuat tenaga, dgn berbagai upaya, namun hati kta d tata dlu keniatannya……..tahlil apa tidak SAMA SAJA………… lagian kta gk tau yg bener yg tahlilan ap yang tidak…….TANYA PDA DIRI KITA SAAT MELAKUKAN SUATU IBADAH. cONTOH : KITA SHOLAT SJA KLO KRENA KITA INGIN DILIAT ORANG YG RAJIN SHOLAT …….. nilainya bg mna? secra fi’liyah gk ad yg nyalahin……. cma klo d blng KURANG BERMAKNA…..bsa sja kan? mari para generasi ISLAM…… buka pikiran jgn bercerai berai hnya dengan kecilnya fikiran kita . Musuh islam lebih cpt dri kita……..WASPADALAH……..

     
  52. sheila

    7 Maret 2011 at 13:52

    Bacaan2 tahlil adlh bacan2 yg baik adanya….. disusun dngan rapi dan baik oleh ulama sampai do’a-do’anya pula. Namun yg perlu d perhatihan adl media Majlis Berbentuk TAHLILAN in hrs d fungsikan lebih bkan hnya sbgai ajang ngrokok gratis & Berkat Gratis aj. misalnya :
    1. di isi pula dngan tausiyah yg bersifat membuka fikiran jama’ahnya agar bsa memahami perbedaan madzhab misalnya, agar pula mengerti bhwa TAHLILAN bukanlh suatu kewajiban. Tp hnya budaya yg benar adanya supaya mrka tidak menyalahkan ketika melihat orang yg tidak TAHLILAN ( dlm arti acara ).
    2. lebih menekankan bgai mna agar SOHIBUL MUSIBAH tidaklah berat dlm memberikan Sajian kpda jama’ah. Cth. Gk usah Pake Berkat, atau peserta membawa sendiri. dll
    3. format TAAHLILAN jadikan media Belajar Masyarakat mengkaji bukan hnya salah satu madzhab saja. agar masyarakat sekali lagi lebih tau perbedaan itu apa.
    4. yang paling penting JANGAN JADIKAN TAHLILAH SEBAGAI MEDIA KAMPANYE, JANGAN JADIKAN TAHLILAN SEBAGAI MEDIA MENCARI IMAGE atau PAMOR/BIAR DI TOKOHKAN (maaf khususnya tokoh Masyarakat )

    hal ioni kami sampaikan krena keadaan sekarang terbukti di lapangan :
    1. Masyarakat menganggap TAHLILAN adlh suatu ke SAKRALAN yg tdk bsa d tinggalkan bahkan Melebihi Ibadah Sholat.
    2. Masyarakat lidak malu ketika tidak melakukan Sholat, TAPI mereka MALU bila tidak IKUT jama’ah TAHLIL.
    3. Terbukti kurangnya pemaparan tentang Makna TAHLIL itu Sendiri
    4. banyak dari kita merasa TAHLIL adalah PALING BENAR dibanding yng Tidak TAHLIL

    Saya sendiri Orang NU Tulen… Tapi klo melihat Fenomena Masyarakat Saat ini Saya SANGAT KHAWATIR………
    xlmet_riyadi@yahoo.com

     
  53. islam barusan

    17 Maret 2011 at 19:30

    cuuuaapekkk saya,, saya baru ja masuk islam kana pengen damai… tapi???
    saya juga prnah ikut tahlilan, trus ada yang nanya hukum ibadah ini,, kata kiainya,, amal ini pahalanya bisa lewat dari ANAK YANG SHOLEH YANG MAU MENDOAKAN,,, jadi yang tahlilan anaknya,, DIBANTU sama jamaah agar lebih baik.. begitu… tapi kalo salah ya saya ga jadilah doain ortu saya yang udah ga ada.. kan percuma,

     
  54. LUV PEACE

    6 April 2011 at 09:31

    betul sekali yang dikatakan mbak shela (ato mas?) menurut pendapat pribadi sih tapi,… Tahlilan oke-oke saja, hal ini sudah diperdebatkan lama, dan memang akhirnya tetap hasilnya tidak akan berubah, ada kubu yang setuju, ada kubu yang tidak setuju, masing-masing punya alasan yang rasional, aqliyan wa naqliyan… untuk itu, akan lebih bijak jk kita menghormati apa yang sudah dimantapi oleh orang lain,….

    dan saya setuju kalo masalah tahlilan itu berkaitan dengan syi’ar, bukan masalah syariat, jadi tidak ada salahnya, saya juga dulu pernah ragu dan menanyakan ini pada guru saya, beliau menjawab (kebetulan beliau orang yang saya sendiri tidak tahu apakah dia NU atau Muhammadiyah, tapi keilmuannya mantaf) ; yang mau tahlilan boleh, yang mau tidak tahlilan boleh, jangan diambil pusing, yang tidak boleh ketika bilang “TAHLILAN ITU WAJIB’ itu yang salah, so pernyataan mbak (ato mas) shela pernyataan yang dalam pandangan aku yang miskin ilmu ini adalah pernyataan yang “cool”, dan saya sangat setuju, mohon ma’af apabila ada kata yang menyinggung, yang benar dari Yang Kuasa, yang salah mungkin karena keyboardnya, he he he he… salam,….

     
  55. darman

    16 April 2011 at 20:15

    Saya sedih jika membaca komentar saudara2 seagama. kenapa selalu berbantahan padahal belum juga belajar mengenai hal yang dibantahkan. jika mengaku islam sebaiknya pengakuan itu dibarengi dengan ilmu islam. orang diakui sebagai sarjana saja belajar selama 17 tahun. apakah kita yang sering berdebat sudah selama itu belajar tentang islam jika belum belajarlah untuk mendengar dari siapa saja kemudian bertanya.

     
  56. faisal

    16 Mei 2011 at 17:38

    saya berkomentar bukan atas nama organisasi ( NU, Persis, ataupun Muhammadiyah ). saya sependapat dengan Mughamir, bahwa tahlilan itu tidak ada perintah dari Nabi Muhammad SAW. Tahlilan yang saudara-saudara perbincangkan itu tidak lebih dari suatu tradisi, yang dikaitkan dengan pelaksanaan ibadah. terima kasih. semoga saudara-saudara tidak ada yang tersinggung.

     
  57. ILHAM

    20 Mei 2011 at 23:58

    Nabi SAW bersabda : Artinya : Apabila seseorang manusia meninggal maka putuslah amalnya, kecuali tiga hal : Shadaqah jariyah (waqaf), atau Ilmu yang bermanfaat dengannya, atau ANAK SHOLEH YG MW MENDO’AKAN ORANG TUANYA (HR. Muslim)
    ===============

    itu sudah dipahami belom????
    artikel ini keliatan bodohnya yang bikin, sama ustadz yang ngajarin,

     
  58. Amar

    29 Mei 2011 at 02:58

    Kalo kirim doa pada orang yang mati nggak nyampek kenapa dalam sholat jenazah harus ngedoain??. Bahkan jika tidak ngedoain jenazah setelah takbir ke3 maka tidak sah sholatnya….. masih banyak lagi dalilnya. Gimana kalo kita diskusi nyata aja, di mana dan kapan bisa anda tentukan sendiri. insya Allah kami siap karena kami juga butuh pencerahan

     
  59. Emand

    14 Juni 2011 at 08:51

    Jangan bicara tentang agama menurut apa yang kita pikir. Tapi berbicaralah tentang agama dari apa yang kita pahami berdasarkan alqur’an dan sunnah yang shahih menurut pemahaman para sahabat dan orang2 yang mengikuti mereka . Karena Islam telah Allah sempurnakan. Tidak boleh kita menambahi atau mengurangi apa yang telah disampaikan oleh Rosulullah. Karena kalau kita bilang ini / itu baik atau lebih baik tanpa diajarkan nabi yang mulia, maka kita sama dengan menuduh nabi berkhianat karena belum menyampaikan kepada ummatnya. Masalah ilmu dunia saja kita nggak berani ngomong banyak kalau kita nggak ahli, apalagi masalah agama.Dan kalau kita nggak yakin dengan ilmu kita, lebih baik jangan beropini sembarangan. Karena nabi bersabda, “barang siapa yang berbohong atas namaku, hendaklah dia mengambil tempat duduknya di neraka”. JADI….MARI KITA BERILMU YANG BENAR DULU..

     
  60. Tebe Ajah

    12 Agustus 2011 at 01:59

    agama bukan untuk diperdebatkan, tapi untuk di amalkan..kayak-nya udah yakin paling pintar dan bakal masuk surga ajah…

     
  61. aq

    12 Agustus 2011 at 16:06

    mighamir

     
  62. hamba allah,

    12 Agustus 2011 at 16:09

    saya sependapat dengan anda,,,rasullullah tidak pernah mengajarkan tahlilan,,,,,,,,,,,barang siapa yg ingin selamat dunia akhirat,maka berpegang teguhlah kpda alquran dan hadist,,,

     
  63. Kamall Dinn

    14 Agustus 2011 at 21:18

    dari komentar2 diatas saya mendapati terlalu susah untuk mentazkirahkan orang yang terlalu tebal kepercayaannya dengan budaya sedangkan penerangan saudara Mighamir sangat mudah untuk di fahami. Di Malaysia perkara2 seperti ini sering terjadi dan kalau saudara Mighamir ini orang malaysia pastinya sudah digolongkan dalam kumpulan Wahabi. Lihat saja Dr Asri Zainal Abidin malah dilabel Pengganas Sdr Rasul Dahri dari Singapore juga tidak terlepas dari tuduhan tersebut.walaubagaimana pun saya sependapat dengan saudara Mighamir teruskan usaha murni anda

     
  64. Irham Lubis

    7 September 2011 at 07:33

    anehnya..pembicaraan ini selalu di anak muda..dan dikalangan orang telah berumur…cukup dengan perbedaan asal damai…coba deh tanya kepad para ulama2 tua itu….sebelum mereka meninggal dunia.

     
  65. ahmad

    4 Oktober 2011 at 21:11

    jgn bnyak omong aq ni org goblok, jgn pernah buat sesuatu yg bakalan nyusahin masyarakat bnyk woooy, yg mau tahlil silahkan, yg gak ya silahkan asalkan kita bisa satu, org udah ngaji alqur’an smpe ke bulan bhkan smpe ke alam yg lo gk prnah liat, rasain sndiri jd jgn mliat kebenaran dr ilmu yg hny kt dpt saja, alias jg jd katak dalam tempurung. klo gk mau ngelakonin mnding diem deh jgn nambahin dosa, msh bnyak yg perlu dibahas. klo ditanya gue. gue pasti jawab gue tahlilan. ok chooy. slamat menempuh surga masing2………………………………………………………

     
  66. ahmad

    6 Oktober 2011 at 08:48

    ۱

     
  67. kimel

    15 Oktober 2011 at 14:34

    enggak pokonya jawab dulu rasulullah pernah ngadain tahlilan yang sekarang dilakukan ga????..eta weh jawab hela,..

     
  68. Far Ha N

    21 Oktober 2011 at 08:08

    setelah saya baca sebagian dari komentar dari atas sampai bawah……., saya simpulkan ini adalah urusan hati yakin atau tidak yakin adalah tergantung kita…., yang penting kita evaluasi diri saja terus menerus, jangan sampai kita mencela orang yang mendirikan madhzhab…, orang orang yang sholeh…., ini urusan bukan baru tentu saja sudah ada sejak dulu…, intinya adalah keyakinan hati bukan keyakinan tentang organisasi tertentu

     
  69. Far Ha N

    21 Oktober 2011 at 08:11

    ini kesimpulan saya nih, terserah setuju atau tidak setuju mah…,

     
  70. Far Ha N

    21 Oktober 2011 at 08:13

    yang terpenting evaluasi terus menerus tentang apa yang kita sudah lakukan bener atau tidak itu yang penting…, ini hanyalah pendapat saya sendiri…, terserah setuju atau tidak setuju mah…,

     
  71. hamba Alloh

    28 Oktober 2011 at 04:12

    sodara mighamir,, mempunyai niat baik,,cuma nuwon sewu ,,,,penyampeanya mengundang kontrofersi,,,,jadinya seperti orang benernya sendiri,,,jika dulu para ulama cara berdakwah seperti sodari ,,,saya berani sepekulasi,,,sodari mighamir sudah modar duluan sebelum ngomong

     
  72. mighamir

    28 Oktober 2011 at 21:31

    Itu adalah makalah murid saya, kalau itu terlalu keras mohon dimaafkan, maklum kayak orang baru belajar silat atau karate kalau baru ban 1 biasanya semuanya akan dijadikan sansak. Maklumilah santri ini baru lulus Pesantren.

     
  73. Migh Fadhlan (@migh_fadhlan)

    28 Oktober 2011 at 21:33

    Semoga yang komentar di sini pakai hati bukan pakai tangan, apalagi pakai kaki

     
  74. ekn

    3 Januari 2012 at 21:44

    saya setuju dengan komentar mighamir

     
  75. paulus

    14 Januari 2012 at 12:27

    kebenaran itu wajib disampaikan, baik secara lemah lembut maupun secara keras. masalah modar atu hidup itu dah takdir Allah. tak perlu takut islam tidak ada pemeluknya. lebih baik dunia ini di isi satu manusia ber-islam dgn jalan yang lurus dripada di isi berjuta manusia ber-islam NU yang gemar banget makan-makan cari duit dengan memanfaatkan kesedihan orang yang sedang berdukan cita.

     
  76. Gusduel

    14 Januari 2012 at 12:40

    alpaaaaatekah….! sodara2 mari kita baca bersama-sama nanti pahalanya kita hdiahkan buat arwah fulan. kalo pahala bisa di hadiahkan artinya dengan keadilan Tuhan DOSA juga bisa dihadiahkan…. Maka dari itu sodara sodari yang ada di LOKALISASI DOLI dijawa timur(tempat lonte-lonte germo terbesar se asia tenggara (JAWA TIMUR KONON GUDANGNYA NU ) silahkan kalian berbuat DOSA bersama-sama nanti DOSAnya dihadiahkan pada arwah fulan… hahahaha KACAU CAK.. nesuo cak yen arepe nesu..!!

     
  77. Kholid el fahd

    26 Januari 2012 at 19:07

    Wa laa talbisul haqqo bil baatihil,wa antum ta’lamuun….
    Dan janganlah mencampur adukkan yang haq dengan bathil sedangkan kamu mengetahui..
    Ayyuhal ikhwah..
    Kita memamg tidak bisa menafikan adanya peran ulama’ seperti walisongo dalam menyebarkan Islam.seperti sunan kalijogo yang berdakwah lewat budaya.sehingga beliau menggunakan acara kenduri orang hindu(3 hari,7hari dst)DENGAN MEMASUKKAN NILAI AJARAN ISLAM
    KE DALAMNYA.misal:TAHLILAN.tetapi para ulama walisongo sendiripun ada yang beda pendapat dengan sunan kalijogo.Bagaimana jika suatu saat nanti umat islam menganggap ritual ini dari ajaran islam,karena islam tidak mengajarkan ritual ini,dan ini tradisi agama lain.Tetapi apa jawaban sunan kalijogo?beliau menjawab,biar kelak suatu saat nanti generasi Islam setelah kita yang meluruskannya.Dari sini dapat kita lihat bahwa sebenarnya walisongo juga mengetahui bid’ah,mereka juga murni berpegang pada al quran dan as sunnah.Karena beliau wafat sebelum sempat meluruskan semua tradisi-tradisi seperti itu.Maka kini adalah tugas kita sebgai generasi penerus untuk meluruskan dan meneruskan da’wah mereka.
    Bukan hanya memandang itu sebuah tradisi yang harus dilestarikan.Apakah tidak tahu bahwa peringatan 3 hari 7hari adalah tradisi orang hindu.Masak islam dicampuradukkan dengan hindu.padahal Allah berfirman:Hai orang2 yang beriman ,masuklah Islam secara Kaffah(menyeluruh)..marilah kita rtnungkan bersama
    sekian,trims..maaf bila ada salah kata

     
  78. rogher

    2 Februari 2012 at 22:59

    gni ajha…:
    bagi yg g percaya tahlil… orang tua kalau sudah mati g usah di tahlili ajha..?
    alau yg percaya tahlil….do’akan sesering mungkin jgan cuma kalu 7 hari 100 hari…dan seterus nya..?
    karna orang meninggal itu adalah orang yg berpndah alam…?
    kita tau kalu orang hidup di dunia btuh makan: telo ,kacang ,nasi, iwak pitek…
    tapi orang hidup ya di akhirat makn nanya adalah do’a..?
    > kalian semua tau kalau ketika orang meninggal membawa tiga amal
    1.amal jariah
    2ilmu yang bermanfaat
    3.anak sholeh

    lha dsinilah peran penting bagi si anak soleh>….yaitu untuk mendo’kan kedua orang tua yg sudah meninggal…?

    al-baqoroh 154 di buka yaa..? wassalam sekian.!!

     
  79. rogher

    4 Februari 2012 at 20:32

    ….?
    bagi yang g percaya tahlil..ntar kalau ke dua orang tua kamu meninggal ….jagn di tahlili ajah..
    alau yang percaya tahlil i like to…mari kita tahlili ke dua orang tuak ita yg telah meninggal..?
    jagan cuma kalu hari jum’at..tapi kalu bisa setioap heri karna ,,..manusia btuh makan 3 x /…jadi mungkin di akhoirat pun sama..?

     
  80. mighamir

    5 Maret 2012 at 22:09

    Emang keyakinan tidak bisa dipaksakan

     
  81. putera

    23 April 2012 at 14:50

    sembarangan nt enak z bkin makalah di internet,,,,ngaji dulu dunk…..pahami agama dengan benar jangan cuma baru belajar sebentar udah sok2an pnter…berani bnget c kamu…

     
  82. rojak

    10 Mei 2012 at 02:58

    jika menrut anda bahwa mendo’akan orang yang telah meninggal tidak akan sampe,maka saya do’akan semoga sanak keluarga anda yang telah meninggal mendapatkan siksa dan masuk neraka.Amiiiiiiiin !

     
  83. Saif

    24 Mei 2012 at 06:30

    Nggak usah disolati sekalian. Atau shalat jenazahnya nggak usah pake Allahummaghfirlahu Warhamhu Wa’afihi Wa’fu’anhu, soalnya menurut penulis tidak akan sampe pd si mayat. ha ha ha . . .

     
  84. ucup

    24 Mei 2012 at 15:16

    Alhamdulillah kalian semua sadar bahwa keyakinan tidak dapat dipaksakan, monggo yang mau tahlilan monggo…monggo yang ndak mau tahlilan ugi monggo…. sekeco to …. dados tiang muslim, iso rukun lan yen ditingali tiang lintu (non muslim) kietingalane guyup tentrem, kertoraharjo. juga semua argumennya anak-2 muda ini didasari pemikiran jernih dan landasannya masing-masing juga kuat. lebih baik anak muda seperti ini ndak usah ketemu sebelum masa tua tiba karena akibatnya ………….. tos jotosan ugo mung tos tosan wae.

     
  85. yayox

    19 Juni 2012 at 22:19

    memang susah membahas masalah ini….sepertinya g akan pernah selesai….sudah menjadi kebiasaan masyarakat indonesia,,,adanya hukum di buat untuk di langgar,,dengan dalil2 yang di artikan dan di sesuaikan denga pemikiranya sendiri…apakah ada yg pernah dengar ROSULULLAH SAW wafat di tahlilkan oleh para shabat..????? umat terbaik hinga akhir jaman setlah ROSULNYA adlah para sahabat,,dan apakah kalian pernah mendengar sahabt meninggal di tahlilkan dari 1 hr,,2hr,,3hr..dan seterusnya….jd menurut saya biarpun ad seorang ustad…kyai ..atau bahkan kata orang wali..yg udah naik haji 100x atau punya pesantren dngan milyaran santri…tpi kalau ajaranya bertentangan dgan ROSULULLAH SAW n sahabat ya saya anggap angin lalu ja……….!!!! ingat saudara nabi itu manusia terpilih,,terbaik sampai akhir jaman,,beliau di bekali sifat maksum,, tak kan bernah salah,,cerdik,,tegas,,terpercaya,, jelas dlam menyampaikan ajran,,tidak remang2,kalau ad yg remang2 ya itu kalian sendiri yang buat,,yg suka meng otak atik dalil seenaknya..coba kalian pikir dengan tenang dn jernih,,apa yang membuat kalian sakit hati jika di katakan tahlil itu bit`ah..????? apkah kalian lebih sayang terhadap kebiasan nenek moyang kalian atau kalian lebih cinta kepada agama kalian,,,,,??? sebagai pertimbangan,,, kebetulan saya hidup di pulau bali…sedikit banyak saya tau adat istiadat masarakat hindu..karna saya cukup lama tinggal di bali. dan yang saya lihat tradisi tahlil itu sama dengan dengan tradisi orang meninggal di sini,, mereka berkumpul…makan2,,dengan waktu yg di tentukan menurut kasta mereka…ad yang sampai 3hr..7hr..coba kalian berfikir…jangan emosi.. mirip atau bahkan sama persihkan apa yang kita apa yang kita lakukan denga adat2 dan cara mereka beribadah….karna menurut saya bayak sekali kesaman yang mereka lakukan degan kebayakan saudar kita lakukan…terutama di daerah terpencil n pelosok2,,,!!! semoga ALLAH.SWT.meberikan petujuk, jalan terbaik bgi kita semua [MUHAMMADIYAH,,NU,,PERSIS,,IRSYAT,,WAHABI n PARA AHLUL SUNNAH WALJAMAAH lainnya,,,,] sehingga rukun dan saling mengingatkan dalam ibadah dan kebaikan…..

     
  86. yayox

    21 Juni 2012 at 22:13

    tahlil bit’ah saya setuju……tat cara dlam tahlil itu jelas tradisi umat hindu 1 2 3 sampai 7 hari sya bisa berkat begitu karna sya sendiri tinggal di bali jdi saya tau persis adat merka klo mendokan kerabat sesama muslim kenapa harinya di batasi mkin lama bkankah makin baik,,,kenapa juga harus menyusahkan kluarga si mayit dngan tradisi harus menyajikan makanan,,bukanya menyelesaikan tanggungan si mayit berupa harta warisan dan hutang2nya apa lagi kalau dlam harta warisan itu ad hak anak yatim..,,,harta blum di bagi denga adil sesuai hkum agama mlam di belajkan buat mkan orang sekampung,, apa mendoakan sesama muslim hrus ada pamrih..apa lagi karna udah jadi kebiasa ad yang rela smpai berhutng demi mengadakan makanan untuk yang menahlilkan ini,, yang di sebut uhkuwa islamiyah,..tapi kalo doa sesama muslim tidak sampai kepada mayit…ya enggak lah bos…coba anda teliti…,,,saat menyolati jenazah bacaan yang qt baca itu apa…di dlamnya ada doa untuk si mayit..saat kita selesai sholt lima waktu qt pun mendoakan sesama muslim baik yg masih hidup atau yg udah meninggal….itu semua rosulullah yg mengajrkan kpd qt…dia kan maksum bos masak slah dlam mengjarkan ibadh….tentang hdist nabi..’manusia meninggal mka trputuslah amalny kecuali 3 hal..sodqoh jariah,,doa ank yang sholeh,,ilmu yang ber manfaat…coba teliti kembali hdst ini bkahkan bhasanya jelas..;”terputuslah amalnya;;” ya jelas terputuslah maksudnya dia sudah tdk lagi mebuat manfaat terhadap dirinya sendri,. apa lagi untuk orang lain…terkecuali apa yang tlah di lakukan semasa hidpnya,,dan tiga hal tersebut sebagai usaha semasa hidupnya yang pahala terus berlajut hinga manusianya sudah di alam kubur..jd klau ad yang mendoakan sesama muslim,,insyallah doanya sampai..kalau pahalanya jelas untuk yang mendoakan,,,lebih parahnya lagi ad yg sengaja ziara kbur dengan maksud supaya dpat berkah,, dari yg meningal,,kan lucu. rosulullah saja safaatnya untuk kaum muslim terlaksana nati pada yaumulkiamah..ini mlah minta brokah siang bolong pd mnusia biasa yg udh meningl……

     
  87. yadi

    23 Juni 2012 at 04:05

    Al Ustadz Abu Karimah ‘Askari bin Jamal Al BugisiAtsar ‘Ulama Salaf dan Para Imam1. Diriwayatkan oleh Ad Darimi Al Bazzar dari ‘Amru bin Salamah Al Hamdani katanya: Kami pernah duduk di pintu ‘Abdullah bin Mas’ud radliyallahu ‘anhu sebelum shalat zhuhur. Kalau dia keluar kami berangkat bersamanya menuju Masjid. Tiba-tiba datanglah Abu Musa Al Asy’ari radliyallahu ‘anhu sambil berkata: Apakah sudah keluar bersama kalian Abu ‘Abdirrahman? Kami katakan: Belum. Tatkala beliau keluar kami berdiri dan Abu Musa berkata: Ya Abu ‘Abdirrahman sungguh aku baru saja melihat sesuatu yg pasti kau ingkari di Masjid itu. Dan saya tidak melihat –alhamdulillah- kecuali kebaikan. Ibnu Mas’ud berkata: Apa itu? Katanya pula: Kalau kau panjang umur akan kau lihat pula sendiri.

    Saya lihat di masjid itu sekelompok orang dalam beberapa halaqah sedang menunggu shalat dan masing-masing halaqah dipimpin satu orang di tangan mereka tergenggam kerikil dia berkata: Bertakbirlah seratus kali! Maka yg lainpun bertakbir seratus kali. Pemimpinnya mengatakan: Bertahlil seratus kali! Merekapun bertahlil .

    Pemimpinnya mengatakan: Bertasbihlah seratus kali! Merekapun bertasbih seratus kali. Ibnu Mas’ud bertanya: Lalu apa yg kau katakan kepada mereka? Abu Musa berkata: Saya tidak mengatakan sesuatu krn menunggu pendapatmu. Ibnu Mas’ud berucap: Mengapa tidak kau perintahkan mereka menghitung dosa-dosa mereka dan kau jamin tidak akan hilang sia-sia kebaikan mereka sedikitpun? Kemudian dia berjalan dan kamipun mengikutinya sampai tiba di tempat halaqah-halaqah itu.

    Beliau berhenti dan berkata: Apa yg sedang kalian kerjakan ini? Mereka berkata: Ya Abu ‘Abdirrahman kerikil yg kami gunakan utk bertakbir bertahlil dan bertasbih. Beliau berkata:تَخَافُوْنَ أَلاَّ يَضِيْعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَيْءٌ فَعْدُّوا سَيِّئَتِكُمْ فَأَنَا ضَامِنٌ لِحَسَنَاتِكُمْ أَلاَ يَضِيعَ مِنْهَا شَيْءٌ وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ هَؤُلاَءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ صلّى الله عليه وعلى آله وسلم مُتَوَافِرُوْنَ وَهَذِهِ آنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ وَثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِىَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ أَوْ مُفْتَتِحُونَ بَابِ ضَلاَلَةٍ Coba kalian hitung dosa-dosa kalian saya jamin tidak akan hilang sia-sia kebaikan kalian sedikitpun. Celaka kalian wahai ummat Muhamamd! Alangkah cepatnya kalian binasa. Ini mereka para sahabat Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam masih banyak di sekitar kalian. Pakaian beliau belum lagi rusak mangkok-mangkok beliau beliau lagi pecah. Demi Zat yg jiwaku di tangan-Nya. Sesungguhnya kalian ini berada di atas millah yg lbh lurus daripada ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam ataukah sedang membuka pintu kesesatan? Mereka berkata: Demi Allah wahai Abu ‘Abdirrahman kami tidak menginginkan apa-apa kecuali kebaikan. Beliau berkata: Betapa banyak orang yg menginginkan kebaikan tetapi tidak pernah mendapatkannya. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam telah menyampaikan kepada kami satu hadits kata beliau:أَنَّ قَوْمًا يَقْرَأُوْنَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تََرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُوْنَ مِنْ الدِّيْنِ كَمَا يَمْرُقُوْنَ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ Sesungguhnya ada satu kaum mereka membaca Al Quran tapi tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka lepas dari Islam seperti lepasnya anak panah dari sasarannya. Demi Allah saya tidak tahu barangkali sebagian besarnya adl dari kalian. Kemudian beliau berpaling meninggalkan mereka.’Amru bin Salamah mengatakan: Sesudah itu kami lihat sebagian besar mereka ikut memerangi kami di Nahrawand bersama Khawarij. .Dalam riwayat Ibnu Wadldlah dia mengatakan: Sungguh kalian betul-betul berpegang dgn kesesatan ataukah kalian merasa lbh terbimbing daripada sahabat-sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam? .Silakan pembaca perhatikan kisah ini –semoga Allah membimbing anda utk mentaatinya-.

    Bagaimana sikap sahabat yg mulia ‘Abdullah bin Mas’ud radliyallahu ‘anhu yg mengingkari halaqah tersebut di masjid. Apakah anda mengira bahwa beliau mengingkari amalan dzikrullah dan mengingkari majelis dzikir ini atau apakah anda menyangka bahwa beliau mengingkari tahlil tasbih dan takbir? Apakah pantas kita katakan bahwa sahabat yg mulia ini mengingkari orang-orang yg ingin beribadah dan berlomba-lomba kepada kebaikan?Tentunya sekali-kali tidak demikian. Hal itu tidaklah diingkari oleh ‘Abdullah bin Mas’ud radliyallahu ‘anhu. Dan bagaimana mungkin beliau mengingkarinya sementara beliau termasuk rawi yg banyak menyampaikan hadits-hadits tentang keutamaan tasbih tahlil dan takbir. Misalnya hadits yg diriwayatkan oleh At Tirmidzi dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani rahimahullahu Ta’ala.Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda:لَقِيْتُ إِبْرَاهِيْمَ صلى الله عليه وسلم لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ أُقْرِئْ أُمَّتَكَ مِنِّي السَّلاَمَ وَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ الْجَنَّةَ طَيِّبَةُ الْتُرْبَةِ عَذْبَةُ المَاءِ وَأَنَّهَا قِيْعَانٌ وَأَنَّ غِرَاسَهَا: سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ للهِ وَلاَإِلَهَ إلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ Saya bertemu dgn Nabi Ibrahim pada malam ketika saya diIsra`-kan. Dia bekata: Ya Muhammad sampaikan salamku kepada ummatmu sampaikan bahwa surga itu harum tanahnya airnya manis qa’ian dan tanaman-tanamannya adl Subhanallahi walhamdulillah walaa ilaaha illallahu wallahu akbar. Dan bagaimana mungkin Abu Musa Al Asy’ari mengingkarinya padahal beliau juga termasuk sahabat yg meriwayatkan tentang keutamaan dzikir ini. Di antaranya adl yg diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim: Katanya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam berkata kepadaku:أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى كَنْزٍ مِنْ كُنُوْزِ الْجَنَّةِ؟ قُلْتُ: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ .قَالَ: لاَحَوْلَ وَلاَ قَوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ Maukah kamu saya tunjukkan salah satu simpanan dari simpanan-simpanan surga? Saya menjawab Tentu ya Rasulullah. Kata beliau: : لاحول ولا قوة إلا بالله{Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dgn pertolongan Allah}. Dan riwayat Bukhari dalam shahihnya dari Abu Musa radliyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam beliau bersabda:مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لاَيَذْكُرُهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ Perumpamaan orang yg berdzikir kepda Allah dgn orang yg tidak berdzikir kepada-Nya adalah seperti orang hidup dan orang yg mati. Hadits-hadits ini menunjukkan kepada kita bahwa keduanya sama mengetahui keutamaan dzikir ini dan keutamaan orang yg mengamalkannya dan melaksanakan tuntutan dari dzikir tersebut. Adapun yg ditentang oleh Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu adl tatacaranya yg dilakukan bersamaan dgn suara keras bersama seorang amir {pemimpin pengatur} yg memerintahkan mereka demikian. Kemudian ditambah lagi mereka menggunakan kerikil-kerikil utk menghitung jumlah dzikir yg telah ditentukan di mana tidak pernah dikerjakan seperti itu oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dan para sahabatnya.Dan tidak cukup dgn alasan mereka bahwa niat mereka baik. Beliau membantah dgn ungkapan yg sangat tepat yg selaras dgn prinsip pokok dan kaidah yg ditetapkan oleh syari’at yg mudah ini kata beliau: Betapa banyak orang yg menginginkan kebaikan tetapi tidak mendapatkannya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالأَخْسَرِينَ أَعْمَالاً لَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا Katakanlah: Maukah kamu kami terangkan tentang orang-orang yg paling merugi amalannya sia-sia usaha mereka di dunia dalam keadaan mereka menyangka telah berbuat sebaik- baiknya. .Syaikh Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al ‘Abbad hafizhahullah Ta’ala setelah menyebutkan hadits Ibnu Mas’ud ini mengatakan: Perhatikan bagaimana ‘Abdullah bin Mas’ud radliyallahu ‘anhu mengingkari peserta halaqah itu padahal mereka dalam majelis dzikir dan ibadah hanya krn mereka berdzikir dan beribadah kepada Allah tidak dgn tuntunan syari’at. Di dalam hadits ini kita dapatkan dalil bahwasanya yg jadi ukuran atau standar suatu ibadah itu bukanlah jumlahnya tetapi sesuai atau tidak dgn Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam sebagaimana yg dikatakan oleh Ibnu Mas’ud juga: Sederhana dalam Sunnah lbh baik daripada berlebih-lebihan dalam kebid’ahan. Saya paparkan hal ini lbh dahulu dari dalil yg lain krn kemiripannya dgn perbuatan ‘Arifin Ilham dan para pendukungnya ini –semoga Allah memberi taufik kepada kita dan mereka untuk mengikuti al haq-.2. Hadits yg dikeluarkan oleh Imam Bukhari-Muslim dari Barra` bin ‘Azib radliyallahu ‘anhu katanya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam berkata kepadaku:إِذَا أَتَيْتَ مَضَجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوْءَكَ لِلصَّلاَةِ ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الأَيْمَنِ.وَقَلْ: اِللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ رَغْبِةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ.اِللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ. فَإِنْ مُتَّ مُتَّ عَلَى الْفِطْرَةِ فَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَقُوْلُ. فَقُلْتُ أَسْتَذْكِرُهُنَّ. وَبِرَسُوْلِكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ. قَالَ: لاَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ Kalau kamu hendak tidur berwudlu`lah seperti wudlu` utk shalat kemudian berbaringlah ke arah kanan dan ucapkanlah: Ya Allah aku pasrahkan wajahku kepada-Mu dan saya serahkan kepada-Mu urusanku dan aku sandarkan kepada-Mu punggungku dalam keadaan berharap dan takut kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari-Mu kecuali kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab-kitab-Mu yg Engkau turunkan dan kepada para Nabi-Mu yg telah Engkau utus. Maka kalau kamu mati engkau mati di atas fithrah dan jadikanlah dia sebagai akhir dari perkataanmu. Saya pun mengulanginya saya katakan: Dan dengan Rasul-Mu yg Engkau utus. Beliau berkata: Bukan dgn Nabi-Mu yg Engkau utus. Perhatikanlah –semoga Allah merahmati anda- bagaimana pengingkaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam terhadap Al Barra` bin ‘Azib radliyallahu ‘anhu ketika dia mengganti kalimat Nabi dgn Rasul krn lupa bukan sengaja.Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu mengatakan: Yang lbh utama utk dikatakan tentang hikmah bantahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam terhadap orang yg mengatakan Rasul sebagai ganti kata Nabi menunjukkan kepada kita bahwa lafaz kalimat yg diucapkan dalam dizikir adl amalan yg sifatnya tauqifiyah {sesuai dgn contoh aturan syari’at –ed} dan kalimat-kalimat tersebut mengandung berbagai keistimewaan dan rahasia yg tidak tersentuh oleh kias sehingga harus dihafal sebagaimana adanya. .Al Mubarakfuri mengomentari penjelasan Al Hafizh ini ia mengatakan: Ini juga pilihan Imam Al Maziri katanya: Maka dzikir-dzikir ini dibatasi pada ketentuan harus sesuai dgn lafazh yang ada dan biasanya pahalanya juga berkaitan dgn huruf-huruf dzikir itu. Atau boleh jadi kalimat-kalimat ini merupakan wahyu yg diwahyukan kepada beliau sehingga wajib pula utk ditunaikan sesuai dengan bagaimana datangnya. .Imam An Nawawi mengatakan bahwa pendapat ini sangat baik. .Maka bagaimana penilaian anda dgn orang yg mengajarkan tata cara dan lafaz-lafaz tertentu dgn tambahan dan perubahan lafaz-lafaz dzikir yg tidak diajarkan oleh Allah Rasul- Nya dan para sahabat ataupun salafus shaleh dari ummat ini? Dan caranya atau lafaz-lafaznya justeru baru diajarkan oleh laki-laki sufi ini ?Alangkah tepat ucapan Imam Asy Syafi’i rahimahullahu yg mengatakan:مَنْ اِسْتَحْسَنَ فَقَدْ شَرَعَ Barangsiapa yg menganggap baik suatu perbuatan berarti telah menetapkan satu syari’at. 3. Sa’id bin Al Musayyab rahimahullahu melihat seorang laki-laki shalat sunnah setelah terbit fajar lbh dari dua raka’at dan dia memperbanyak ruku’ dan sujudnya dalam shalat itu beliaupun melarangnya tetapi orang itu berkata: Wahai Abu Muhammad apakah Allah akan menyiksaku krn shalatku ini? Beliau menjawab Tidak. Tetapi Dia akan menyiksamu krn kamu menyelisihi Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam. Syaikh Al ‘Allamah Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullahu setelah menguraikan atsar ini mengatakan:وَهَذَا مِنْ بَدَائِعِ أَجْوِبَةِ سَعِيْدٍ بْنِ المُسَيْبِ رحمه الله تعالى وَهُوَ سِلاَحٌ قَوِيٌّ عَلَى المُبْتَدِعَةِ الَّذِينَ يَسْتَحْسِنُونَ كَثِيرًا مَنْ الْبِدَعِ بِاسْمٍ أَنَّهَا ذِكْرٌ وَ صَلاَةٌ ! ثُمَّ يُنْكِرُونَ عَلَى أَهْلِ السُنَّةِ إِنْكَارَ ذَلِكَ عَلَيْهِمْ وَيَتَّهِمُونَهُمْ بِأَنَّهُمْ يُنْكِرُونَ الذِّكْرَ وَ الصَّلاَةَ !وَهُمْ يُنْكِرُونَ خِلاَفَهُمْ لِلسُنَّةِ فِي الذِّكْرِ وَ الصَلاَةِ وَنَحْوِ ذَلِكَ Ini adl jawaban yg tepat dari Sa’id bin Al Musayyab rahimahullahu sekaligus senjata ampuh terhadap ahli bid’ah yg menganggap baik berbagai kebid’ahan dgn istilah bahwa ini adalah dzikir dan shalat . Kemudian mereka mengingkari sikap Ahlus Sunnah wal Jama’ah yg menyalahkan mereka bahkan menuduh Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengingkari shalat dan dzikir. Padahal yg diingkari pada diri mereka adl penyelisihan mereka terhadap As Sunnah dalam masalah shalat dan dzikir atau ibadah lainnya. 4. Sufyan bin ‘Uyainah mengatakan: Saya mendengar Malik bin Anas rahimahullahu didatangi seseorang yg bertanya: Wahai Abu ‘Abdillah dari mana saya harus melakukan ihram {untuk haji atau ‘umrah}? Imam Malik mengatakan: Dari Dzul Hulaifah. Dari tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam berihram. Orang itu berkata: Saya ingin berihram dari Masjid dekat kuburan beliau. Imam Malik mengatakan: Jangan. Saya khawatir kamu tertimpa fitnah. Orang itu berkata pula: Fitnah apa? Bukankah saya hanya sekedar menambah beberapa mil saja? Imam Malik menegaskan: Fitnah apalagi yg lbh hebat dari sikapmu yg menganggap engkau telah mengungguli Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam mendapatkan keutamaan di mana beliau telah menetapkan demikian sementara kau menambahnya? Dan saya mendengar firman Allah Ta’ala:فليحذر الذين يخالفون عن أمره أن تصيبهم فتنة أو يصيبهم عذاب أليم Maka hendaklah orang-orang yg menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yg pedih. .Kisah ini diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dan Al Baihaqi .Maka perhatikanlah bagaimana sikap Imam Darul Hijrah Malik bin Anas rahimahullahu terhadap laki-laki yg ingin melebihkan jarak ihramnya dari tempat yg biasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam berihram. Dia mencoba mengedepankan ra`yunya; dengan memulai ihram dari Masjid yg dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam sebagai tempat paling baik di muka bumi ini. Namun demikian Imam Malik mengingkari perbuatannya walaupun jarak Masjid itu dgn Dzul Hulaifah kurang lbh satu mil. Beliau tidak menerima alasan orang itu krn tindakannya adl penyelisihan terhadap Sunnah Rasulullah.

    Lalu bagaimana dgn orang yg menambah dzikir-dzikir bid’ah dan tata cara yg dibuat- buat yg tidak pernah dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dan para pendahulu ummat ini?5. Imam Ath Thabrani rahimahullahu dalam kitab Ad Du’a mengatakan: Kitab yg saya tulis ini menghimpun berbagai do’a Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam. Hal ini karena saya melihat sebagian besar kaum muslimin selalu mengucapkan do’a-do’a sajak. Juga do’a-do’a yg dibuat oleh beberapa penulis yg tidak ada dasar riwayatnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dan salah seorang sahabatnya atau tabi’in yg mengikuti mereka dgn baik. padahal diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam tidak menyukai sajak dalam do’a dan berlebih-lebihan padanya. Maka saya susun kitab ini dgn sanad-sanadnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam. 6. Imam Al Qurthubi ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala:وَمَا كَانَ قَوْلَهُمْ إِلاَّ أَن قَالُواْ ربَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ Tidak ada do`a mereka selain ucapan: Ya Tuhan kami ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yg berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap kaum yg kafir . Adalah wajib bagi tiap muslim utk mengamalkan apa yg ada dalam Kitab Allah dan Sunnah yg sahih dari berbagai do’a dan meninggalkan yg lainnya {do’a yg tidak ada dalam Al Quran atau Sunnah yg sahih}. Bahkan jangan pula dia mengatakan: Saya memilih yang ini krn Allah telah memilihkan utk Nabi dan para wali-Nya serta mengajari mereka bagaimana mereka berdo’a. 7. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu pernah ditanya tentang orang yg mengatakan: Saya yakin bahwa seseorang yg mengada-adakan perkara baru dalam melakukan dzikir-dzikir yg tidak disyari’atkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dia telah berbuat kesalahan. Karena kalau memang betul dia ridla Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam sebagai Imam panutan dan pembimbingnya niscaya dia akan merasa cukup mengamalkan apa yg dituntunkan oleh beliau.Maka ketika dia beralih kepada ra`yu dan perbuatan yg diada- adakannya adl suatu kebodohan dan tipuan syaithan yg menjadikan indah perbuatan dosa yang dilakukannya. Dan di samping itu tindakannya itu adl bentuk penyelisihan terhadap As Sunnah. Sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam tidak meninggalkan suatu kebaikan melainkan telah mengajarkannya kepada kita. Sementara Allah juga tidak menyembunyikan satu kebaikan pun dari beliau. Buktinya Allah ‘Azza wa Jalla telah memberikan kepada beliau seluruh perbendaharaan dunia dan akhirat kepada beliau krn beliau adl makhluk yg paling mulia di sisi Allah Ta’ala. Bukankah jelas demikian kenyataannya? Beliau menjawab Alhamdulillah. Tidak disangsikan lagi bahwa dzikir dan do’a-do’a merupakan ibadah yg paling utama. Sedangkan ibadah itu pada prinsipnya dibangun di atas tauqifiyah dan ittiba’ bukan berdasarkan hawa nafsu dan bid’ah. Dengan demikian dzikir-dzikir dan do’a-do’a yang bersumber dari Sunnah Nabawiyah adl lbh utama utk dilakukan oleh mereka yg ingin beramal. Orang yg menempuhnya berarti telah melalui jalan yg aman dan selamat dan akan mendapatkan berbagai faedah yg tidak mungkin dinilai dgn kata-kata dan bahkan tidak mungkin diselami oleh manusia. Adapun dzikir yg lain dari itu bisa jadi suatu hal yg haram makruh dan bahkan mungkin berisi kesyirikan yg kebanyakan manusia tidak memahami hal ini.Sehingga tidak ada hak bagi siapapun utk menetapkan sunnah baru dalam dzikir dan do’a yg tidak dituntunkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam lalu menjadikannya sebagai satu tatacara ibadah ritual yg dilaksanakan manusia seperti mereka mengerjakan shalat lima waktu. Sesungguhnya inilah bid’ah dalam agama itu yg tidak pernah Allah meridlainya. Berbeda dgn do’a yg kadang-kadang diucapkan seseorang tanpa maksud dia menjadikannya sunnah bagi orang lain. Kalau dia tidak tahu bahwa d’a itu mengandung makna yg haram maka tidak boleh dipastikan keharamannya.Akan tetapi bisa jadi hal itu demikian namun dia tidak menyadarinya misalnya ketika seseorang berdo’a dalam keadaan darurat dgn do’a-do’a yg terbuka baginya seketika itu juga. Dan contoh seperti ini banyak.Adapun wirid-wirid yg tidak disyari’atkan dan menjadikannya sunnah maka inilah di antara hal- hal yg dilarang. Sedangkan di dalam do’a-do’a dan dzikir yg dituntunkan oleh syari’at terdapat berbagai tujuan dan harapan yg baik dan mulia dan tidaklah akan meninggalkannya lalu mengamalkan dzikir dan do’a-do’a bid’ah kecuali orang yg jahil atau melampaui batas.

    .8. Imam Asy Syathibi Ibrahim bin Musa Al Gharnathi rahimahullahu mengatakan {I’tisham 1/318- 319}:Apabila syari’at menganjurkan utk berdzikir kepada Allah. Kemudian berkumpullah beberapa orang melakukannya dgn suara yg satu. Atau pada waktu yg telah dikhususkan tidak mesti dalam anjuran tersebut sesuatu ..bahkan justeru sebaliknya. Sebab melaksanakan suatu amalan terus-menerus yg tidak ditetapkan oleh syari’at ini akan memberikan pemahaman sebagai suatu penetapan syari’at baru. Apalagi dilakukan dgn seorang yg jadi panutan di tempat tertentu seperti masjid.Kalau ini dimunculkan dan dilakukan di masjid seperti syi’ar-syi’ar yg ditetapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dilaksanakan di masjid atau yg lainnya seperti azan shalat ‘iedul fithri dan ‘iedul adlha shalat gerhana dan istisqa` akan dipahami bahwa ini adl sunnah kalau tidak dipahami sebagai suatu kewajiban.Maka tentunya tidak mungkin tercakup oleh dalil yg digunakan sehingga dia dikatakan bid’ah dari sisi ini.Karena itulah salafus shaleh meninggalkan hal-hal ini atau tidak mengamalkannya padahal mereka adl orang yg memang pantas mengerjakannya dan ahlinya kalau memang hal itu disyari’atkan sesuai dgn kaidah yg berlaku. Dan syari’at telah memberikan anjuran dalam berbagai permasalahan. Bahkan tidak dituntut mengerjakan ibadah sebanyak mungkin seperti yang dituntut dalam masalah dzikir ini.Misalnya firman Allah Ta’ala:يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللهَ ذِكْرًا كَثِيرًا… Hai orang-orang yg beriman berzikirlah Allah zikir yg sebanyak- banyaknya. .Danوَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللهِ وَاذْكُرُوا اللهَ كَثِيرَا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ .Dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. {Al Jumu’ah 10}.Berbeda dgn waktu-waktu yg lainnya.Seperti ini pula halnya do’a krn dia adl dzikrullah. Meskipun demikian tidak harus dikerjakan menurut tatacara tertentu. Atau dibatasi dgn waktu tertentu di mana seolah-olah waktu tersebut khusus utk do’a itu. Terkecuali adanya dalil yg menerangkan demikian pagi atau petang. Dan mereka tidak menampakkan amalan-amalan itu kecuali yg dituntunkan oleh syari’at. Misalnya dzikir ketika hari raya ‘Iedul Fithri atau ‘Iedul Adha dan yg sejenisnya. Adapun yang selain itu mereka berupaya menyembunyikan dan merahasiakannya. Oleh sebab itu pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam berkata ketika mereka mengangkat suara dalam suatu dzikir:إِرْبِعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّكُمْ لاَ تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلاَ غَائِبًا Kasihani diri kalian. Sesungguhnya kalian tidak menyeru sesuatu yg tuli dan ghaib. Mereka tidak melakukannya terang-terangan ketika berjama’ah.Maka semua yg menyimpang dari prinsip ini pada awalnya dia menyelisihi kemutalakan dalil karena dia membatasinya dgn ra`yunya. Kemudian dia menyelisihi orang-orang yg lbh tahu tentang syari’at ini –yaitu salafus shaleh radliyallahu ‘anhum-. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam juga meninggalkan suatu amalan yg beliau sukai hanya krn khawatir akan diikuti oleh ummatnya yg nantinya akan menjadi suatu kewajiban. 9. Al ‘Allamah Al Mu’allimi rahimahullahu mengatakan: Alangkah ruginya orang-orang yg meninggalkan do’a-do’a yg telah tsabit di dalam Kitabullah ‘Azza wa Jalla dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bahkan hampir tidak pernah berdo’a dgn do’a-do’a ini. Kemudian dia mengambil do’a-do’a yg lain dan tekun mengerjakannya. Bukankah ini merupakan sikap yg zalim dan menunjukkan permusuhan? .10. Lajnah Daimah pernah ditanya: Apakah hukumnya do’a dgn berjama’ah langsung setelah membaca Al Quran. Di mana seseorang berdo’a dan yg lain mengaminkannya dan ini terus dilakukan setelah pelajaran. Dan ketika ditanya apa dasar mereka melakukannya dijawab dgn firman Allah Ta’ala:وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ Dan Tuhanmu berfirman: Berdo`alah kepada-Ku niscaya akan Kuperkenankan bagimu. {Ghafir 60}.Jawaban Lajnah: Pada prinsipnya dzikir dan ibadah lainnya bersifat tauqifi. Artinya juga adl bahwa tidak diibadahi kecuali dgn hal-hal yg telah disyari’atkan. Demikian pula dgn kemutlakannya atau penentuan waktunya serta tatacaranya ataupun batasan bilangan dalam masalah do’a dzikir atau ibadah yg disyari’atkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dan disebutkan secara mutlak tanpa pembatasan dgn tempat waktu atau jumlah atau tatacaranya. Maka tidak boleh kita mengerjakannya dgn tatacara atau batasan waktu atau jumlah tertentu. Tetapi kita beribadah kepada-Nya sebagaimana disebutkan secara mutlak.Apapun amalan yg terdapat pembatasannya dgn dalil qauli atau ‘amali baik tatacara tempat waktu atau jumlahnya maka kita hendaknya beribadah kepada Allah dgn dalil tersebut.Sedangkan do’a bersama-sama setelah shalat jama’ah atau setelah selesai membaca Al Quran atau setelah pelajaran tidak ada tuntunannya sama sekali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam baik ucapan perbuatan maupun taqrir. Sama saja apakah do’a itu dibacakan seorang imam dan diaminkan oleh ma`mum atau ma`mum berdo’a bersama-sama dari mereka sendiri.

    Hal ini juga tidak pernah dikerjakan sama sekali oleh Khulafaur Rasyidin dan para sahabat lainnya radliyallahu ‘anhum.Maka siapa yg melaksanakan hal ini berdo’a secara bersama-sama setelah shalat membaca Al Quran atau selesai pelajaran berarti dia telah melakukan perbuatan bid’ah dan mengada-adakan sesuatu yg bukan berasal dari tuntunan ajaran Islam dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam telah menyatakan:مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌ. وَقَالَ: مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌ. Barangsiapa yg mengamalkan suatu amalan yg tidak ada perintah dari kami maka amalan itu tertolak. Dan: Barangsiapa yg mengada-adakan suatu dalam urusan kami yg bukan daripadanya maka dia tertolak. Adapun dalil yg mereka kemukakan tadi tidaklah menjadi hujjah {alasan argumentasi} bagi mereka krn dalil ini mutlak dan tidak ada penentuan tatacara yg harus dikerjakan oleh mereka. Dan dalil mutlak ini harus diamalkan menurut kemutlakannya tanpa memperhatikan keadaan khusus.Seandainya hal itu disyari’atkan tentulah akan diperhatikan dan dijaga oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dan para khalifah sepeninggal beliau. Dan telah kita terangkan bahwa hal ini tidak pernah dikerjakan oleh beliau dan para sahabatnya.Padahal yg namanya kebaikan yg sesungguhnya adl dgn mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dan jalan yg ditempuh para Khulafaur Rasyidin radliyallahu ‘anhum.Sedangkan keburukan yg sesungguhnya adl menyelisihi tuntunan mereka dan mengikuti perkara yg diada-adakan yg telah diperingatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam kepada agar kita menjauhinya sebagaimana sabda beliau:إيَِاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ Jauhilah oleh kalian perkara yg diada-adakan. Karena sesungguhnya tiap bid’ah itu adl sesat. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam keluarga dan para sahabatnya. Lajnah Daimah.Ada sebuah pertanyaan lain yg diajukan kepada Lajnah ini yg mengatakan : Bolehkah mengerjakan dzikrullah secara bersama-sama dgn satu suara seperti yg dikerjakan para penganut tarekat kemudian mengakhirnya dgn hadlrat {pertemuan para sufi utk menari bernyanyi -ed} sambil membaca Al Quran secara bersama-sama dgn satu suara di masjid rumah-rumah atau tempat-tempat perayaan? Jawab: Dzikrullah dgn bersama-sama satu suara yg diakhiri dgn hadlrat dan membaca Al Quran bersama-sama satu suara di masjid di rumah atau di tempat-tempat perayaan tidak ada dasarnya menurut syari’at sama sekali. Para sahabat radliyallahu ‘anhum adl orang-orang yang paling pertama mengikuti syari’at ini dan tidak ada keterangan sedikitpun mereka melaksanakannya. Demikian pula generasi berikutnya yg dikatakan sebagai qurun terbaik dalam ummat ini. Sebagaimana yg sudah kita jelaskan bahwa kebaikan itu sesungguhnya ada pada sikap ittiba’ tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam telah bersabda:مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌ. وَقَالَ: مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌ Barangsiapa yg mengamalkan suatu amalan yg tidak ada perintah dari kami maka amalan itu tertolak. Dan: Barangsiapa yg mengada-adakan suatu dalam urusan kami yg bukan daripadanya maka dia tertolak. Dan krn bukan merupakan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam maka tidak ada seorangpun sahabat yg mengerjakannya –sejauh yg kami ketahui-. Maka perbuatan ini adl bid’ah dan tercakup dalam dalil ini sehingga dia tertolak. Begitu pula mengambil upah atas perbuatan ini. Wabillahi Taufiq. .Pertanyaan lain: Apakah hukumnya bershalawat utk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam setelah shalat berjama’ah dgn suara keras? Juga berdo’a setelah shalat berjama’ah dan membaca Al Quran secara bersama-sama dan bernyanyi dgn semua bentuknya serta shalat di belakan imam yg buta dan kadang-kadang salah?Jawab: Yang pertama bershalawat utk Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam pahalanya besar.

    Allah Ta’ala telah memerintahkannya di dalam Al Quranul Karim. Dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam mendorong utk mencintainya. Bahkan beliau jelaskan betapa besar pahalanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda:مَنْ صَلَّى عَلَيَّ مَرَّةً صَلَّى الله عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا. والنسائي والترمذي رقم والدارمي رقم وابن خزيمة {19. Siapa yg bershalawat untukku satu kali maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali. .Dan disyari’atkan shalawat ini ketika nama beliau disebut sesudah tasyahhud dalam shalat dalam khuthbah jum’at khuthbah nikah dan lain-lain. Dan tidak ada dalil sama sekali menyebutkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam para sahabat imam-imam salaf seperti Malik Abu Hanifah Al Laits bin Sa’d Asy Syafi’i Al Auza’i dan Ahmad dan yg lainnya rahimahumullahu mengucapkan shalawat ini dgn suara keras setelah selesai shalat berjama’ah.Kebaikan itu hanyalah pada sikap itttiba’ terhadap tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dan Khulafaur Rasyidin serta para sahabat radliyallahu ‘anhum. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam sendiri telah menegaskan:من أحدث في أمرنا ما ليس منه فهو رد. Barangsiapa yg mengada-adakan suatu dalam urusan kami yg bukan daripadanya maka dia tertolak. Yang kedua do’a itu adl ibadah. Namun tidak ada satu keteranganpun yg menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dan para sahabat radliyallahu ‘anhum berdo’a bersama-sama setelah selesai shalat. Maka berkumpulnya para jama’ah setelah selesai salam utk berdo’a bersama-sama adl bid’ah yg diada-adakan dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam telah menegaskan:مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌ. وَقَالَ: مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌ. Barangsiapa yg mengamalkan suatu amalan yg tidak ada perintah dari kami maka amalan itu tertolak. Dan: Barangsiapa yg mengada-adakan suatu dalam urusan kami yg bukan daripadanya maka dia tertolak. Yang ketiga kalau mereka maksudkan membaca Al Quran berjam’ah itu adl dgn satu suara maka ini tidak disyari’atkan krn tidak ada riwayat amalan seperti ini dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dan para sahabatnya radliyallahu ‘anhum. Adapun kalau mereka berkumpul yg satu membaca dan yg lain mendengarkan atau masing-masing membaca sendiri-sendiri dgn tidak bertemu suara mereka satu sama lain baik dalam kalimat yg berharakat maupun sukun washal maupun wakafnya maka hal ini disyari’atkan. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda:وَمَا اجْتَمِعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِن بُيُوْتِ اللهِ يَتْلَّوْنَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُوْنَ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِيْنَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلاَئِكَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَذَكَرَهُمْ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهَ. رواه مسلم Tidaklah berkumpul satu kaum di salah satu rumah Allah membaca Kitab Allah {Al Quran} dan mempelajarinya di antara mereka melainkan turun kepada mereka sakinah dan para malaikat menyelubungi mereka dan mereka diliputi oleh rahmat dan Allah menyebu-nyebut mereka di hadapan semua yg ada di sisi-Nya. .Dan dari Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu dia berkata:قَالَ لِي النَّبِي صلى الله عليه وآله وسلم:اِقْرَأْ عَلَيَّ. قُلْتُ: أَقْرَأُ عَلَيْكَ وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ؟! قَالَ: فَإِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِيْ. فَقَرَأْتُ سُوْرَةٌ اْلنِّسَاءَ حَتَّى بَلَغْتُ } فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيْدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاَءِ شَهِيْدًا{ {النساء: 41} قَالَ: أَمْسِك . فَإِذَا عَيْنَاهُ تَذْرِفَانِ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam berkata kepada saya: Bacakanlah untukku Al Quran! Saya bertanya: Bagaimana saya membacakannya kepada engkau padahal dia diturunkan kepadamu wahai Rasulullah? Kata beliau: Saya suka mendengarnya dari orang lain. Maka saya bacakan utk beliau surat An Nisa` sehingga ketika sampai pada ayat :فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيْدٍ وَجِئْنَا هؤلاء شهيدا {Bagaimana kalau kami datangkan dari tiap ummat seorang saksi dan kami hadirkan engkau sebagai saksi terhadap orang-orang ini?}. Beliau berkata: Cukup! Ternyata mata beliau berkaca-kaca. .Yang keempat shalat jama’ah di belakang imam yg buta boleh. Bahkan bisa jadi lbh utama karena lbh banyak dan fasih bacaan Al Qurannya dibandingkan mereka yg shalat di belakangnya. Hal ini berdasarkan keumuman hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam:يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ .. Yang mengimami kalian hendaknya yg paling hafal Kitab Allah tidak merubah ma’na maka shalat di belakangnya tidak apa-apa kalau memungkinkan. Tetapi kalau kesalahannya berupa lahn dalam Al Fatihah misalnya dan itu merubah ma’na maka shalat di belakangnya batal. Dan ini bukan karena kebutaannya tetapi krn lahn tersebut.Misalnya membaca Iyyaka na’budu tapi ‘ka’ dibaca ‘ki’. Atau bacaan An’amta ‘alaihim dibacanya an’amtu atau an’amti. Sedangkan kalau kesalahannya itu krn kelemahan hafalannya maka yang lbh hafal daripadanya lbh utama menjadi imam.Wabillahi taufiq. Semoga shalawat dan salam tercurah utk junjungan kita Nabi Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya.Para ulama lajnah juga menyatakan bahwa bacaan shalawat sesudah shalat fardlu atau sunnah atau di tiap dua rakaat tarawih adl perbuatan bid’ah yg diada-adakan. {Fatwa Lajnah 2/529}.Ada pertanyaan lain: Ada sebagian orang di Pakistan mengaku dirinya salafi tapi selalu mengadakan majelis dzikir tiap hari kamis sesudah shalat ‘ashar. Mereka anggap ini adl waktu yg sesuai bahkan paling tepat utk berdzikir. Adapun caranya salah seorang dari mereka duduk di depan memulai dgn suara keras mengucapkan lafaz Allah. Kemudian orang- orang di sekitarnya mengulang-ulang lafaz ini dgn suara perlahan. Setelah itu oarang yg di depan mengucapkan Subhanallah dan diulang-ulang oleh mereka yg di sekitarnya setelah mengucapkan Alhamdulillah dan begitu seterusnya.Mereka menganggap bahwa hal ini adl usaha melakukan tazkiyatun nufus dan menjadikan dasar tindakan mereka ini beberapa hadits yg menyebutkan tentang dzikir dan halaqah dzikir. Bagaimana hukum tentang mereka ini?Jawab: Kalau kenyataan tentang ihwal mereka seperti yg disebutkan dgn selalu mengadakan majelis dzikir pada hari kamis. Kemudian salah seorang memimpin dan mengucapkan lafaz Allah dengan suara keras dan diikuti oleh yg lain setelah itu mengucapkan Subhanallah dan seterusnya dalam keadaan tetap diikuti oleh yg lainnya maka mereka bukanlah salafiyun.

    Bukan Ahlus Sunnah wal Jama’ah dgn amalan ini. Mereka adl ahli bid’ah. Sebab amalan dengan cara seperti ini sama sekali tidak ada tuntunannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dan para sahabatnya radliyallahu ‘anhum.Kemudian ulama Lajnah mengatakan: Adapun hadits-hadits tentang halaqah dzikir itu yang dimaksud adl majelis ilmu. .Jawaban terhadap pertanyaan kaum muslimin dari Perancis para ulama Lajnah menjawab Amalan yg kalian kerjakan yaitu membaca Al Fatihah dan shalawat Ibrahimiyah kemudian menutupnya dgn ucapan:سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلاَمٌ عَلَى المُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَTidak boleh dikerjakan ini adl bid’ah krn tidak ada tuntunannya dari Al Mushthafa shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam. .Syaikh Ibnu Baaz rahimahullahu pernah ditanya tentang sebagian orang yg berkumpul di sekitar sedekah yg akan dibagikan kepada mereka mereka meletakkan tangannya dan salah seorang berdo’a utk orang yg bersedekah sementara yg lain mengaminkan bagaimana hukumnya?Beliau menjawab Tidak sepantasnya hal ini dilakukan krn dia adl bid’ah. Adapun mendo’akan kebaikan utk orang yg bersedekah tanpa meletakkan tangan di atas harta yg disedekahkan dan tanpa berkumpul serta mengeraskan suara seperti yg diterangkan itu maka itu adl amalan yg disyari’atkan. Berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam:مَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوْفًا فَكَافِئُوْهُ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوْا مَا تُكَافِئُوْنَهُ فَادْعُوْا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوْهُ Siapa yg berbuat kebaikan kepadamu maka balaslah. Kalau kamu tidak dapatkan sesuatu untuk membalasnya maka do’akanlah kebaikan untuknya sehingga kamu melihat bahwa kamu telah membalasnya

     
  88. agung

    30 Juni 2012 at 08:09

    Kalau di daerah saya orang yang tdak tahlilan dicemooh tidak beragama. Nah!!!
    Begini yg membela tahlilan jangan mengaku ahlussunnah tapi akulah syiah-kejawen, agar tidak menyesatkan generasi penerus ummat.
    Mas mighamir tahlilan BUKAN BID’AH tapi khurafat. Seperti kita mencontoh umat Nasrani; Minggu pagi pergi ke masjid mendengarkan khutbah lalu melagukan quran atau shalawat.
    Pada zaman Rasul SAW sudah ada contoh hadith asbabun-nuzul saat orang quraish mengajak berdamai dalam hal tawwaf. Mereka bersedia bertawwaf dengan bacaan dari Rasul tetapi tata gerakannya dengan cara mereka maka turunlah surah Al-Kafiruun. Semoga menjadi Hidayah.

     
  89. Waskita Braja Saputra

    8 Juli 2012 at 01:56

    Sabda Nabi bahwa Islam itu aneh kala awal datang dan islam akn disebut pula aneh di akhir zaman.
    keterangan yang di sampaikan di atas sekarang memang sudah terjadi dan di alami, sebagai contoh budaya tahlilan dan seperangkat kegiatan di dalamnya, sungguh sebuah kesesatan yang nyata apabila di lakukan, anda jangan melihat bahwa bacaan al-qur’an yang di hadiahkan kpd si mayit adalah sebuah kebaikan, karena sebaik2nya petunjuk adalah petunjuk muhammad saw.
    bagi yang membela budaya tahlilan sebaiknya belajar lagi jgn sembarang coment

     
  90. wongtelu

    10 Juli 2012 at 23:03

    ini blogernya orang yang sombong
    menuntut ilmu dan dijalankan tanpamenghayati apa yang telah dijalankan

     
  91. mighamir

    27 Agustus 2012 at 14:00

    Definisi Sombong :

    ditulis dengan lebih baik dan terstruktur oleh Rella Mareta

    Sebenarnya yang dimaksud Allah dengan sombong itu yang seperti apa sih?

    Mengapa sombong begitu dijauhkan dari surga dan kekal di neraka?

    “Rasulullah s.a.w bersabda: ‘Tidak akan masuk ke dalam surga seseorang yang dalam hatinyaada kesombongan barang seberat debu.’ Seorang laki-laki bertanya : ‘sesungguhnya ada seseorang yang menyukai supaya bajunya bagus dan terompahnya bagus.’ Nabi menjawab: ‘Sesungguhnya Allah itu indah, Dia menyukai keindahan. Kesombongan itu ialah menolak kebenaran dan memandang rendah orang lain.’” (Shahih Muslim)

    (Yaitu) orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang. (Al mukmin:35)

    Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat,hati mereka mengingkari (keesaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yangsombong. (an nahl:22)

    “Masuklah kamu ke pintu-pintu neraka Jahanam, dan kamu kekal di dalamnya. Maka itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong”. (al mukmin:76)

    Semoga kita bukan lah orang yang sombong, yaitu orang yang menolak kebenaran yang datang kepada mereka, yang mengingkari ayat-ayat Allah (Al-Qur’an)..

    ~Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.(2:147)~

    sumber : http://andihendrapaluseri.blogspot.com/2011/03/definisi-sombong-dalam-islam.html

     
  92. Kelana Delapan Penjuru Angin

    31 Agustus 2012 at 00:26

    Saudaraku kaum Muslimin muslimat,secepat mungkin kita harus berhenti mengecam/mengharamkan/menyalahkan atas sesama saudara semuslim dimana saja berada .Bersatulah jangan bercerai berai hanya krn perbedaan amaliah.

    Maka,berhentilah kita menjadi sok pintar..sok tahu…sok paling bener…
    Maka,berhentilah secepat mungkin kita men-Justice/Menghakimi/mengharamkan,atas kelompok :

    1.Kelompok ahli ibadah yg melakukan ritual membaca Surat Yaasin/Al-Qur’an yg ditujukan utk org2 yg telah meninggal dan yg menganggap bhw tidak ada manfaat atau “DO”A nya tdk sampai”.

    2.Kelompok ahli ibadah yg melakukan ritual membaca do’a2 dlm acara “TAHLILAN” / KENDURI” yg ditujukan utk org2 yg telah meninggal dan yg menganggap bhw tidak ada manfaat atau “DO’A nya tdk sampai”.

    Karena :

    1.Sungguh,anggapan/penilaian/perkiraan yg demikian sangatlah DANGKAL

    2.Sungguh ilmu kita sangatlah sedikit utk menilai/men-JUSTICE/Menghakimi bhw hal itu adalah salah/keliru apalagi mengharamkan…
    Sungguh ,kita tdk tahu apa2…

    3.Sungguh,kita kebanyakan hanya terjebak pd pengertian2 dangkal akan makna ayat2 Al-Qur’an…yg hny kita pahami dari sisi “TEKS” nya saja tanpa mengetahui makna Rahasia Agung yg terkandung dlm ayat2 tsb.

    4.Sungguh,apakah kita merasa paling pandai dari para ulama terdahulu yg telah melakukan ritual2 ibadah,”YAASINAN,TAHLILAN,KENDURIAN..?”

    5.Sungguh,kita tdk tahu banyak ttg ilmu2 “RAHASI-NYA…KE-GAIB-AN-NYA…”

    6.Sungguh,kita hny ikut2an/membenarkan /meyakini,pemahaman2 akan hujjah sebagian org yg kita anggap pandai/ahli,tanpa ilmu pengetahuan yg dalam…

    7.Sungguh kita kebanyakan memahami/mengartikan ayat2 Al-Qur’an hny dari sisi “TEKSTUAL/TULISAN LAHIRIAHNYA/LUARNYA BELAKA”

    Maka,jika kalian masih juga bersikap laku perbuatan seperti tsb diatas,maka aku memilih utk tdk termasuk menjadi golongan2 org2 yg suka “MENJUSTICE/MENGHAKIMI/MENYALAHKAN”,trhdp mereka2 para Ulama Besar dan Jama’ah alim/mukhlis dan murni terdahulu yg melakukan ritual2 ibadah tsb….

    Maka jika masih demikian,kita sesungguhnya telah berlaku sombong thdp Kekuasan/Keagungan/kemuliaan Alloh SWT,dan Rahasia2 ilmu-Nya yg seluas samudera dunia dan langit…

    Salam Cahaya-Nya…

    (Diatas langit masih ada langit….
    Galilah ilmu sedalam2nya….jgn sempitkan Rahmat dan Karunia-Nya…)

     
  93. Mazidan

    15 September 2012 at 20:29

    Kembalikanlah ke Kitabullah (Alqur’an) dan Sunnah Rasulullah SAW.

    Perlu kita ketahui bersama bahwa berdasarkan kesepakatan kaum muslimin, agama Islam ini telah sempurna sehingga tidak perlu adanya penambahan atau pengurangan dari ajaran Islam yang telah ada.
    Marilah kita renungkan hal ini pada firman Allah Ta’ala,
    الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
    “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al Ma’idah [5] : 3)
    Seorang ahli tafsir terkemuka –Ibnu Katsir rahimahullah- berkata tentang ayat ini, “Inilah nikmat Allah ‘azza wa jalla yang tebesar bagi umat ini di mana Allah telah menyempurnakan agama mereka, sehingga mereka pun tidak lagi membutuhkan agama lain selain agama ini, juga tidak membutuhkan nabi lain selain nabi mereka Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, Allah menjadikan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penutup para nabi, dan mengutusnya kepada kalangan jin dan manusia. Maka perkara yang halal adalah yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam halalkan dan perkara yang haram adalah yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam haramkan.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, pada tafsir surat Al Ma’idah ayat 3)
    seseorang yang hendak beramal hendaklah mengetahui bahwa amalannya bisa diterima oleh Allah jika memenuhi dua syarat diterimanya amal. Kedua syarat ini telah disebutkan sekaligus dalam sebuah ayat,
    فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
    “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan Rabbnya dengan sesuatu pun.” (QS. Al Kahfi [18] : 110)
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
    “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)
    Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
    مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
    “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)
    Setiap bid’ah adalah tercela. Inilah yang masih diragukan oleh sebagian orang. Ada yang mengatakan bahwa tidak semua bid’ah itu sesat, ada pula bid’ah yang baik (bid’ah hasanah). Untuk menjawab sedikit kerancuan ini, marilah kita menyimak berbagai dalil yang menjelaskan hal ini.
    [Dalil dari As Sunnah]
    Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah matanya memerah, suaranya begitu keras, dan kelihatan begitu marah, seolah-olah beliau adalah seorang panglima yang meneriaki pasukan ‘Hati-hati dengan serangan musuh di waktu pagi dan waktu sore’. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jarak antara pengutusanku dan hari kiamat adalah bagaikan dua jari ini. [Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam berisyarat dengan jari tengah dan jari telunjuknya]. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
    “Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim no. 867)
    Dalam riwayat An Nasa’i dikatakan,
    وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ
    “Setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR. An Nasa’i no. 1578. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani di Shohih wa Dho’if Sunan An Nasa’i)
    Diriwayatkan dari Al ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Kami shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari. Kemudian beliau mendatangi kami lalu memberi nasehat yang begitu menyentuh, yang membuat air mata ini bercucuran, dan membuat hati ini bergemetar (takut).” Lalu ada yang mengatakan,
    يَا رَسُولَ اللَّهِ كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا
    “Wahai Rasulullah, sepertinya ini adalah nasehat perpisahan. Lalu apa yang engkau akan wasiatkan pada kami?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    “Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memimpin kalian adalah budak Habsyi. Karena barangsiapa yang hidup di antara kalian setelahku, maka dia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, kalian wajib berpegang pada sunnahku dan sunnah Khulafa’ur Rosyidin yang mendapatkan petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi no. 2676. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abu Daud dan Shohih wa Dho’if Sunan Tirmidzi)
    [Dalil dari Perkataan Sahabat]
    Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,
    مَا أَتَى عَلَى النَّاسِ عَامٌ إِلا أَحْدَثُوا فِيهِ بِدْعَةً، وَأَمَاتُوا فِيهِ سُنَّةً، حَتَّى تَحْيَى الْبِدَعُ، وَتَمُوتَ السُّنَنُ
    “Setiap tahun ada saja orang yang membuat bid’ah dan mematikan sunnah, sehingga yang hidup adalah bid’ah dan sunnah pun mati.” (Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 10610. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya tsiqoh/terpercaya)
    Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,
    اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ
    “Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen), janganlah membuat bid’ah. Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat.” (Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 8770. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya adalah perawi yang dipakai dalam kitab shohih)
    Itulah berbagai dalil yang menyatakan bahwa setiap bid’ah itu sesat.

    Perlu diketahui bersama bahwa sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ’sesungguhnya sejelek-jeleknya perkara adalah perkara yang diada-adakan (dalam agama, pen)’, ’setiap bid’ah adalah sesat’, dan ’setiap kesesatan adalah di neraka’ serta peringatan beliau terhadap perkara yang diada-adakan dalam agama, semua ini adalah dalil tegas dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka tidak boleh seorang pun menolak kandungan makna berbagai hadits yang mencela setiap bid’ah. Barangsiapa menentang kandungan makna hadits tersebut maka dia adalah orang yang hina. (Iqtidho’ Shirotil Mustaqim, 2/88, Ta’liq Dr. Nashir Abdul Karim Al ‘Aql)
    Tidak boleh bagi seorang pun menolak sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersifat umum yang menyatakan bahwa setiap bid’ah adalah sesat, lalu mengatakan ‘tidak semua bid’ah itu sesat’. (Iqtidho’ Shirotil Mustaqim, 2/93)
    Perlu pembaca sekalian pahami bahwa lafazh ‘kullu’ (artinya: semua) pada hadits,
    وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
    “Setiap bid’ah adalah sesat”, dan hadits semacamnya dalam bahasa Arab dikenal dengan lafazh umum.
    Asy Syatibhi mengatakan, “Para ulama memaknai hadits di atas sesuai dengan keumumannya, tidak boleh dibuat pengecualian sama sekali. Oleh karena itu, tidak ada dalam hadits tersebut yang menunjukkan ada bid’ah yang baik.” (Dinukil dari Ilmu Ushul Bida’, hal. 91, Darul Ar Royah)

    Kembali pada pokok permasalahan, bahwa apa yang ditulis oleh M. ADLOCHI tentang Hukum Tahlilan adalah benar sesuai dengan hadits-hadits shahih.

    Klasifikasi hukum dalam Islam secara umum ada 5 (lima) kalau tidak termasuk; Shahih, Rukhsoh, Bathil, Rukun, Syarat dan ‘Azimah.
    1. Wajib : Apabila dikerjakan berpahala, ditinggalkan berdosa.
    2. Sunnah/Mandub : Apabila dikerjakan berpahala, ditinggalkan tidak apa-apa.
    3. Mubah : Tidak bernilai, dikerjakan atau tidak dikerjakan tidak mempunyai nilai.
    4. Makruh : Dibenci, apabila dikerjakan dibenci, apabila ditinggalkan berpahala.
    5. Haram : Dikerjakan berdosa, ditinggalkan berpahala.

    Tahlilan dalam rangka selamatan kematian adalah ibadah, karena didalamnya ada pembacaan do’a, baca Yasin, baca sholawat, baca Al Fatikhah, maka ia termasuk ibadah. Hukum asal ibadah adalah “haram” dan “terlarang” kalau Allah dan Rasulullah tidak memerintahkan.

    Tahlilan hukumnya bukan Wajib, juga bukan Sunnah.
    Bukan termasuk perkara Wajib karena tidak ada perintah Allah dan Rasul untuk melakukan ritual tahlilan,
    juga bukan perkara Sunnah karena Rasulullah sendiri belum pernah mentahlili istri beliau, anak beliau dan para syuhada.

    Ada satu lagi yang perlu kita pahami, apakah ada ajaran dari Allah dan Rasulullah untuk membaca alqur’an secara serentak dan dipimpin oleh seseorang, saya belum menemukan dalilnya.

    Akhirnya, semoga tulisan ini bermanfaat, bila ada kesalahan mohon maaf dan koreksinya. Sampaikanlah kepada saudara-saudara kita sebagai upaya untuk memperbaiki umat Islam ini

     
  94. phahmiey

    9 Oktober 2012 at 17:05

    huhhh… super capeekk baca dari atas sampai bawah :D

    yang saya tahu nihh… rasulullah tak pernah tahlil… nhaa kita juga harus nyontoh rasullullah donk..
    tapi yang saya tahu rasululllah tidak melarang tahlil…
    agama kita sudah sempurna dari sononya,, tak perlu tambahan dan pengurangan,,, sesuai al quran aja…cari dalil yang melarang tahlil dan juga cari dalil yang menganjurkan tahlil… jangan smp ada bid’ah do antara kita,,,,
    itu yang saya tahuuu..

     
  95. Awm

    19 Oktober 2012 at 14:51

    Sebagaimana disampaikan oleh Al-Imam Muhammad bin Ali Muhammad Al-Syaukani : Kebiasaan di sebagian negara mengenai perkumpulan atau pertemuan di Masjid, rumah, di atas kubur, untuk membaca Al-Qur’an yang pahalanya dihadiahkan kepada orang yang telah meninggal dunia, tidak diragukan lagi hukumnya boleh (jaiz) jika di dalamnya tidak terdapat kemaksiatan dan kemungkaran, meskipun tidak ada penjelasan (secara dzahir) dari syari’at. Kegiatan melaksanakan perkumpulan itu pada dasarnya bukanlah sesuatu yang haram (muharram fi nafsih), apalagi jika di dalamnya diisi dengan kegiatan yang dapat menghasilkan ibadah seperti membaca Al-Qur’an atau lainnya. Dan tidaklan tercela menghadiahkan pahala membaca Al-Qur’an atau lainnya kepada orang yang telah meninggal dunia. Bahkan ada beberapa jenis bacaan yang didasarkan pada hadist shahih seperti ; Bacalah surat Yasin kepada orang mati di antara kamu. Tidak ada bedanya apakah pembacan surat Yasin tersebut dilakukan bersama-sama di dekat mayit atau di atas kuburnya, dan membaca Al-Qur’an secara keseluruhan atau sebagian, baik dilakukan di masjid atau di rumah. (Al-Rasa’il Al-Salafiyah, hal. 46)
    Selanjutnya Al-Syaukani menyampaikan :
    Para sahabat juga mengadakan perkumpulan di rumah-rumah mereka atau di dalam masjid, melagukan syair-syair, mendiskusikan hadist dan kemudian mereka makan dan minum, padahal di tengah-tengah mereka ada Nabi saw. Orang yang berpendapat bahwa melaksanakan perkumpulan yang di dalamnya tidak terdapat perbuatan-perbuatan haram adalah bid’ah, maka ia salah, karena sesungguhnya bid’ah adalah sesuatu yang dibuat-buat dalam masalah agama, sedangkan perkumpulan ini (semacam tahlil), tidak termasuk bid’ah (membuat ibadah baru). (Al-Rasa’il Al-Salafiyah, hal. 46)

    Imam Al-Syafi’i ra, berkata :
    Tentang do’a, maka sesungguhnya Allah SWT telah memerintahkan hamba-hambanya untuk berdo’a kepada-Nya, bahkan juga memerintahkan kepada Rasul-Nya. Apabila Allah SWT memperkenankan umat Islam berdo’a untuk saudaranya yang masih hidup, maka tentu diperbolehkan juga berdo’a untuk saudaranya yang telah meninggal dunia. Dan barokah do’a tersebut Insya Allah akan sampai. Sebagaimana Allah SWT Maha Kuasa memberi pahala bagi orang yang hidup, Allah juga Maha Kuasa untuk memberikan manfaatnya kepada mayit. (Diriwayatkan dari Al-Baihaqi dalam kitab Manaqib Al-Syafi’i, juz I, hal. 430)

    Syah Waliyullah Al-Dahlawi mengatakan :
    Termasuk perbuatan sunnah (untuk mendo’akan orang mati) adalah membaca surat Al-Fatihah, karena ia merupakan do’a yang paling baik dan paling luas cakupannya. Allah SWT telah mengajarkan hamba-hamba-Nya dalam kitab suci Al-Qur’an. Diantara do’a Nabi saw. yang terkenal bagi mayat adalah (do’a yang artinya) “Yaa Allah ampunilah orang yang masih hidup dan orang yang sudah mati di antara kami,… (Hujjatullah Al-Balighah, juz II, hal. 93)

    Ketika membaca surat Al-Fatihah dianjurkan didahului dengan pengkhususan, sebagaimana fatwa Sayyid Al-‘Allamah Abdullah bin Husain Balfaqih : bahwa yang lebih utama bagi orang yang membaca surat Al-Fatihah bagi seseorang adalah dengan mengucapkan ila ruhi fulan bin fulan (kepada ruh fulan bin fulan) sebagaimana tradisi yang berlaku. (Hal itu lebih utama diucapkan) karena ruh itu tetap ada sementara tubuh itu hancur. (Bughyatul Mustarsyidin hal. 98).

    Tujuh hari dalam tahlilan.
    Asal-usul istilah tujuh hari dalam tahlilan mengikuti amal yang dicontohkan sahabat Nabi saw.

    Imam Ahmad bin Hanbal ra. dalam kitab Al-Zuhd, sebagaimana yang dikutip oleh Imam Suyuthi dalam kitab Al-Hawi li Al-Fatawi :
    Hasyim bin Al-Qasim meriwayatkan kepada kami, ia berkata, Al-Asyja’i meriwayatkan kepada kami dari Sufyan, ia berkata, Imam Thawus berkata ; Orang yang meninggal dunia diuji selama tujuh hari di dalam kubur mereka, maka kemudian para kalangan salaf mensunnahkan bersedekah makanan untuk orang yang meninggal dunia selama tujuh hari itu. (Al-Hawi li Al-Fatawi, juz II, hal. 178).

    Kebiasaan memberikan sedekah makanan selama tujuh hari merupakan kebiasaan yang tetap berlaku hingga sekarang (zaman Imam Suyuthi, sekitar abad IX Hijriyah) di Makkah dan Madinah. Yang jelas, kebiasaan itu tidak pernah ditinggalkan sejak masa sahabat Nabi saw. sampai sekarang ini, dan tradisi itu diambil dari ulama salaf sejak generasi pertama (masa sahabat Nabi saw.). (Al-Hawi li Al-Fatawi, juz II, hal. 194).

    Dzikir Fida’ atau Syarwa
    Dzikir Fida’ (tebusan) didasarkan dari tuntunan sebuah hadist : Rasulullah saw. bersabda ; Barangsiapa mengucapkan lailaha illallah sejumlah 71 ribu, berarti orang tersebut telah menebus dirinya dari Allah Azza wa Jalla. Demikian pula jika hal itu dilakukan untuk orang lain. Hadist ini diriwayatkan oleh Abu Sa’id dan Aisyah ra.). (Khazinatul Asrar, hal 188).
    Alhasil membaca dzikir lailaha illallah sejumlah 71 ribu, disebut sebagai dzikir fida’ (tebusan). Oleh karena itu janganlah merisaukan soal hukumnya dzikir fida’ tersebut.
    Syarwa Kubro.
    Syarwa kubro dengan membaca surat Al-Ikhlas sebanyak 100 ribu kali kemudian dihadiahkan kepada orang yang telah meninggal dunia, didasarkan kepada hadist Nabi saw :
    Rasulullah saw. bersabda, barangsiapa yang membaca (surat Al-Ikhlas) seratus ribu kali, maka ia telah menebus dirinya kepada Allah SWT. Kemudian ada sebuah seruan dari sisi Allah SWT di langit dan bumi-Nya ; Ingatlah, sesungguhnya si fulan telah dibebaskan oleh Allah SWT dari api nereka, maka barangsiapa mempunyai tanggungan dosa kepadanya, maka menuntutlah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. (Diriwayatkan oleh Al-Bazzar dari Anas bin malik, lihat Tuhfah Al-Murid ‘Ala Jauharah Al-Tauhid, hal. 140)

    Sumber : Tahlil Dalam Perspektif Al-Qur’an dan As-Sunnah (Kajian Kitab Kuning), oleh : KH. Muhyiddin Abdusshomad. dan Dokumen Penting Tentang Masalah Agama Islam, oleh : KH. Manshur Shaleh.

     
  96. Kangsukma

    22 Desember 2012 at 06:10

    Saya setuju dengan Kelana Delapan Penjuru Angin. Ini masih soal tahlil, padahal ada lho dari kita yang tidak melakukan sholat (itu lebih penting karena masuk dalam rukun Islam), tapi kita pun juga tidak boleh menjudge dia bahwa dia itu tidak muslim sejati, munafik, atau apalah karena ada rahasia di balik rahasia

     
  97. hamba Alloh

    24 Januari 2013 at 10:59

    SAYA DO’AKAN MUDAH2 MUDAHAN ANDA DAN KELUARGA ANDA MASUK NERAKA, AMIN.

     
  98. Coker

    3 Maret 2013 at 08:22

    Nah kan bingung kalau ditanya nabi pernah tahlilan kagak ?

    Itu prtanyaan mengejek..ane yakin..acara Tahlillan sangat disenangi Rasulullah SAW..yg gak mau ya gak apa-apa, tapi jangan bilang Acara Tahlilan itu Bid’ah..Pahami dulu Bid’ah itu ada berapa macam..
    Kalau Mighamir menyatakan Tahlilan itu Bid’ah, Tolong dong sampaikan ke MUI.
    Kalau juga menyatakan Tahlilan adalah Bid’ah/sesat, berarti ente tidak pantas pakek Jaringan Internet..apa lagi digunakan untuk menghujat/ memvonis Tahlilan itu Bid’ah/sesat, karena Internet ini Bid’ah yg tidak pernah ada dizaman Rasulullah SAW dan sahabat..dan juga Adzan dengan Pengeras suara/MIC juga Bid’ah/sesat..gimana toh..?

     
  99. Coker

    3 Maret 2013 at 08:23

    Tahlilan merupakan sebuah majelis yang berisi dzikir-dzikir yang masyru’, do’a, shalawat serta pembacaan al-Qur’an yang bertujuan untuk merahmati mayyit dengan pahala yang dihadiahkan kepada mayyit. Sangatlah tidak mungkin apabila Imam kita yakni Imam asy-Syafi’i mengharamkan tahlilan, tidak mungkin Imam asy-Syafi’i mengharamkan do’a, dzikir, shalawat dan bacaan al-Qur’an. Imam kita sangat bijaksana, ahli hadits dan luas ilmunya, penolong sunnah Nabi. Jadi, tidak akan mudah mengharamkan sesuatu yang tidak diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

    Sebagian orang telah mengutip dan memahaminya secara membabi buta terkait ucapan Imam asy-Syafi’ rahimahullah yang terdapat dalam kitab al-Umm berikut ini :
    وأكره المأتم، وهي الجماعة، وإن لم يكن لهم بكاء فإن ذلك يجدد الحزن، ويكلف المؤنة مع ما مضى فيه من الأثر
    “aku menghukumi makruh Ma’tam, dan yakni sebuah kelompok, dan walaupun tidak ada tangisan bagi mereka sebab sesungguhnya itu memperbaharui kesedihan dan membebani biayai beserta apa yang pernah terjadi”.
    Dari kutipan ini, sama sekali tidak ada ucapan Imam asy-Syafi’i yang mengharamkan tahlilan. Jadi, darimana isu-isu yang mengharamkan tahlilan dengan berdalil ucapan Imam asy-Syafi’i ? Mana ucapan Imam asy-Syafi’i yang mengharamkan mendo’akan muslim yang meninggal dunia, mana ucapan Imam asy-Syafi’i yang mengharamkan menghadiahkan bacaan al-Qur’an untuk muslim yang meninggal dunia, mana pula ucapan Imam asy-Syafi’i yang mengharamkan semua itu yang dilakukan dikediaman ahlul mayyit ? Jelas, ini salah satu bentuk untuk memecah belah umat Islam terutama untuk menghancurkan pondasi madzhab Syafi’i yang memang paling banyak di anut kaum Muslimin termasuk paling banyak di anut oleh Dzurriyah Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam.

    Pertama, sudah jelas bahwa Imam asy-Syafi’i memakruhkan (bukan mengharamkan) hal diatas, artinya adalah apabila dikerjakan tidak berdosa dan apabila ditinggalkan akan mendapat pahala. Apa yang dimakruhkan ?

    Kedua, al-Ma’tam berasal dari kata “atama – ya’timu” yang bermakna ‘apabila dikumpulkan antara dua perkara”. Ma’tam asalnya adalah setiap perkumpulan (perhimpunan) dari laki-laki atau perempuan baik dalam hal kesedihan maupun kegembiraan. Kemudian pakar-pakar lughah, hanya mengkhususkan pada perhimpunan perempuan pada orang mati. al-Jauhari mengatakan ; ma’tam menurut orang arab adalah perempuan-perempuan yang berkumpul (berhimpun) dalam hal kebaikan dan keburukan. Ibnu Barri ; tidak bisa di cegah agar ma’tam dipahami dengan makna wanita yang meratap, kesedihan, ratapan dan tangisan sebab sesungguhnya wanita karena untuk itu mereka berkumpul, dan kesedihan itulah yang juga membuat mereka berkumpul. [1]

    Ketiga, Imam asy-Syafi’i menghukumi makruh atas illat yang beliau sebutkan sendiri yakni “yujaddidul huzn wa yukalliful mu’nah (memperbaharui kesedihan dan membebani biaya)”, apabila tidak ada illat maka hukum makruh itu juga tidak ada, sebab kaidah ushul fiqh mengatakan : “al-‘Illatu tadillu ‘alaal Hukmi yakni illat itu menunjukkan atas hukum”.

    Jadi, sekali lagi tidak ada pengharaman Tahlilan oleh Imam asy-Syafifi rahimahullah.

     
  100. Coker

    3 Maret 2013 at 08:30

    Hakikat Tahlilan (Kenduri Arwah – Selamatan Kematian)

    Pada hakikatnya majelis tahlil atau tahlilan adalah hanya nama atau sebutan untuk sebuah acara di dalam berdzikir dan berdoa atau bermunajat bersama. Yaitu berkumpulnya sejumlah orang untuk berdoa atau bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’alaa dengan cara membaca kalimat-kalimat thayyibah seperti tahmid, takbir, tahlil, tasbih, Asma’ul husna, shalawat dan lain-lain. Maka sangat jelas bahwa majelis tahlil sama dengan majelis dzikir, hanya istilah atau namanya saja yang berbeda namun hakikatnya sama. (Tahlil artinya adalah lafadh Laa ilaaha illallah) Lalu bagaimana hukumnya mengadakan acara tahlilan atau dzikir dan berdoa bersama yang berkaitan dengan acara kematian untuk mendoakan dan memberikan hadiah pahala kepada orang yang telah meninggal dunia ? Dan apakah hal itu bermanfaat atau tersampaikan bagi si mayyit ?

    Menghadiahkan Fatihah, atau Yaasiin, atau dzikir, Tahlil, atau shadaqah, atau Qadha puasanya dan lain lain, itu semua sampai kepada Mayyit, dengan Nash yang Jelas dalam Shahih Muslim hadits no.1149, bahwa “seorang wanita bersedekah untuk Ibunya yang telah wafat dan diperbolehkan oleh Rasul shallallahu ‘alayhi wa sallam”, dan adapula riwayat Shahihain Bukhari dan Muslim bahwa “seorang sahabat menghajikan untuk Ibunya yang telah wafat”, dan Rasulullah SAW pun menghadiahkan Sembelihan Beliau SAW saat Idul Adha untuk dirinya dan untuk ummatnya, “Wahai Allah terimalah sembelihan ini dari Muhammad dan keluarga Muhammad dan dari Ummat Muhammad” (Shahih Muslim hadits no.1967).

    Dan hal ini (pengiriman amal untuk mayyit itu sampai kepada mayyit) merupakan Jumhur (kesepakatan) Ulama seluruh madzhab dan tak ada yang memungkirinya apalagi mengharamkannya, dan perselisihan pendapat hanya terdapat pada madzhab Imam Syafi’i, bila si pembaca tak mengucapkan lafadz : “Kuhadiahkan”, atau wahai Allah kuhadiahkan sedekah ini, atau dzikir ini, atau ayat ini..”, bila hal ini tidak disebutkan maka sebagian Ulama Syafi’iy mengatakan pahalanya tak sampai.

    Jadi tak satupun ulama ikhtilaf dalam sampai atau tidaknya pengiriman amal untuk mayiit, tapi berikhtilaf adalah pada Lafadznya. Demikian pula Ibn Taimiyyah yang menyebutkan 21 hujjah (dua puluh satu dalil) tentang Intifa’ min ‘amalilghair (mendapat manfaat dari amal selainnya).

    Mengenai ayat :

    “dan bahwasanya tiada bagi manusia selain apa yang telah diusahakannya,” (QS. an-Najm : 39)
    Maka Ibn Abbas radliyallahu ‘anh menyatakan bahwa ayat ini telah mansukh dengan ayat,

    “Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka… (QS. ath-Thuur 52 : 21)”.
    Mengenai hadits yang mengatakan bahwa bila wafat keturunan adam, maka terputuslah amalnya terkecuali 3 (tiga), shadaqah Jariyah, Ilmu yang bermanfaat, dan anaknya yang berdoa untuknya, maka orang orang lain yang mengirim amal, dzikir dan lain-lain untuknya ini jelas jelas bukanlah amal perbuatan si mayyit, karena Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam menjelaskan terputusnya amal si mayyit, bukan amal orang lain yang dihadiahkan untuk si mayyit, dan juga sebagai hujjah bahwa Allah memerintahkan di dalam Al-Qur’an untuk mendoakan orang yang telah wafat :

    “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Hasyr 59 ; 10)
    Mengenai rangkuman tahlilan itu, tak satupun Ulama dan Imam Imam yang memungkirinya, siapa pula yang memungkiri muslimin berkumpul dan berdzikir?, hanya syaitan yang tak suka dengan dzikir.

    Didalam acara Tahlil itu terdapat ucapan Laa ilaah illallah, tasbih, shalawat, ayat qur’an, dirangkai sedemikian rupa dalam satu paket dengan tujuan agar semua orang awam bisa mengikutinya dengan mudah, ini sama saja dengan merangkum Al Qur’an dalam disket atau CD, lalu ditambah pula bila ingin ayat Fulani, silahkan Klik awal ayat, bila anda ingin ayat azab, klik a, ayat rahmat klik b, maka ini semua dibuat buat untuk mempermudah muslimin terutama yang awam. Atau dikumpulkannya hadits Bukhari, Muslim, dan Kutubussittah, Alqur’an dengan Tafsir Baghawi, Jalalain dan Ilmu Musthalah, Nahwu dll, dalam sebuah CD atau disket, atau sekumpulan kitab, bila mereka melarangnya maka mana dalilnya ?,

    Munculkan satu dalil yang mengharamkan acara Tahlil?, (acara berkumpulnya muslimin untuk mendoakan yang wafat) tidak di Al Qur’an, tidak pula di Hadits, tidak pula di Qaul Sahabat, tidak pula di kalam Imamulmadzahib, hanya mereka saja yang mengada ada dari kesempitan pemahamannya.

    Mengenai 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari, atau bahkan tiap hari, tak ada dalil yang melarangnya, itu adalah Bid’ah hasanah yang sudah diperbolehkan oleh Rasulullah saw, justru kita perlu bertanya, ajaran muslimkah mereka yang melarang orang mengucapkan Laa ilaaha illallah?, siapa yang alergi dengan suara Laa ilaaha illallah kalau bukan syaitan dan pengikutnya ?, siapa yang membatasi orang mengucapkan Laa ilaaha illallah?, muslimkah?, semoga Allah memberi hidayah pada muslimin, tak ada larangan untuk menyebut Laa ilaaha illallah, tak pula ada larangan untuk melarang yang berdzikir pada hari ke 40, hari ke 100 atau kapanpun, pelarangan atas hal ini adalah kemungkaran yang nyata.

    Bila hal ini dikatakan merupakan adat orang hindu, maka bagaimana dengan computer, handphone, mikrofon, dan lainnya yang merupakan adat orang kafir, bahkan mimbar yang ada di masjid masjid pun adalah adat istiadat gereja, namun selama hal itu bermanfaat dan tak melanggar syariah maka boleh boleh saja mengikutinya, sebagaimana Rasul saw meniru adat yahudi yang berpuasa pada hari 10 muharram, bahwa Rasul saw menemukan orang yahudi puasa dihari 10 muharram karena mereka tasyakkur atas selamatnya Musa as, dan Rasul saw bersabda : Kami lebih berhak dari kalian atas Musa as, lalu beliau saw memerintahkan muslimin agar berpuasa pula” (HR Shahih Bukhari hadits no.3726, 3727).

    Sebagaimana pula diriwayatkan bahwa Imam Masjid Quba di zaman Nabi saw, selalu membaca surat Al Ikhlas pada setiap kali membaca fatihah, maka setelah fatihah maka ia membaca AL Ikhlas, lalu surat lainnya, dan ia tak mau meninggalkan surat al ikhlas setiap rakaatnya, ia jadikan Al Ikhlas sama dengan Fatihah hingga selalu berdampingan disetiap rakaat, maka orang mengadukannya pada Rasul saw, dan ia
    ditanya oleh Rasul saw : Mengapa kau melakukan hal itu?, maka ia menjawab : Aku mencintai surat Al Ikhlas. Maka Rasul saw bersabda : Cintamu pada surat Al ikhlas akan membuatmu masuk sorga” (Shahih Bukhari).

    Maka tentunya orang itu tak melakukan hal tersebut dari ajaran Rasul saw, ia membuat buatnya sendiri karena cintanya pada surat Al Ikhlas, maka Rasul shallalahu ‘alayhi wa sallam tak melarangnya bahkan memujinya.

    Kita bisa melihat bagaimana para Huffadh (Huffadh adalah Jamak dari Al hafidh, yaitu ahli hadits yang telah hafal 100.000 hadits (seratus ribu) hadits berikut sanad dan hukum matannya) dan para Imam imam mengirim hadiah pada Rasul shallallahu ‘alayhi wa sallam :

    • Berkata Imam al-Hafidh al-Muhaddits Ali bin al-Muwaffiq rahimahullah : “aku 60 kali melaksanakan haji dengan berjalan kaki, dan kuhadiahkan pahala dari itu 30 haji untuk Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam”.
    • Berkata al-Imam al-Hafidh al-Muhaddits Abul Abbas Muhammad bin Ishaq Atssaqafiy Assiraaj : “aku mengikuti Ali bin Almuwaffiq, aku lakukan 7X haji yang pahalanya untuk Rasulullah saw dan aku menyembelih Qurban 12.000 ekor untuk Rasulullah saw, dan aku khatamkan 12.000 kali khatam Alqur’an untuk Rasulullah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, dan kujadikan seluruh amalku untuk Rasulullah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam”.
    • Ia adalah murid dari Imam Bukhari rahimahullah, dan ia menyimpan 70 ribu masalah yang dijawab oleh Imam Malik, beliau lahir pada 218 H dan wafat pada 313 H.
    • Berkata Al Imam Al Hafidh Abu Ishaq Almuzakkiy, aku mengikuti Abul Abbas dan aku haji pula 7X untuk rasulullah saw, dan aku mengkhatamkan Alqur’an 700 kali khatam untuk Rasulullah saw. (Tarikh Baghdad Juz 12 hal 111).

    Wabillahittaufiq..

     
  101. susilo

    8 April 2013 at 08:19

    ha ha ha……. kalau mau bukti, kamu boleh mati dulu nanti kukirimi doa, kalau doaku nggak sampai ya balik lagi kedunia

     
  102. Husein

    18 April 2013 at 09:30

    Dasar… Mampus lo gak di doain dalam kuburmu… orag gila yang gak percaya tahlil… ati dulu deh.. baru coment tahlil bego…

     
  103. Aisyah putri

    2 Mei 2013 at 22:44

    Menerut saya sihh.. Saya setuju apa yg di katakan oleh penulis naskah ini. Coz bila mana ada seseorang yg tahlilan mayit itu sama saja dia meratapi si mayit. Kan kita sudah tahu klw meratapi mayat itu tdk di bolehkan dlm islam. Dan setau saya dulu Nabi Muhammad SAW melarang seseorng untuk datang kemakam krn takut ada yg syirik or musyrik. Tpi hali itu di perbolehkan lgi oleh Nabi Muhammad SAW karna kita dteng ke makam or ziarah hanya untuk melihat saja tdk boleh mendoakan dan baca2 gitu deh coz kita diperbolehkan untuk memingat kita akan mati juga dan di kubur seperti itu. Do’a , yasinan bisa koqq tanpa hrus bareng2.. Emng ya doa untuk mayat nunggu keluarga kumpul ya ?. Gakan.. Kita bisa doa sendiri di rumah or di mesjid ga perlu kumpul2 dan ga perlu dimakam :)

     
  104. Siti Sofiah

    26 Mei 2013 at 18:53

    dari yg tahlilan yg ramei2 smpai yg diam harus bgaimna krena takut di bilang bid ah.klao kesipulanku itu tergantung ilmu kita dri mana mengambilnya krn smua tergantung niat.hanya Alloh yg tahu.benar orang mati smua amalan udah terputus kecuali 3 perkara tadi krn orng mati memang udah ga bisa berbuat apa2.tp knpa orang mati jg bisa disiksa krna ada yg menangis mraratapinya?dan knpa orang yg sdah mati bisa di hajiin dn di umrohin ama yg hdp dgn niat untuk si mayit dn knapa jg kta di suruh mendoakan saudara muslim yg lain walau udah meninggal dan knpa jga kta slwat kpda nabi2.apakah ada hal2 yg tertentu yg bisa pad si mayit?…….klo memang bisa?……klo menurut aku asalkan jln nya sama pasti jga bisa.

     
  105. mighamir

    22 Juni 2013 at 09:10

    Masih banyak yang tidak mampu memahami hakikat sebuah ibadah

     
  106. mighamir

    22 Juni 2013 at 09:14

    Sebagian kalangan mengemukakan alasan ketika suatu ibadah yang tidak ada dalilnya disanggah dengan celotehan, “Kan asalnya boleh kita beribadah, kenapa dilarang?” Sebenarnya orang yang mengemukakan semacam ini tidak paham akan kaedah yang digariskan oleh para ulama bahwa hukum asal suatu amalan ibadah adalah haram sampai adanya dalil. Berbeda dengan perkara duniawi (seperti HP, FB, internet), maka hukum asalnya itu boleh sampai ada dalil yang mengharamkan. Jadi, kedua kaedah ini tidak boleh dicampuradukkan. Sehingga bagi yang membuat suatu amalan tanpa tuntunan, bisa kita tanyakan, “Mana dalil yang memerintahkan?”

    Ada kaedah fikih yang cukup ma’ruf di kalangan para ulama,

    الأصل في العبادات التحريم

    “Hukum asal ibadah adalah haram (sampai adanya dalil).”

    Guru kami, Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy Syatsri -semoga Allah menjaga dan memberkahi umur beliau- berkata, “(Dengan kaedah di atas) tidak boleh seseorang beribadah kepada Allah dengan suatu ibadah kecuali jika ada dalil dari syari’at yang menunjukkan ibadah tersebut diperintahkan. Sehingga tidak boleh bagi kita membuat-buat suatu ibadah baru dengan maksud beribadah pada Allah dengannya. Bisa jadi ibadah yang direka-reka itu murni baru atau sudah ada tetapi dibuatlah tata cara yang baru yang tidak dituntunkan dalam Islam, atau bisa jadi ibadah tersebut dikhususkan pada waktu dan tempat tertentu. Ini semua tidak dituntunkan dan diharamkan.” (Syarh Al Manzhumah As Sa’diyah fil Qowa’idil Fiqhiyyah, hal. 90).

    Dalil Kaedah

    Dalil yang menerangkan kaedah di atas adalah dalil-dalil yang menerangkan tercelanya perbuatan bid’ah. Bid’ah adalah amalan yang tidak dituntunkan dalam Islam, yang tidak ada pendukung dalil. Dan bid’ah yang tercela adalah dalam perkara agama, bukan dalam urusan dunia.

    Di antara dalil kaedah adalah firman Allah Ta’ala,

    أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ

    “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Al Ahzab: 21).

    Juga didukung dengan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

    “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718). Dalam riwayat lain disebutkan,

    مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

    “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718).

    Begitu pula dalam hadits Al ‘Irbadh bin Sariyah disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

    “Hati-hatilah dengan perkara baru dalam agama. Karena setiap perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Daud no. 4607, Tirmidzi no. 2676, An Nasa-i no. 46. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

    Hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa kita baru bisa melaksanakan suatu ibadah jika ada dalilnya, serta tidak boleh kita merekayasa suatu ibadah tanpa ada perintah dari Allah dan Rasul-Nya.

     
  107. mighamir

    22 Juni 2013 at 09:15

    Perkataan Ulama

    Ulama Syafi’i berkata mengenai kaedah yang kita kaji saat ini,

    اَلْأَصْلَ فِي اَلْعِبَادَةِ اَلتَّوَقُّف

    “Hukum asal ibadah adalah tawaqquf (diam sampai datang dalil).” Perkataan di atas disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (5: 43). Ibnu Hajar adalah di antara ulama besar Syafi’i yang jadi rujukan. Perkataan Ibnu Hajar tersebut menunjukkan bahwa jika tidak ada dalil, maka suatu amalan tidak boleh dilakukan. Itu artinya asal ibadah adalah haram sampai ada dalil yang memerintahkan. Di tempat lain, Ibnu Hajar rahimahullah juga berkata,

    أَنَّ التَّقْرِير فِي الْعِبَادَة إِنَّمَا يُؤْخَذ عَنْ تَوْقِيف

    “Penetapan ibadah diambil dari tawqif (adanya dalil)” (Fathul Bari, 2: 80).

    Ibnu Daqiq Al ‘Ied, salah seorang ulama besar Syafi’i juga berkata,

    لِأَنَّ الْغَالِبَ عَلَى الْعِبَادَاتِ التَّعَبُّدُ ، وَمَأْخَذُهَا التَّوْقِيفُ

    “Umumnya ibadah adalah ta’abbud (beribadah pada Allah). Dan patokannya adalah dengan melihat dalil”. Kaedah ini disebutkan oleh beliau dalam kitab Ihkamul Ahkam Syarh ‘Umdatil Ahkam.

    Dalam buku ulama Syafi’iyah lainnya, yaitu kitab Ghoyatul Bayan Syarh Zubd Ibnu Ruslan disebutkan,

    الأصل في العبادات التوقيف

    “Hukum asal ibadah adalah tawqif (menunggu sampai adanya dalil).”

    Ibnu Muflih berkata dalam Al Adabu Asy Syar’iyah,

    أَنَّ الْأَعْمَالَ الدِّينِيَّةَ لَا يَجُوزُ أَنْ يُتَّخَذَ شَيْءٌ سَبَبًا إلَّا أَنْ تَكُونَ مَشْرُوعَةً فَإِنَّ الْعِبَادَاتِ مَبْنَاهَا عَلَى التَّوْقِيفِ

    “Sesungguhnya amal diniyah (amal ibadah) tidak boleh dijadikan sebagai sebab kecuali jika telah disyari’atkan karena standar ibadah boleh dilakukan sampai ada dalil.”

    Imam Ahmad dan para fuqoha ahli hadits -Imam Syafi’i termasuk di dalamnya- berkata,

    إنَّ الْأَصْلَ فِي الْعِبَادَاتِ التَّوْقِيفُ

    “Hukum asal ibadah adalah tauqif (menunggu sampai adanya dalil)” (Dinukil dari Majmu’ Al Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 29: 17)

    Ibnu Taimiyah lebih memperjelas kaedah untuk membedakan ibadah dan non-ibadah. Beliau rahimahullah berkata,

    إنَّ الْأَصْلَ فِي الْعِبَادَاتِ التَّوْقِيفُ فَلَا يُشْرَعُ مِنْهَا إلَّا مَا شَرَعَهُ اللَّهُ تَعَالَى . وَإِلَّا دَخَلْنَا فِي مَعْنَى قَوْلِهِ : { أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ } . وَالْعَادَاتُ الْأَصْلُ فِيهَا الْعَفْوُ فَلَا يَحْظُرُ مِنْهَا إلَّا مَا حَرَّمَهُ وَإِلَّا دَخَلْنَا فِي مَعْنَى قَوْلِهِ : { قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ لَكُمْ مِنْ رِزْقٍ فَجَعَلْتُمْ مِنْهُ حَرَامًا وَحَلَالًا } وَلِهَذَا ذَمَّ اللَّهُ الْمُشْرِكِينَ الَّذِينَ شَرَعُوا مِنْ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ وَحَرَّمُوا مَا لَمْ يُحَرِّمْهُ

    “Hukum asal ibadah adalah tawqifiyah (dilaksanakan jika ada dalil). Ibadah tidaklah diperintahkan sampai ada perintah dari Allah. Jika tidak, maka termasuk dalam firman Allah (yang artinya), “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy Syura: 21). Sedangkan perkara adat (non-ibadah), hukum asalnya adalah dimaafkan, maka tidaklah ada larangan untuk dilakukan sampai datang dalil larangan. Jika tidak, maka termasuk dalam firman Allah (yang artinya), “Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang rezki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal” (QS. Yunus: 59). Oleh karena itu, Allah mencela orang-orang musyrik yang membuat syari’at yang tidak diizinkan oleh Allah dan mengharamkan yang tidak diharamkan. (Majmu’ Al Fatawa, 29: 17).

     
  108. mighamir

    22 Juni 2013 at 09:18

    Contoh Penerapan Kaedah

    – Beribadah dengan tepuk tangan dan musik dalam rangka taqorrub pada Allah seperti yang dilakukan kalangan sufi.

    – Perayaan tahun baru Islam dan Maulid Nabi.

    – Shalat tasbih karena didukung oleh hadits dho’if[1].

    Demikian contoh-contoh yang disampaikan oleh guru kami, Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy Syatsri hafizhohullah dalam Syarh Al Manzhumah As Sa’diyah, hal. 91.

    Tambahan Bid’ah dalam Ibadah

    Kadang amalan tanpa tuntunan (alias: bid’ah) adalah hanya sekedar tambahan dari ibadah yang asli. Apakah tambahan ini membatalkan amalan yang asli?

    Di sini ada dua rincian:

    1- Jika tambahan tersebut bersambung (muttashilah) dengan ibadah yang asli, ketika ini, ibadah asli ikut rusak.

    Contoh: Jika seseorang melakukan shalat Zhuhur lima raka’at (dengan sengaja), maka keseluruhan shalatnya batal. Dalam kondisi ini, tambahan raka’at tadi bersambung dengan raka’at yang asli (yaitu empat raka’at).

    2- Jika tambahan tersembut terpisah (munfashilah). Maka ketika itu, ibadah asli tidak rusak (batal).

    Contoh: Jika seseorang berwudhu’ dan mengusap anggota wudhunya (dengan sengaja) sebanyak empat kali-empat kali. Kali keempat di situ dihukumi bid’ah namun tidak merusak usapan tiga kali sebelumnya. Alasannya, karena usapan pertama sampai ketiga dituntunkan sedangkan keempat itu tambahan (tidak ada asalnya), sehingga dianggap terpisah.

    Lihat keterangan akan hal ini dalam Syarh Al Manzhumah As Sa’diyah fil Qowa’idil Fiqhiyyah, hal. 92 oleh guru kami, Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy Syatsri hafizhohullah.

    Tidak Tepat!

    Tidak tepat dan terasa aneh jika dalam masalah ibadah, ada yang berujar, “Kan tidak ada dalil yang melarang? Gitu saja kok repot …”. Maka cukup kami sanggah bahwa hadits ‘Aisyah sudah sebagai dalil yang melarang untuk membuat ibadah tanpa tuntunan,

    مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

    “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718). Hadits ini sudah jelas menunjukkan bahwa kita harus berhenti sampai ada dalil, baru kita boleh melaksanakan suatu ibadah. Jika ada yang membuat suatu ibadah tanpa dalil, maka kita bisa larang dengan hadits ini dan itu sudah cukup tanpa mesti menunggu dalil khusus. Karena perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu jaami’ul kalim, maksudnya adalah singkat namun syarat makna. Jadi dengan kalimat pendek saja sudah bisa menolak berbagai amalan tanpa tuntunan, tanpa mesti dirinci satu per satu.

    Murid Imam Nawawi, Ibnu ‘Atthor rahimahullah menjelaskan mengenai hadits di atas, “Para ulama menganggap perbuatan bid’ah yang tidak pernah diajarkan dalam Islam yang direkayasa oleh orang yang tidak berilmu, di mana amalan tersebut adalah sesuatu yang tidak ada landasan (alias: tidak berdalil), maka sudah sepantasnya hal ini diingkari. Pelaku bid’ah cukup disanggah dengan hadits yang shahih dan tegas ini karena perbuatan bid’ah itu mencacati ibadah.” (Lihat Syarh Al Arba’in An Nawawiyah atau dikenal pula dengan ‘Mukhtashor An Nawawi’, hal. 72)

    Sehingga bagi yang melakukan amalan tanpa tuntunan, malah kita tanya, “Mana dalil yang memerintahkan untuk melakukan ibadah tersebut?” Jangan dibalik tanya, “Mana dalil yang mengharamkan?” Jika ia bertanya seperti pertanyaan kedua, ini jelas tidak paham kaedah yang digariskan oleh Al Qur’an dan As Sunnah, juga tidak paham perkataan ulama.

    Kaedah yang kita kaji saat ini menunjukkan bagaimana Islam betul-betul menjaga syari’at, tidak dirusak oleh kejahilan dan kebid’ahan.

    Hanya Allah yang memberikan petunjuk ke jalan penuh hidayah.

    Suatu ketika, Sa’id Ibnul Musayyib rahimahullah melihat seseorang yang shalat lebih dari 2 raka’at setelah terbitnya fajar. Orang tersebut memperbanyak ruku’ dan sujud. Kemudian beliau melarang orang tersebut meneruskan sholatnya. Orang tersebut pun berkata, “Hai Abu Muhammad (panggilan Sa’id Ibnul Musayyib-pen)! Apakah Allah akan menyiksa aku karena sholatku?” Beliau menjawab, “Tidak, akan tetapi Allah akan menyiksamu karena kamu menyelisihi sunnah!”

     

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: